Bagaimana Prospek Ekonomi 1995?*
Optimisme terhadap perkembangan ekonomi Indonesia 1995 tidak saja didasarkan tendensi kemantapan pertumbuhan ekonomi nasional 1994, tetapi juga membaiknya pertumbuhan ekonomi dunia yang berdampak positif terhadap ekonomi Indonesia. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7% pada tahun 1995, meskipun sebenarnya bisa lebih tinggi lagi. Meskipun demikian pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga mempunyai risiko yang tinggi pula. Suhu perekonomian bisa memanas dan neraca pembayaran dapat memburuk. Sebaiknya pertumbuhan ekonomi yang tinggi disertai stabilitas ekonomi dan moneter yang mantap.
Tahun 1994 mencatat dua peristiwa internasional penting yang akan mempunyai dampak yang jauh serta mendasar bagi perekonomian dunia dan bagi perekonomian Indonesia sendiri di tahun-tahun mendatang. Perundingan Putaran Uruguay yang telah dimulai sejak tahun 1986, setelah melewati berbagai hambatan dan negosiasi yang cukup alot, telah dapat diselesaikan dengan baik dengan ditandatanganinya kesepakatan di Marakesh, Maroko. Sementara itu, pertemuan informal pemimpin-pemimpin ekonomi APEC telah berhasil merumuskan Deklarasi Bogor yang memperkuat pelaksanaan perjanjian Putaran Uruguay tersebut, terutama pelaksanaannya di kawasan Asia-Pasifik. Dalam deklarasi tersebut antara lain disepakati bahwa mulai tahun 2020 negara-negara berkembang di kawasan ini sepakat untuk menghapus semua hambatan perdagangan menuju perdagangan dan investasi dunia yang bebas dan terbuka.
Di dalam negeri, tahun 1994 juga menandai satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, yaitu tahun pertama pelaksanaan Repelita VI, yang sekaligus merupakan tahun pertama pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang tahap kedua (PJP II). Dalam PJP II, bangsa Indonesia bertekad untuk melanjutkan, memperluas dan memperdalam pembangunan nasional yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Repelita VI antara lain menargetkan penghasilan per kapita Indonesia yang meningkat menjadi sekitar US$ 1.000, tingkat kemiskinan yang menurun secara berarti, serta perbaikan penting dalam derajat kesehatan rakyat dan mutu pendidikan. Kesemuanya itu dilaksanakan dengan tetap memelihara kemantapan stabilitas nasional, termasuk stabilitas ekonomi dan stabilitas moneter. Sasaran-sasaran tersebut mempunyai arti simbolis dan operasional yang penting bagi langkah kita di tahun mendatang.
Perkembangan Ekonomi 1994
Kalau diamati perkembangan dalam satu tahun terakhir, perekonomian Indonesia secara umum mencatat kinerja yang cukup menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, laju inflasi masih tetap terkendali, defisit transaksi berjalan tetap dalam batas-batas yang aman, dan cadangan devisa cukup mantap.
Beberapa perkembangan positif lain juga dapat dicatat. Tahun 1994 dunia usaha lebih aktif go international. Penjualan saham dan obligasi perusahaan-perusahaan nasional di bursa luar negeri meningkat. Sementara itu, penjualan saham Indosat di luar negeri berhasil dengan baik, dan Pemerintah melakukan pembayaran kembali yang dipercepat atas sebagian dari hutang luar negerinya yang bersyarat tidak lunak sehingga meringankan beban di tahun-tahun mendatang. Kebijaksanaan ini sekaligus makin memantapkan kepercayaan luar negeri terhadap kemampuan dan kesungguhan Indonesia dalam mengelola hutangnya.
Tahun 1994 juga mencatat kemajuan yang berarti dalam proses konsolidasi perbankan nasional. Kinerja perbankan nasional secara umum menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri, bahwa perekonomian Indonesia dan secara khusus industri perbankan, masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dunia perbankan masih terus mendapat sorotan dari masyarakat. Masalah kredit macet, bank bermasalah, kolusi, ekspor fiktif hingga sinyalemen praktek mark-up sering menjadi berita utama di media massa. Pemantapan stabilitas ekonomi dan moneter, serta konsolidasi perbankan nasional merupakan “pekerjaan rumah” yang harus terus ditekuni dalam tahun 1995, dan barangkali juga untuk beberapa waktu sesudah itu.
Berdasarkan indikator-indikator yang ada, dalam tahun 1994 ekonomi Indonesia tumbuh cukup pesat, yaitu sekitar 7%. Laju pertumbuhan ini jauh lebih tinggi daripada sasaran tahun pertama Repelita VI yang ditetapkan 6%. Sementara itu laju inflasi mencapai 9,24%, masih melampaui sasaran yang ditetapkan dalam Repelita VI yaitu sebesar rata-rata 5% per tahun, namun sedikit lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Dalam pada itu, defisit transaksi berjalan, walaupun sedikit meningkat daripada tahun sebelumnya, masih dapat terkendali dalam batas-batas yang wajar yaitu sekitar 2% dari PDB. Posisi cadangan devisa cukup mantap dan bahkan masih meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sehingga cukup untuk membiayai sekitar 5 bulan impor nonmigas. Faktor-faktor apa yang ada di balik kinerja ekonomi makro yang cukup baik ini?
* Disarikan dari sambutan Gubernur Bank Indonesia pada Pertemuan Tahunan Perbankan, Jakarta, 19 Januari 1995.