Sebuah Sketsa Teoritis Strukturalis Scottian dan Kulturalis Weberian
Gerakan protes petani telah muncul dalam kurun waktu lama. Dewasa ini, gerakan mereka cenderung ekstrovert dan militan dengan penggunaan pengrusakan sebagai senjata. Melalui tinjauan struktural dari Scott dan kultural dari Weber atau dapat dikatakan dari luar dan dari dalam diri petani, Otto Syamsuddin Ishak berusaha menelusuri jejak awal penyebab gerakan protes petani yang semakin marak dan tidak padam, meskipun telah dilakukan tindakan represif oleh pemerintah.
Gerakan protes petani, tampaknya, merupakan salah satu gerakan sosial lama dan masih terus berlanjut hingga kini. Di Indonesia, dalam tahun 1995 saja, telah berlangsung beberapa kali aksi protes oleh para petani, yang jika dilihat dari faktor pendorongnya, baik bersifat internal maupun eksternal, akan terus muncul. Beberapa di antaranya, di Kalimantan Selatan, aksi protes dilakukan oleh petani eks transmigran yang bermukim di enam desa pada Kecamatan Batulicin. Dalam aksinya, sasaran petani adalah para petugas lapangan PT. MHB sebagai perusahaan yang mendapat konsesi HTI, yang mengaku lahan para petani tersebut sebagai bagian dari kawasan HTI-nya. Di Jawa Timur, sekitar 500-an petani Trenggalek melakukan aksi pembakaran terhadap dua sepeda motor, satu mobil, berikut kompleks pertokoan dan kantor KUD Tani Sentosa. Masalahnya, para petani merasa tidak puas dengan pengadaan pupuk yang semakin langka justeru pada saat musim tanam tiba. Demikian pula dengan petani di Madura, karena tidak puas dengan pengadaan pupuk dan ditutupnya dialog oleh pengurus KUD maka ratusan petani mengunci gudang pupuk KUD tersebut.1
1 Lihat “Menolak Tanahnya Jadi HTI,” Kompas, 29 Desember 1995; “Pemda Jatim Turunkan Tim Gabungan ke Trenggalek,” Media Indonesia, 29 Desember 1995; “Petani Trenggalek Bakar Kantor KUD,” Media Indonesia, 28 Desember 1995.