Dampaknya terhadap Kota yang Lebih Kecil*
Selama ini kota besar seperti Jakarta dipilih para migran sebagai tempat utama untuk “mengadu nasib.” Kegagalan mereka untuk berusaha di samping “ditutupnya” kota ini bagi para migran memaksa mereka melakukan sirkulasi ke kota-kota yang lebih kecil, di antaranya ke Wonosobo dan Cilacap. Namun jelas, migran sirkuler yang pernah melakukan sirkulasi di kota Jakarta cenderung dapat meningkatkan status pekerjaan di kota-kota lain. Kegagalan di Jakarta justeru merupakan pemicu derasnya arus mobilitas penduduk dari desa. Pada masa mendatang tidak hanya Jakarta yang menarik sebagai daerah tujuan utama migran, tetapi kota-kota sedang dan kota-kota kecil pun makin memiliki nilai kefaedahan yang tinggi bagi migran sirkuler.
Jakarta tetap merupakan incaran migran dari desa, karena di ibukota peredaran uang begitu besar sehingga merupakan lahan yang subur bagi mereka. Selain itu, banyaknya warga perdesaan yang tinggal di Jakarta juga ikut menarik minat warga desa.1 Namun, dengan terputusnya saluran migrasi2 (channels of migration) akhir-akhir ini, hal itu berdampak pada menggesernya arus migrasi dari desa ke kota-kota yang lebih kecil.3
* Tulisan ini merupakan analisis lanjutan dari penelitian disertasi berjudul “Studi tentang Perilaku Migran Sirkuler Sektor Informal di Kota Wonosobo dan Cilacap serta Dampaknya terhadap Intensitas Migrasi Desa-Kota.” Analisis lain dari penelitian ini juga telah dimuat dalam PRRISMA 10, Oktober 1995 dengan judul “Model Lain Transformasi Sektoral di Indonesia.”
1 Keberadaan migran terdahulu, terutama migran menetap, memegang peranan terhadap pemberian informasi tentang pekerjaan dan permukiman serta penyesuaian hidup di kota bagi calon migran di desa; lihat, I.B. Mantra, Population Movement in Wet Rice Communities: a Case Study of Two Dukub in Yogyakarta Special Region (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1981). Moir dalam penelitiannya tentang sektor informal di Jakarta mengungkapkan bahwa tiga orang yang bekerja di sektor informal berstatus sebagai migran menetap; lihat, Hazel Moir, Jakarta Informal Sector (Jakarta: LEKNAS-LIPI, 1978).
2 Menurut Mabogunje, penyusun teori migrasi yang dikenal sebagai General Systems Theory, salah satu komponen sistem migrasi adalah saluran migrasi (channels of migration) yang meliputi tiga ubahan, yaitu jarak, beaya, dan arah migrasi; lihat, A.L. Mabogunje, “System Approach to a Theory of Rural-Urban Migration,” dalam Geography Analysis, 1970, 2:1-18. Penelitian di Indonesia terungkap bahwa arah migrasi tersebut banyak ditentukan oleh keberadaan warga pedesaan, baik sanak-famili maupun teman yang telah ada di kota; lihat, Mantra, op.cit.
3 Sekalipun gagal di kota, mereka jarang migrasi kembali ke desa. Di Indonesia, migrasi kembali ini sangat langka, karena sebagian besar penduduk bermukim di daerah pedesaan dengan pekerjaan di sektor pertanian yang produktivitasnya rendah; lihat, J.C. Breman, The Informal Sector in Research: Theory and Practice (Rotterdam: Erasmus University, 1980). Menurut Sensus Penduduk 1990, tercatat 69,1 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan. Amin mengamati kenyataan bahwa sekalipun tiba di kota kebanyakan dari mereka hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, tetapi proses mobilitas desa-kota terus berlangsung; lihat, Amin dalam T.G. McGee, “Rural-Urban Mobility in South and Southeast Asia. Different Formulations … Different Answers?” dalam Abu-Lughod and Richard Hay Jr. (eds.), Third World Urbanization (London: Longman, 1977), hal. 196-212.