Prospek dan Permasalahannya
Abad Pasifik ternyata bukan impian kosong, sebab setelah Deklarasi Bogor ditandatangani oleh para pemimpin ekonomi APEC, medio November 1994, beberapa langkah menuju terciptanya perdagangan dan investasi yang terbuka dan bebas mulai digarap. Namun demikian perkembangan sektor finansial negara-negara APEC juga patut ditelaah secara seksama mengingat aliran modal intra kawasan akan makin berkembang di masa mendatang.
Pada akhirnya, pertemuan para pemimpin ekonomi negara-negara APEC yang berlangsung di Bogor, 15 November 1994, telah berlalu di belakang kita. Pertemuan yang didahului oleh pertemuan pejabat tinggi dan pertemuan tingkat menteri yang akhirnya dipuncaki oleh APEC Economic Leaders Meeting (AELM) tersebut telah menghasilkan Deklarasi Bogor yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi.
Dari pertemuan tersebut tampak bahwa proses yang pada hakekatnya telah berlangsung baik secara alamiah, seperti tercermin dari besarnya peningkatan perdagangan dalam kawasan, maupun secara akademis pada akhirnya telah memperoleh “endorsement” dari para penguasa sehingga menjadi semakin diperkuat keberadaannya. Dalam hal ini, apa yang dibayangkan oleh Newsweek dalam cover story-nya pada tahun 1988 yang lalu, yaitu “The Pacific Century”, tampaknya kian menjadi kenyataan. Dengan proses ini maka upaya yang secara nyata dilakukan oleh para pemimpin bangsa pada masa dahulu pada akhirnya akan dapat memberikan buah yang lebat.
Pada April 1978, adalah senator John Glenn, Ketua dari Sub-Komisi Asia Timur dan Pasifik dari Senat Amerika Serikat, yang menugaskan Congressional Research Service untuk melakukan studi kelayakan mengenai pembentukan “Asian Regional Trade Organization”. Pada tahun yang sama, Perdana Menteri Jepang yang baru dilantik, Masayoshi Ohira, menyampaikan dukungan Pemerintahnya bagi apa yang disebut “Pan-Pacific Association”. Pada 1960-an kerjasama ekonomi Pasifik lebih bersifat pembahasan akademis, dimotori oleh Prof. Kajima dari Hitotsubushi University, Jepang. Kemudian pada 1980-an berbagai fora dari kalangan dunia usaha dan akademis beserta pengusaha dan pejabat pemerintahan dalam kapasitas pribadi membentuk kerjasama di kawasan ini. Pemikiran tersebut dalam suatu proses evolusi pada akhirnya berkembang dalam bentuk Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) sebagaimana yang kita kenal saat ini.1+
Berbeda dengan proses yang terjadi pada Uni Eropa, di mana perdagangan barang merupakan suatu titik sentral kerjasama tersebut sejak disetujuinya Traktat Roma tahun 1957 yang kemudian diikuti oleh perdagangan jasa-jasa dan kebijaksanaan makro, tampaknya apa yang menjadi pemikiran para pemimpin APEC tersebut adalah terciptanya proses yang lebih luas sejak awal. Dari apa yang tampak dalam “A Vision for APEC” yang dirumuskan oleh Eminent Persons Group (EPG) pada bulan Oktober 1993, proses liberalisasi yang dikehendaki dalam APEC tersebut adalah sejalan dengan GATT.2 Selain itu, banyak hal lagi yang dewasa ini belum termasuk dalam GATT dikehendaki untuk diperkuat dalam konteks APEC tersebut. Dalam kaitan ini, salah satu bagian dari laporan tersebut menyebutkan bahwa “APEC Ministers and officials responsible for Macroeconomic and Monetary Policy should begin to meet regularly”.
Laporan EPG ini diteruskan dengan usulan untuk terciptanya perdagangan dan investasi yang terbuka dan bebas dalam kawasan ini dan untuk dunia, seperti dicantumkan dalam laporan kedua dari EPG, “Achieving the APEC Vision”.3 Sebagaimana diketahui dalam kesepakatan Bogor para pemimpin ekonomi APEC, hal ini ingin dicapai pada tahun 2010 untuk negara-negara industri dan selambat-lambatnya tahun 2020 untuk negara-negara berkembang di kawasan ini.
Dengan latar belakang tersebut, tulisan ini secara singkat menggambarkan berbagai karasteristik dari perkembangan sektor finansial negara-negara APEC untuk melengkapi gambaran tentang prospek dan permasalahan kerjasama ekonomi negara-negara APEC. Pembahasan akan dimulai dengan latar belakang makro dari negara-negara APEC yang kemudian dilanjutkan dengan karakteristik sektor finansial dari negara-negara anggota APEC. Selanjutnya, permasalahan yang kini hidup di antara negara-negara anggota akan diketengahkan, terutama yang berkaitan dengan aliran modal yang dewasa ini menjadi titik perhatian berbagai negara.
Perkembangan dan Kebijaksanaan Ekonomi Makro
Perkembangan ekonomi negara-negara anggota APEC selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, jauh melebihi pertumbuhan ekonomi baik dunia maupun negara-negara industri pada khususnya. Di samping itu, negara-negara APEC tersebut memiliki stabilitas ekonomi yang cukup baik sebagaimana ditunjukkan pada tingkat inflasi maupun defisit neraca berjalan yang relatif rendah.
1 Hadi Soesastro, “Institutional Aspects of Pacific Economic Cooperation,” dalam Hadi Soesastro dan Han Sung-joo, Pacific Economic Cooperation: The Next Phase, (Jakarta: CSIS, Oktober 1993).
2 Eminent Persons Group, A Vision for APEC: Towards An Asia Pacific Economic Community, (APEC Secretariat, Oktober 1993).
3 Eminent Persons Group, Achieving the APEC Vision: Free and Open Trade in the Asia Pacific, (APEC Secretariat, Agustus 1994).