Permainan Catur versus Permainan Go
Dalam trend globalisasi pada umumnya, mitra kerja dari berbagai bangsa semakin lama semakin banyak berinteraksi dan bekerja sama, terutama dalam perusahaan-perusahaan Joint-Venture. Karena itu, dimensi kultur harus diperhitungkan bukan sebagai dimensi yang statis, melainkan suatu variabel interaksi yang dinamis dan harus dikelola oleh kedua belah pihak. Untuk mengilustrasikan efek dari budaya dalam organisasi internasional, maka artikel Isabelle L’Hermitte ini dikembangkan sebagai contoh interaksi antara bangsa Indonesia dengan bangsa asing atau lebih diutamakan Prancis. Analogi dengan menggunakan catur dan permainan Go dipakai sebagai pedoman dalam menjelaskan masalah-masalah yang muncul dalam interaksi antarbudaya dan perusahaan.
Hingga 1970-an, sebagian besar model manajemen pada intinya bersumber pada pengetahuan dan pengalaman Amerika. Hipotesis yang digunakan adalah bahwa perilaku kerja dimana pun di dunia, dalam konteks formal perusahaan, pada dasarnya adalah universal. Namun kemudian, dengan adanya globalisasi ekonomi, para manajer harus bekerja sama dengan orang-orang asing dalam berbagai konteks antara lain: sosial, politik dan budaya. Kondisi ini secara umum akan mempengaruhi nilai-nilai, sikap dan perilaku individu; budaya juga mempengaruhi mereka dalam bekerja. Analisis atas dimensi budaya memberikan pengaruh pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi dalam berbagai bangsa. Di Indonesia, deregulasi terhadap penanaman modal asing telah meningkatkan jumlah joint venture antara pengusaha lokal dengan mitra asing, dengan budayanya masing-masing. Apa konsekuensi pembauran budaya semacam itu dalam lingkungan bisnis, dan bagaimana manajemen perusahaan dapat mengatasinya?