Prisma

Tentang Etik Perencanaan Pembangunan*

Pembangunan menimbulkan masalah-masalah etis yang sejak lama dihadapi oleh seluruh masyarakat: apakah hakekat dan dasar-dasar kehidupan yang baik? Apakah yang menjadi dasar keadilan dalam hubungan-hubungan kemasyarakatan? Bagaimanakah masyarakat mengambil sikap terhadap alam dan “alam kedua” yang disebut teknologi? Dalam konteks modern, pertanyaan-pertanyaan ini secara khusus dimaksudkan sebagai “pembangunan”, yang ditandai oleh sifat-sifat berikut: skala raksasa dalam pekerjaan-pekerjaan dasar; kompleksitas teknis, yang menimbulkan pembagian kerja dengan teliti; saling ketergantungan yang menghubungkan semua masyarakat—lokal, regional, nasional, atau internasional; dan jarak ketinggalan waktu (time lag) yang semakin menciut antara stimuli sosial—dalam bentuk usul atau paksaan perubahan—dengan respons masyarakat yang dilakukan untuk mempertahankan hidup atau menjaga integritas mereka. Kombinasi sifat-sifat ini menyebabkan validitas semua jawaban tradisionil terhadap pertanyaan-pertanyaan ini berada dalam bahaya.

Refleksi etis mengenai persoalan-persoalan sosial terjadi dengan jelas pada empat tingkat1: 1. tujuan-tujuan umum; 2. kriteria khusus untuk mengidentifikasi lembaga-lembaga dan prosedurnya yang merangkum tujuan-tujuan ini dalam situasi kongkrit; 3. pembuatan seluruh perangkat (atau sistem-sistem) cara-cara; dan 4. pembuatan suatu cara khusus tersendiri. Timbul sedikit ketidakcocokan mengenai tujuan-tujuan atau nilai-nilai umum, sebab setiap orang menyokong hal-hal ini: perdamaian, keadilan, kebebasan, dan persamaan. Bahkan penghasut-penghasut perang pun menyatakan bahwa alasan perjuangan mereka adalah untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan perdamaian. Para tiran pun menyatakan bahwa penindasan mereka diperlukan untuk menjamin tingkat ketertiban minimum, tanpa mana tidak akan terdapat kebebasan. Pada tingkat (2) kriteria untuk menentukan terdapatnya tujuan-tujuan umum—terjadi divergensi ideologi dan tatanilai. Sebagai contoh, kaum Marxis akan menyatakan bahwa kebebasan tidak akan berarti bila tidak terdapat persamaan ekonomi, sedang kaum liberal membantahnya dengan anggapan bahwa kebebasan akan berkembang bila lembaga-lembaga demokrasi seperti multi partai dan kebebasan memilih dapat hidup. Tingkat ketiga (perangkat alat-alat untuk mengatur masyarakat), adalah paling penting bagi para penganjur perubahan sosial. Perencanaan pembangunan sendiri adalah suatu sistem cara-cara serupa itu, sebagaimana kebijaksanaan teknologi, bantuan internasional atau rencana-rencana pembiayaan. Tingkat keempat (pembuatan suatu cara khusus tersendiri) adalah relatif lepas dari konflik sebab cara-cara demikian sering secara moral merupakan teknik netral yang bisa dipakai untuk maksud baik dan buruk.


* Artikel ini merupakan terjemahan dari “On the Ethics of Development Planning” dimuat dalam Studies in Comparative International Development, Vol. 11, No. 1, 1976.

1 Denis Goulet, Etica del Desarollo, (Barcelona/Montevideo: Editorial Estell/IEPAL, 1965), hal. 77-80.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan