Prisma

Telaah | Ekonomi Republikan di Tengah Ekonomi Mondial

Esai ini mengetengahkan beberapa aktivitas institusi nasional dan internasional dalam konteks sistem internasional yang berbeda-beda. Dalam usia lebih dari setengah abad, Republik Indonesia harus memperhatikan langkah dan diharapkan tetap memperjuangkan sistem ekonomi seperti yang diharapkan oleh UUD 1945. Untuk membahas perjalanan masyarakat moderen Indonesia, penulis membaginya ke dalam tema institusi ekonomi dan dualisme kehidupan ekonomi mondial, institusi politik otoriter dan liberalisme, globalisasi keuangan-kekuasaan dan pembangunan, kesadaran ilmu sosial dan demokrasi serta diakhiri kesimpulan tentang kesejahteraan umum.

Kita berhadapan dengan ciri paling menonjol yakni kebhinnekaan berbagai kelompok sosial di samping keinginan untuk tetap memelihara jati-diri, bila berbicara mengenai manusia Indonesia. Kebhinnekaan bahasa, budaya, dan agama, sedikitnya dapat menggambarkan hasrat dan pengalaman hidup sosial sejumlah besar manusia Indonesia yang justru ingin tetap mempertahankan hak budaya berciri kebhinnekaan. Dengan kata lain, kebhinnekaan adalah hasil perjuangan manusia Indonesia terhadap mekanisme penunggalan masyarakat yang di antaranya berbentuk produksi dan reproduksi masyarakat Nusantara melalui mesin feodalisme, kolonialisme, modernisme, dan otoriterisme.

Sebelum kedatangan saudagar Arab dan pedagang beserta aparat kolonial Eropa, Indonesia telah menjalin perdagangan dengan dunia luar melalui pelayar handalnya dan saudagar India. Hubungan ini kemudian menjadi hubungan sejarah karena saudagar India juga menyebarkan agama. Peradaban India secara garis besar telah mengubah masyarakat Nusantara dari masyarakat pengembara menjadi masyarakat yang kehidupan sosialnya relatif terorganisasi dalam bentuk kerajaan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan