Masalah keterbatasan sumber pembiayaan pendidikan termasuk salah satu persoalan pelik yang dihadapi Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Meskipun alokasi anggaran pendidikan masih terbilang kecil, namun baik persentase maupun angka absolut terhadap total anggaran nasional besaran anggaran pendidikan tampak meningkat dari tahun ke tahun. Kelangkaan dana untuk membiayai pendidikan ternyata dapat ditanggulangi oleh dukungan swasta dan masyarakat dengan menyediakan kesempatan berbagai jenjang pendidikan.
Pendidikan sebagai bagian penting dari proses pembangunan nasional merupakan salah satu sumber penentu pertumbuhan ekonomi negara. Salah satu investasi terpenting yang dapat dilakukan oleh negara adalah penyediaan kesempatan pendidikan yang merata bagi setiap warga negara. Investasi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dasar di sejumlah negara dinilai memiliki dampak yang paling besar terhadap kemajuan pada negara-negara industri baru. Dalam rangka mendorong agar setiap warga negara memberikan sumbangan terhadap pembangunan nasional secara efektif (mangklus) haruslah diyakini bahwa setiap anak Indonesia memiliki akses terhadap pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan. Faktor-faktor yang memberikan pengaruh terhadap mutu dan relevansi pendidikan adalah besarnya anggaran pendidikan yang memungkinkan suatu sistem pendidikan dapat berkembang; pemberian gaji guru dan pegawai yang memadai; penyediaan buku dan sarana pendidikan yang memadai serta sarana pendidikan seperti laboratorium yang mampu mendorong penguasaan ilmu-ilmu murni dan terapan secara cepat.
Dewasa ini besarnya anggaran pendidikan menjadi salah satu sorotan utama berbagai pembicaraan, baik di media massa, seminar, maupun dalam masyarakat luas. Di antaranya dipersoalkan apakah pemerintah benar-benar menempatkan investasi SDM pada prioritas teratas sebagaimana amanat GBHN 1993. Namun demikian tidak jarang juga yang menghawatirkan apakah kenaikan anggaran pendidikan secara tiba-tiba tidak akan melahirkan eksses yang tidak diinginkan, terutama dilihat dari efisiensi penggunaannya.
Beberapa pihak juga menekankan bahwa anggaran pendidikan bukan merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pengembangan kualitas SDM. Anggaran pendidikan yang besar sudah pasti bermanfaat bagi percepatan upaya peningkatan mutu pendidikan jika dapat didayagunakan secara efisien (sangkil). Tulisan ini membahas apakah investasi pendidikan yang sudah tergolong kecil ini benar-benar telah didayagunakan secara sangkil (efisien). Kesangkilan itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu kesangkilan secara internal dan eksternal. Namun demikian tulisan ini tidak akan membahas masalah kesangkilan, melainkan gambaran perkiraan deskriptif mengenai aspek pembiayaan pendidikan berdasarkan berbagai sumber dan studi yang dilakukan sampai saat ini.
Sebagai komponen dari barang dan jasa umum (public goods), karakteristik investasi pada sektor pendidikan pada dasarnya tidak berbeda dengan investasi pada infrastruktur umum lainnya seperti jalan, air bersih, drainase, telefon dan lain-lain. Investor pendidikan melibatkan semua pihak yaitu pemerintah, masyarakat umum (rumah tangga) dan pihak swasta pada berbagai jenjang pendidikan dari mulai pendidikan prasekolah, dasar, menengah, sampai dengan pendidikan tinggi. Karena itu pula penyelenggara pendidikan juga bervariasi, mulai sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, sampai lembaga pendidikan swasta dalam berbagai jenis sekolah (sekolah umum, keagamaan, pondok pesantren, seminari, dan lain-lain).
Tulisan ini akan membahas keuangan pendidikan sebagai salah satu faktor penting dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan mutu dan relevansi pendidikan. Keuangan pendidikan (education finance) semata-mata hanya merupakan suatu sarana untuk melakukan perhitungan terhadap berbagai sumber ekonomi yang dijadikan masukan bagi penyelenggaraan pendidikan. Besarnya keuangan pendidikan tentu saja tidak menjamin kemampuan mewujudkan pendidikan yang bermutu. Di pihak lain, sangat sulit untuk memperoleh mutu pendidikan yang merata tanpa dukungan anggaran pendidikan yang memadai. Karena itu tulisan ini akan membahas besarnya investasi pendidikan sebagai salah satu investasi SDM yang sangat penting dalam pembangunan Indonesia.
Secara lebih operasional, tulisan ini menggambarkan proses pembentukan anggaran pendidikan sehingga dapat memperlihatkan beberapa perkiraan (estimate) mengenai: (1) keadaan keuangan pendidikan secara menyeluruh, (2) pengeluaran pendidikan pada tingkatan sekolah tahun anggaran 1995/96, khususnya mengenai sekolah-sekolah negeri. Tujuannya adalah untuk memberikan masukan bagi proses pembuatan keputusan dalam rangka mendayagunakan secara sangkil berbagai sumber keuangan pendidikan, alokasi anggaran, serta peningkatan kemangkusan pengeluaran pendidikan.
Informasi mengenai keuangan diperoleh dari data dan informasi yang bersumber dari: (1) kuesioner sekolah yang dikumpulkan setiap tahun oleh Pusat Informatik untuk Pengelolaan Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; (2) data hasil survai oleh BPS yang disebut Survai Sosial-ekonomi Nasional.1 Data-data tersebut telah diolah dan dianalisis oleh Biro APKO Bappenas yang dibantu oleh suatu lembaga konsultan ADB yaitu Hickling.2 Di samping itu studi keuangan pendidikan juga sudah dilakukan oleh Pusat Informatik Balitbang Dikbud yang dibantu oleh salah seorang konsultan, Math Robertson.3
1 Biro Pusat Statistik, Survai Sosial-Ekonomi Nasional, Jakarta, 1995.
2 David Clarch et al., Indonesia: Education Finance Study (Draft Final Report), Volume 1: Main Report., Hickling, Ottawa, Washington, Toronto, 1997
3 Matthew Robertson, The Education Finance Study, Jakarta: Pusat Informatik Untuk Pengelolaan Pendidikan dan Kebudayaan, 1996