Prisma

Telaah | Komunitas Diskursif dalam Puisi Indonesia*

Karya sastra tidak lahir dalam suatu kevakuman melainkan muncul dari sebuah ruang diskursif. Di Indonesia kelahiran karya-karya sastra dapat ditelusur jauh sejak masa Balai Pustaka, Poejangga Baroe sampai perkembangannya pada masa sekarang. Bagaimana perkembangan sastra Indonesia di masa depan? Apakah akan terjadi rujuk antara kelahiran karya sastra dengan kehidupan sosial politik yang melingkarinya?

Sebagaimana banyak hasil seni, sastra tidak lahir dalam sebuah kevakuman. Ada sebuah ruang diskursif yang terbenta-ng manakala sebuah karya sastra dilahirkan. Poejangga Baroe lahir dalam ruang diskursif kebangkitan Eropa dengan semangat renaissance sebagai narasi besar yang menjadi hypogram-nya. Ia diperhadapkan dengan ironinya sendiri, ketika fajar akal budi yang berpiyar dari Eropa yang bangkit dan menerpa kaum terdidik Bumi Putera via Politik Etik berhadapan dengan kesadaran sebagai bangsa terjajah. Sastrawan Poejangga Baroe yang tercerahkan semangat Aufklarung tidak dapat dengan segera mengolah tema-tema humanisme romantik tentang manusia sebagai sentrum yang girang mengolah kehidupan dan akal budi karena diperhadapkan dengan kenyataan pahit: penjajahan! Di sisi lain, sastrawan Poejangga Baroe juga berhadapan dengan realitas budaya asal, yakni hamparan budaya lokal tradisional, yang sebagaimana penjajahan, tidak kondusif bagi ide-ide humanisme romantik. Tak bisa lain, kemerdekaan dari penjajahan dengan sendirinya menjadi sebuah condition sine qua non bagi kemungkinan ide humanisme romantik ditegakkan. Nasionalisme, sebuah ide yang juga marak dalam ruang diskursus era Poejangga Baroe, segera menjadi ide utama karena dalam dirinya ia memuat dua hal: kemerdekaan dari penjajah kolonial, dan kemerdekaan dari kungkungan tradisionalitas. Tidak mengherankan jika Sutan Takdir Alisjahbana (STA), sosok didikan renaissance in optima performa, kemudian melahirkan “Semboyan yang Tegas” tentang Indonesia sebagai sebuah entitas baru,1 lepas dari semua akar masa lalu yang disebutnya pre-Indonesia.

Dalam ruang semacam itu, tidaklah mengherankan jika khasanah puisi Indonesia mulai era Balai Pustaka hingga Poejangga Baroe dipenuhi karya bertema nasionalisme dan pertentangan keras terhadap tradisi. Namun, dalam lingkungan tematik semacam itu, Poejangga Baru, juga Sastrawan Balai Pustaka, menuliskan karya-karya sastranya dalam konvensi sastrawi kaum Romantik Barat, via Angkatan 80-an Belanda dengan tradisi syair (dan hikayat pada prosa) sebagai latar belakang. Dalam kaitan ini, pergulatan bentuk sastrawi mencapai hasil yang memukau pada sajak-sajak Amir Hamzah (dan novel Belenggu Armijn Pane, bagi prosa). Kedua sastrawan – Amir Hamzah dan Armijn Pane – yang di Indonesia berhasil meneguhkan konvensi sastrawinya dengan kukuh itu, justeru memunculkan paradoks dan ironi bagi tema-tema yang mengemuka dalam jalinan diskursus nonsastrawi di masyarakat saat itu. Keduanya, dengan hasil-hasil sastranya, tiba pada penggambaran kerentanan manusia yang hendak dijadikan sentrum hal ihwal.

Dalam latar semacam itu, lahirlah Chairil Anwar yang menjadikan semua jalinan wacana yang mengemuka pada era sebelumnya sebagai hypogram2. Chairil Anwar, yang dikenal sebagai pemberontak yang “menguak Takdir” itu, sebenarnya di satu sisi menerima dan meneruskan cakrawala budaya STA yang mengadap ke Barat, dan sisi lain menerima dan meneruskan paradoks serta ironi posisi manusia sebagi sentrum dalam simpulan tematik Amir Hamzah dan Armijn, sekalipun dalam landasan estetiknya menyimpangi dan menjungkirbalikkan konvensi sastrawi Amir Hamzah. Ternyata, dalam landasan estetik perpuisian Indonesia, konvensi Chairil Anwar dalam sastra pada gilirannya tegak dan kukuh untuk waktu yang lama.

Sastrawan yang lahir kemudian dan mendapati Indonesia sebagai entitas baru yang terpisah dari pre-Indonesia, ternyata tak bisa setegar STA membunuh masa lalu.3 Bagaimana terihat melalui sosok Tono dalam Belenggu Armijn Pane serta aku liris dalam banyak sajak-sajak Amir Hamzah, masa lalu tetap merupakan bagian yang kukuh mengakar dalam kesadaran banyak orang. Hal ini terlihat jelas pada karya-karya Rendra, Ajip Rosidi, Nugroho Notosusanto, Ramadhan K.H. – untuk menyebut beberapa nama – yang menggali kembali “kehangatan” tradisi lokal untuk mengolah ruang diskursus sastrawi Indonesia Moderen yang dingin dan sepi.4 Di masa itu, retakan-retakan bagi konvensi Chairil mulai mengemuka. Bahasa sederhana Rendra dan Ajip, serta posisi manusia yang tak lagi sendiri melainkan “bersama (hamparan masyarakat) masa lalunya” mulai mengisi khasanah sastra Indonesia.5


* Makalah ini pernah dibawakan dalam Asean Writer Conference/Workshop (Poetry) di Manila dengan judul “The Discourse Community of Indonesia Poetry” pada 27 Januari sampai 3 Februari 1995.

1 Judul makalah S. T. Alisjahbana dalam polemik kebudayaan. Makalah ini bersama makalah pembicara lain dikumpulkan Achdiat K. Miharja (1954) dalam buku Polemik Kebudayaan (1954).

2 Proses intertekstualitas Chairil Anwar dengan Amir Hamzah dibahas dengan bagus oleh Teeuw dalam “Estetik, Semiotik dan Sejarah Sastra.” Lihat A. Teeuw, Membaca dan Menilai Sastra, (Jakarta: Gramedia, 1991), hal.59.

3 Masa lalu yang “Pre-Indonesia” dan hendak ditinggalkan itu ternyata tak mati-mati. Pada tahun 60-an hal ini masih mengemuka sebagaimana terlihat pada kegelisahan Goenawan Mohammad sebagai berikut: “Djakarta, sejak tahun 1960 itu adalah tempat yang keras dan asing, di mana seorang anak dusun (artinya seorang anak dari wilayah pre-Indonesia -ARS), bisa menggosok-gosokkan punggungnya hingga tebal dan kukuh, dan menggosok-gosokkannya hingga beberapa sisa masa lalu yang melekat seperti daki itu kikis, makin pudar.” Lihat Goenawan Mohammad, Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1972), hal.10.

4 Lihat tulisan Ajip Rosidi, Kupankah Kesusastraan Indonesia Lahir?, (Jakarta: Bhratara, 1964), hal. 29-51; lihat juga kecenderungan Rendra yang mencoba mengangkat bahasa pasar dan mengolah estetika Jawa seperti suluk dalam wayang serta lagu dolanan. Hal ini dikemukakan Rendra dalam Mempertimbangkan Tradisi (Jakarta: Gramedia, 1983), hal. 63; juga kumpulan sajak Ramadhan K.H., Priangan Si Jelita. Di sana Ramadhan K.H. melukiskan rindu-dendam pada Priangan sang tanah kelahiran. Bandingkan dengan misalnya luapan rindu-dendam Muhamad Yamin pada Sumatera Raya.

5 Bandingkan pahitnya revolusi pada novel-novel pengarang 45-an seperti Mochtar Lubis dengan novelnya Jalan Tak Ada Ujung, Pramudya Ananta Toer dalam Keluarga Gerilya dan Perburuan serta sinisme cerpen-cerpen Idrus dalam Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma – khususnya “Surabaya” – dengan kisah revolusi bernada “cerah” dan romantik dalam cerpen-cerpen pengarang generasi kemudian seperti Nugroho Notosusanto dalam Hujan Kepagian atau Trisnojuwono dalam Lelaki dan Mesiu.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan