Perluasan jaringan komunikasi moderen, khususnya jaringan siaran Televisi Republik Indonesia (TVRI)—dengan memanfaatkan Satelit Komunikasi Palapa—dimaksudkan untuk memeratakan pesan-pesan pembangunan sampai ke seluruh pelosok tanah air. Daya tarik dan kemampuan televisi menyebarkan pesan lisan dan bergambar itu tidak diragukan lagi, terutama buat penduduk di kota-kota besar. Tetapi efektivitas siaran televisi untuk mencapai sasaran penduduk di pedesaan dengan aneka ragam latarbelakang sosial-budaya, memerlukan penelitian khusus. Tulisan Budhisantosa ini merupakan bagian dari penelitian jangjapanjang tentang Pengaruh Sosial Budaya Satelit Komunikasi Saluran Domestik.
Tidak dapat disangkal bahwa kemajuan teknologi, khususnya di bidang komunikasi telah banyak membantu usaha manusia mempermudah hidup mereka dengan tukar-menukar pengalaman, informasi dan pemikiran secara lancar dalam volume yang lebih besar tanpa mengharuskan orang-orang yang bersangkutan bertemu muka secara langsung dengan menempuh perjalanan yang jauh dan memakan waktu.
Betapa besarnya peranan komunikasi yang didukung oleh teknologi moderen dalam perkembangan kebudayaan umat manusia telah banyak diungkapkan oleh sarjana yang menaruh perhatian pada masalah tersebut. Lerner misalnya menyatakan bahwa perluasan komunikasi yang menggantikan keharusan orang melakukan perjalanan telah mampu menciptakan suasana yang melahirkan individu yang berkepribadian mobile yang justeru diperlukan dalam masyarakat yang sedang membangun.1 Di pihak lain, lepas dari setuju atau tidak pada pengertian modernisasi yang dikemukakan, D. Apter juga menyatakan bahwa kontak-kontak kebudayaan menjurus pada perubahan sikap masyarakat untuk meninggalkan pola-pola yang usang dan menggantikannya dengan yang baru.2
Pengaruh komunikasi moderen di daerah pedesaan tidak kalah kuatnya dengan apa yang melanda kota-kota sebagaimana dikemukakan oleh B. Malinowski bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di Afrika merupakan hasil pengaruh kebudayaan yang lebih tinggi dan aktif terhadap kebudayaan yang lebih sederhana dan pasti.3 Pernyataan tersebut mengandung pengertian akan arti pentingnya komunikasi yang memungkinkan kontak-kontak kebudayaan serta menjurus ke arah terjadinya perubahan. Pendapat yang hampir serupa dikemukakan oleh R. Redfield dan A.V. Hojas bahwa perbedaan antar desa di Yucatan disebabkan oleh perbedaan derajat kontak dengan peradaban.4 Sementara L.F. Tullis secara lebih khusus menyatakan adanya “… hubungan langsung antara kapasitas individu untuk memproses informasi yang kompleks dan modernisasi“.5 Seorang petani yang secara teratur bepergian ke kota, kemungkinan besar akan dapat mengembangkan kapasitas pemrosesan informasi yang lebih baik daripada mereka yang selalu tinggal di rumah.
1 Lerner, The Passing of Traditional Society: Modernizing The Middle East, (New York: The Free Press, 1958), hal. 49-50.
2 D. Apter, Politik Modernisasi, (Chicago: University of Chicago Press, 1965).
3 B. Malinowski, Dinamika Perubahan Budaya: Penyelidikan ke dalam Hubungan Ras di Afrika, (New Haven: Yale University Press, 1945), hal. 15.
4 . Redfield dan A.V. Hojas, Chan Kom: A Maya Village, (Chicago: Phoenix Books, University of Chicago Press, 1962), hal. IX.
5 L.F. Tullis, *Beban dan Petani di Peru: Paradigm of Political and Social Change, (Cambridge: Harvard University Press, 1970).