Prisma

Teknologi Tepat Guna bagi Industri Pedesaan

Gagasan untuk mengembangkan teknologi menengah atau teknologi tepat guna—termasuk di dalamnya untuk diterapkan di bidang industri—sebenarnya memang bukan masalah baru, tetapi dewasa ini telah memperolehan aksentuasi baru sebagai refleksi dari pengalaman-pengalaman pembangunan Dunia Ketiga selama tahun 1950-an dan berulang kembali pada tahun 1960-an. Bahkan di Indonesia, pengalaman tentang pemilihan teknologi ini dan umpan balik dari padanya baru muncul menjelang pertengahan 1970-an setelah merasakan akibat-akibat yang nyata dari penerapan strategi Revolusi Hijau di bidang pertanian dan pola pembangunan industri yang diwarnai oleh gejala-gejala berkembangnya industri substitusi impor yang padat modal di daerah-daerah perkotaan, sejak tahun 1967-1968.1

Perkembangan ekonomi di Indonesia selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini, sebenarnya masih merupakan kelanjutan dari pengaruh alam pemikiran yang berkembang pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an yang dapat disebut sebagai “Era Model Pertumbuhan Ekonomi Harrod-Domar”.2 Teori ekonomi yang pada mulanya diperuntukkan buat menganalisa gejala perkembangan ekonomi negara-negara Barat maju ini, kemudian dicoba untuk diterapkan guna membangun perekonomian kawasan negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika dan juga di Amerika Latin. Dalam rumpun teori pertumbuhan ekonomi yang mengejar kenaikan produksi (GDP) melalui peningkatan produktivitas sebagai jalan untuk mencapai perbaikan standar kehidupan yang diukur dengan pendapatan nasional (GNP) dan penghasilan per kapita ini, Rostow umpamanya telah berbicara mengenai tahap-tahap pertumbuhan ekonomi dan syarat-syarat bagaimana negara-negara miskin dapat mencapai tahap yang memungkinkan untuk lepas-landas (take-off) dan mengalami pertumbuhan ekonomi yang terus menerus. Demikian pula Kuznets dalam permasalahan ini menjelaskan tentang terjadinya proses transformasi struktural di mana suatu pertumbuhan ekonomi akan membawa pergeseran susunan ekonomi produksi dan kesempatan kerja dari sektor primer yang makin kecil perannya ke sektor sekunder dan tersier yang makin besar sumbangannya, baik terhadap GDP maupun dalam penyerapannya terhadap tenagakerja.3

Sasaran utama dari strategi pertumbuhan ekonomi adalah untuk meningkatkan percepatan pertambahan output dalam suatu perekonomian dari waktu ke waktu melalui penaikan tingkat pembentukan modal. Tingkat pertumbuhan disajikan sebagai fungsi dari rasio tabungan/pendapatan dibagi dengan rasio pertambahan modal/output. Menurut formula ini, maka tingkat pertumbuhan bisa dinaikkan dengan dua cara, pertama, melalui peningkatan bagian dari pendapatan nasional yang ditabung, dan kedua, dengan menurunkan rasio modal/output yang berarti peningkatan daya hasil dari modal melalui penggunaan teknologi yang efisien. Dalam teori Harrod-Domar ini, faktor modal fisik secara implisit maupun eksplisit dinilai sebagai satu-satunya sumber yang langka, setidak-tidaknya yang paling langka di antara sumber-sumber yang ada.4 Padahal, modal dianggap sebagai faktor yang terpenting dan tergawat. Oleh sebab itu, maka dalam strategi GDP/GNP ini, tekanan yang amat kuat diarahkan pada upaya mobilisasi tabungan dan penanaman modal.


1 Pengaruh-pengaruh Revolusi Hijau terhadap produksi di satu pihak dan kesempatan kerja di pedesaan di lain pihak, di berbagai negara Asia yang berkaitan dengan penggunaan teknologi baru-moderen, dilaporkan oleh Bank Pembangunan Asia dalam Asian Agricultural Survey 1976. Baca juga artikel Zubeida Manzoor Ahmad “The Social and Economic Implication of the Green Revolution in Asia”, International Labour Review, Vol. 105, No. 1 Januari, 1972. Tentang kasus Indonesia, baca Benjamin White, “Population, Involution and Employment in Rural Java”, dalam majalah Development and Change, no. 7/1976. Ingrid. Palmer “Rural Java in Indonesia: With Special Reference to Java” ILO, Jenewa, 1976, dan juga William L. Collier “Food Problems, Unemployment and the Green Revolution in Rural Java”, Prisma edisi Inggeris no. 9, Maret, 1978.

2 Baca W. I. M. Poli, “Pandangan Marx, Rostow, dan Myrdal tentang Pembangunan: “Kebutuhan akan Teori Pembangunan yang Baru”, makalah tanggal 20 Oktober, 1974, halaman 8.

3 Simon Kuznet, Pertumbuhan Ekonomi Modern: Tingkat Struktur, dan Penyebaran, Yale University Press, 1973.

4 Interpretasi C. P. Kindleberger & Bruce Herrick dalam, Pembangunan Ekonomi, Edisi Ketiga, (Tokyo: Mc Graw-Hill. Kogakusha Ltd., 1977), dalam bab Theory of Economic Growth, khususnya tentang Harrod-Domar Model, hal. 46-47, dan bab “Modal Fisik“, tentang “Peran Modal” hal. 80.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan