Prisma

Telaah | Hubungan antara Pendidikan, Ekonomi, dan Pengangguran Tenaga Terdidik

Banyak pihak menganggap pengangguran tenaga kerja terdidik hanya dipengaruhi oleh pendidikan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Kajian ini menganalisis kaitan fungsional antara pendidikan, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran tenaga kerja terdidik di Indonesia. Berdasarkan analisis, ditemukan: terjadinya gejala ketimpangan struktural antara struktur angkatan kerja dan lapangan kerja menurut pendidikan; pendidikan profesional yang belum berkembang pesat; dan menguatnya persepsi kredensialisme pendidikan dalam masyarakat.

Pengantar

Akhir-akhir ini banyak lontaran kritik yang ditujukan terhadap sistem pendidikan. Di antaranya, pembangunan pendidikan dengan penekanan pada perluasan kesempatan belajar cenderung menyebabkan meningkatnya pengangguran tenaga kerja terdidik daripada bertambahnya tenaga produktif yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Kritik ini bukannya tanpa dasar; data Sensus Penduduk tahun 1990 memperlihatkan kecenderungan yang menarik bahwa proporsi jumlah tenaga penganggur lulusan pendidikan yang lebih tinggi ternyata lebih besar dibandingkan dengan proporsi penganggur lulusan pendidikan yang lebih rendah.

Namun demikian, kritik tersebut belum sepenuhnya benar karena cara berpikir yang digunakan dalam menafsirkan data Sensus Penduduk 1990 tersebut cenderung “apriori” terhadap sistem pendidikan. Pendidikan dianggap seolah-olah variabel tunggal yang dapat menjelaskan terjadinya pengangguran. Cara berpikir ini cukup berbahaya; bukan hanya berakibat penyudutan yang tidak perlu terhadap sistem pendidikan, tetapi juga akan menjadikan pengangguran sebagai masalah yang selamanya tak dapat dipecahkan.

Berdasarkan keadaan tersebut, penjelasan secara lebih konseptional terhadap terjadinya pengangguran tenaga terdidik sangat diperlukan. Penjelasan seperti ini diharapkan mampu meletakkan persoalan pada proporsi sebenarnya, yaitu hakekat dan fungsi sesungguhnya yang dimiliki sistem pendidikan dalam mempersiapkan tenaga kerja. Hal ini sekaligus mencegah munculnya penjelasan dengan menggunakan “common sense” semata-mata.

Tulisan ini bermaksud mengamati kaitan antara kesempatan pendidikan yang lebih luas dengan timbulnya masalah ketenagakerjaan. Tulisan ini bermaksud memberikan tafsiran terhadap masalah kaitan antara pendidikan dengan gejala pengangguran di Indonesia, berdasarkan cara berfikir berbeda dengan tafsiran yang selama ini dilakukan. Dengan demikian diharapkan kebijakan yang digunakan dalam menangani masalah pengangguran tenaga terdidik memiliki dampak sesuai dengan harapan.

Apakah pendidikan formal merupakan faktor penentu dalam menunjang pertumbuhan ekonomi masih merupakan pertanyaan yang belum dapat dijawab tuntas oleh penelitian yang sudah dilakukan. Peranan pendidikan di dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM), memang tidak perlu dipersoalkan. Perlu ditemukan jawaban apakah pengembangan SDM selalu harus dilakukan melalui pendidikan formal. Program pendidikan formal yang bagaimana yang mampu mengembangkan SDM agar menjadi modal dasar pembangunan yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat relevan dengan isu kebijakan pendidikan yang sedang disoroti dalam kritik pendidikan.

Titik singgung antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi ialah produktivitas tenaga kerja, dengan asumsi bahwa semakin tinggi mutu pendidikan, semakin tinggi produktivitas tenaga kerja, semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Anggapan ini diperoleh dari teori yang dinamakan teori Human Capital. Teori ini menerangkan bahwa pendidikan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi karena pendidikan berperan di dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Teori ini menganggap pertumbuhan masyarakat ditentukan oleh produktivitas perorangan. Jika setiap orang memiliki penghasilan yang lebih tinggi karena pendidikannya lebih tinggi, maka pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat ditunjang. Teori human capital menganggap pendidikan formal merupakan suatu investasi, baik bagi individu maupun bagi masyarakat.

Namun demikian, sering dijumpai kenyataan empiris bahwa asumsi-asumsi yang digunakan teori tersebut tidak selalu benar. Misalnya, studi-studi yang dilakukan oleh Peter M. Blau dan Otis Dudley Duncan di Amerika Serikat,1 Mark Blaug di Inggeris,2 Ernesto Schiefelbein dan Joseph Farrel di Chili,3 dan Williams Cummings di Indonesia,4 ternyata menunjukkan kecenderungan yang tidak berbeda antara negara maju dan negara berkembang; pendidikan formal hanya memberikan peranan yang sangat kecil terhadap status pekerjaan dan penghasilan lulusan dibandingkan dengan faktor luar sekolah yang tak terhingga jumlah dan jenisnya.


1 Peter M. Blau dan Otis Dudley Duncan, The American Occupational Structure (New York: The Free Press, 1967).

2 Mark Blaug, Education and The Employment Problem in Developing Countries (Geneva: ILO, 1974).

3 Ernesto Schiefelbein dan Joseph Farrell, Eight of Their Life; Through Schooling to Labor Market in Chilli (Ottawa, Canada: IDRC, 1982).

4 Williams Cummings, Studi Pendidikan dan Tenaga Kerja Pada Beberapa Industri Besar di Indonesia (Jakarta: Pusat Penelitian BP3K Jakarta, 1980).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan