Ciri paling menonjol kebudayaan Indonesia masa kini adalah kebhinnekaan kelompok sosial dan budaya yang merupakan hasil perjuangan terhadap mekanisme penunggalan yang dilakukan oleh feodalisme, kolonialisme, modernisme dan otoriterisme. Untuk ke depan apakah masih ada kebebasan dalam kebhinnekaan budaya di tengah arus gempuran sistem kapitalis dunia? Beberapa masyarakat dunia sekarang barangkali dapat dijadikan contoh bagaimana keberhasilan mereka melawan dominasi sistem dan budaya massa kapitalis. Tetapi evaluasi perlawanan terhadap budaya massa dominan selayaknya tetap tidak melupakan faktor-faktor keberhasilan industrialisasi, tradisi hak-asasi manusia, la conscience possible warganegara dan penolakan pada dogmatisme.
Ketika memotret kebudayaan Indonesia masa kini, kita lantas berhadapan dengan ciri-cirinya yang paling menonjol yaitu kebhinnekaan berbagai kelompok sosial dan budaya, di samping keinginan untuk tetap memelihara jati-dirinya, kendati pembauran telah terjadi di sana-sini selama perjalanan waktu dan sejarah hidup berbangsa. Misalnya, arus penyeragaman lewat unifikasi di bidang pendidikan melalui pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kemudian, tanpa mengurangi hormat kita atas usaha-usaha menyatukan bangsa, dalam kenyataannya untunglah masih tersisa berbagai penggunaan bahasa daerah dan sekurang-kurangnya 5 agama yang diakui resmi oleh pemerintah. Kebhinnekaan bahasa, budaya dan agama ini, sedikitnya dapat menggambarkan sejarah perlawanan, hasrat dan pengalaman hidup sosial sejumlah besar manusia Indonesia yang jesteru ingin tetap mempertahankan hak budaya yang berciri kebhinnekaan, dalam sistem politik dominan manapun. Dengan kata lain, kebhinnekaan/toleransi budaya dan agama adalah hasil perjuangan manusia Indonesia terhadap sejarah mekanisme penunggalan masyarakat, yang di dalam proses produksi dan reproduksi masyarakat Nusantara dilakukan melalui mesin sistem dominan yaitu: feodalisme, kolonialisme, modernisme dan otoriterisme.
Pertanyaannya, masih adakah kebebasan untuk mempertahankan kebhinnekaan budaya kita dalam dunia yang makin kecil dan transparan serta lagi-lagi harus berhadapan dengan sistem yang sangat dominan, tertutup dan sangat terorganisasi, yang tersohor dengan sebutan sistem kapitalis dunia?
Budaya Populer, Budaya Massa yang Dominan
Sejak zaman dahulu, manusia selalu hidup berkelompok sehingga Robinson Crusoe mungkin hanya ada di alam fiksi. Masyarakat terkecil disebut keluarga, kemudian dapat disebut berurut sesuai jumlah kelompoknya: klan, desa, suku, daerah dan negara. Tata-cara hidup bermasyarakat juga sudah sangat tua. Contoh terkenal code Hammurabi yang sering dianggap sebagai yang tertua (1730 S.M), yang prasasti peninggalannya masih dapat dilihat di museum Louvre, Paris. Puncak peradaban Babylon ini mengandung 282 aturan yang antara lain berisi hukum kriminal, hukum keluarga (status istri, hak waris, dan lain-lain), hukum hak milik dan hukum pertukaran barang-barang yang sangat mendorong usaha perdagangan. Dalam bidang sosial masyarakat waktu itu kita mengenal tiga kelas, yaitu manusia bebas, manusia pekerja (terikat) dan budak.
Ternyata kehidupan berkelompok (keluarga, klan, suku, dan seterusnya) sejak jaman dahulu selalu memiliki visi tentang: hidup, mati, wanita, badan, upacara, pesta, kasta, pembagian kerja, perkawinan dan lain-lain aspek kehidupan. Visi/konsep kehidupan ini biasanya menjadi bagian kehidupan itu sendiri, dipatuhi dan dipraktekkan dalam kehidupan nyata dari hari kehari. Kehidupan dengan segala visi dan aturan/tata caranya, yang menjamin kepentingan/memberikan keuntungan hidup bersama tersebut, oleh para cerdik cendekia biasa disebut sebagai budaya populer. Budaya populer boleh dikatakan telah diterima sebagai tradisi pada keluarga, klan, suku dan bentuknya amat beragam tergantung pada sejarah jangka panjang masyarakat itu.
Evolusi kehidupan kemasyarakatan moderen, dengan bentuk institusi kemasyarakatan moderen, pada dasarnya adalah organisasi moderen yang makin lama makin sempurna mengikat segenap aspek kehidupan. Di sisi lain dari evolusi kehidupan masyarakat tersebut, yang pada dasarnya adalah organisasi kekuasaan, telah mengubah kehidupan budaya masyarakat perdesaan dan perkotaan/metropolitan, menjadi makin seragam dan “universal” (termasuk agama besar dan ideologi). Dalam sosiologi dikenal sebagai mimétisme, padanan kata Indonesianya: penyeragaman massal dalam kehidupan budaya, di mana sebagian besar penduduk bertingkah laku seragam. Dengan kata lain, mekanisme kekuasaan dan “nilai-nilai universal” ini, secara bertahap meniadakan berbagai budaya populer. Budaya moderen yang kemudian menggantikan dalam skala internasional serta sangat terorganisasi, dikenal sebagai budaya massa.
Budaya massa memiliki sifat universal yang tidak lagi memenuhi kepentingan kelompok khusus. Ia tidak selalu kompatibel dengan budaya populer, yang memiliki spesifikasi tertentu, sesuai dengan situasi dan kondisi yang membentuknya. Selain itu, budaya massa lebih banyak didukung oleh kaum terpelajar dan birokrasi institusi moderen (kaum elite), sedangkan budaya populer lebih hidup pada institusi tradisional. Pada budaya massa, kita bertemu dengan kehidupan satu masyarakat spectacle, yang bukan hanya lahir akibat tirani televisi, tetapi ia jesteru adalah seluruh sistem ekonomi, sosial dan politik kapitalisme moderen yang dibangun berdasarkan transformasi individu sebagai penonton pasif berbagai pergerakan dan perubahan yang terlihat menonjol. Dalam société du spectacle ini, semua anggotanya hanya tinggal bengong, pasif menonton kegiatan keseharian mereka yang disuguhkan oleh televisi.
Sistem tadi telah memisahkan dan mengucilkan setiap individu, jesteru ketika mereka berada di dalam kelompok/masyarakat yang spectacle. Ketika kita mengacu pada spectacle sebagai sesuatu yang meriah, ramai dan sesuatu tontonan, maka filsuf revolusioner Perancis yang mati muda, Guy Debord, melihat bahwa tontonan moderen tadi ibarat nyanyian hiruk-pikuk tapi tidak ada yang bernyanyi, seperti Illiade (cerita kepahlawanan Yunani tentang dewa Homère, berisi 24 nyanyian terutama episode perang Troya atau Illion, juga tentang Achilles dan khususnya tentang pertengkaran perihal konsep perang) beserta orang-orang dan senjatanya, kendati toh memperlihatkan kemeriahan dan kegairahan mereka. Kepasifan tadi menyebabkan kepentingan masyarakat setempat tidak lagi ditentukan oleh masyarakat itu sendiri, melainkan oleh pusat kekuasaan (métropole). Misalnya, kebutuhan dan kepentingan masyarakat pegunungan Cartenz (Irian Jaya) tidak lagi ditentukan oleh penduduk setempat melainkan oleh kepentingan kekuasaan politik-ekonomi di New York, London, Paris atau Tokyo, antara lain via Freeport. Budaya massa tidak saja melenyapkan budaya populer melainkan mengganti kepentingan nyata dengan kepentingan semu, yang sebenarnya bukan miliknya, melainkan kepentingan kekuasaan yang jauh di belahan bumi lain.