Pasar merupakan isu yang kini sedang bergerak makin meluas. Beberapa pihak mengartikan pasar dalam pengertian yang secara gamblang sebagai suatu tempat atau lokasi. Tetapi pasar dalam pengertian ekonomi itu juga sarat dengan berbagai kepentingan nonekonomi, termasuk aspek moral. Pasar seolah-olah menjadi penentu segala macam aturan, termasuk gaya hidup. Ia hanya dapat bertahan dan peradaban tetap berlanjut bila aspek-aspek nonekonomi juga dipentingkan dalam setiap pembahasan.
Globalisasi, perluasan perdagangan dan pasar, telah melahirkan perubahan-perubahan nyata pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat seluruh dunia. Kita semakin yakin akan terwujudnya satu pasar ekonomi global, jika menengok sejenak pasar-pasar di Singapura, Kuala Lumpur atau Bangkok. Kita dapat memperoleh atau membeli pakaian buatan Thailand tetapi berlabel fashion yang dirancang khusus dari New York atau Frankfurt, tomat dalam kaleng yang ditanam di Bulgaria, barang kemasan Filipina, peralatan elektronika dari Jepang atau Taiwan, roti dari Jerman, keju Prancis, tahu dan tempe Jawa, sirip ikan hiu dari Brasil, serta selai jeruk Inggris. Mungkin tidak semua, tetapi sebagian besar barang tersebut dijual di Jalan Solo, Yogyakarta atau Bantul, juga di warung dan toko-toko di hulu Sungai Mahakam atau Irian Jaya. Semua memulai hubungannya dengan pasar dunia sejak berabad silam melalui perdagangan jarak jauh berskala kecil yang perlahan-lahan berintegrasi ke dalam sistem dunia moderen yang menambah dimensi baru dalam kehidupan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat setempat.
Perubahan dari masyarakat tanpa pasar ke masyarakat berorientasi pasar sejak satu atau dua abad yang lampau telah membawa “transformasi besar.”1 Transformasi ini sangat menarik perhatian dan menjadi sasaran penelitian berbagai teori ekonomi klasik dan moderen. Kita tampaknya telah mencapai satu tingkatan baru dalam arus perubahan ini. Kadar dan kesan perluasan pasar terlihat makin melebar dan perubahan sosial membawa ke – meminjam bahasa Alvin Toffler – “guncangan masa depan” (future shock). Kini suatu “gelombang ketiga” (Third Wave) pembangunan telah terbentuk yang ditandai oleh era komputer dan internet. Modernisasi, seperti yang dikedepankan oleh sebagian sarjana, telah mencapai peringkat “pasca-modernisasi” (posmo). Keadaan ini dicirikan oleh beragamnya kehidupan keduniaan (lifeworld), krisis dan hilangnya identitas, serta melenyapnya cerita-cerita dasar (metanarrative).
Masalah yang kini paling sering dibahas adalah soal pasar dan ekonomi pasar. Sebagian besar negeri Eropa Timur sudah menanggalkan sistem perencanaan ekonomi sosialis. Persatuan negara-negara, seperti ASEAN atau Uni Eropa, makin diarahkan menjadi wilayah perdagangan bebas. Wawasan dan hasrat masa depan sebagian pemimpin politik bukan lagi menyangkut masalah kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan, tetapi lebih menekankan pada perkembangan kewiraswastaan dan korporatisasi. Kekuatan pasar (market forces) diambil oleh masyarakat dan negara sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan semua jenis penjakit pembangunan ekonomi. Planning is out, market forces are in.
Perluasan pasar, atau “Ekonomi Pasar Bebas,” ditafsirkan oleh beberapa pakar politik Barat dan kalangan ekonom neo-klasik sebagai sebuah landasan yang sesuai untuk mengubah perekonomian menjadi baik, terwujudnya demokrasi, pengurangan kemiskinan, meningkatnya akumulasi modal dan kekayaan serta mendorong pesatnya pertumbuhan ekonomi. Argumen ini terutama meluas dalam pembahasan mengenai kian terbukanya Eropa Tengah dan Eropa Timur terhadap pasar kapitalis. Keunggulan dengan
penekanan pada ciri-ciri mitos pasar kapitalistis dibuat. Kebijakan penyesuaian struktural (structural adjustment policy) yang dianjurkan Bank Dunia dan organisasi-organisasi internasional lain juga mempunyai keyakinan kuat tentang kesan baik deregulasi dan perluasan pasar serta melepaskan pasar dari hambatan birokratisasi. Terdapat keyakinan umum yang meluas dalam keajaiban “Kekuasaan Pasar” yang dilihat sangat bermanfaat atau sebaliknya, tergantung sikap dan pendapat politik si pemerhati. Seperti “keajaiban” yang dipercayai menghuni pohon atau kuburan keramat, pasar juga dikatakan mempunyai manfaat yang mampu membimbing ke arah kemakmuran dan kesejahteraan dengan tangannya yang tidak terlihat (invisible hands). Hal ini diyakini oleh ahli-ahli ekonomi secara mutlak yang menciptakan teori bahwa pasar dapat menyelesaikan secara optimum masalah sumber dan faktor-faktor produksi. Baudrillard menyebut keadaan ini sebagai “the romanticism of productivity.”2
Saat ini penasehat-penasehat ekonomi selalu menganggap kekuasaan pasar memberi manfaat yang besar kepada negara dan rakyat, mirip dengan ucapan para dukun yang memohon kepada mahakuasa supaya menurunkan hujan ke bumi selepas satu musim kemarau. Keduanya memang mempunyai bukti empiris: deregulasi dan perluasan perdagangan menembus pasar dunia membawa berkah pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sementara turunnya hujan yang menyiram persawahan membuat sebagian besar petani bergembira. Ahli ekonomi terlihat menjadi “dukun ekonomi” yang tidak hanya dapat meramalkan masa depan tetapi mereka juga bisa menciptakan kekayaan secara langsung.
Kekuasaan pasar yang dipercayai secara luas mampu membawa kemakmuran, kesejahteraan dan pembangunan bila ditelaah lebih mendalam merupakan bagian dari budaya pasar global. Kepercayaan terhadap kekuasaan pasar adalah akibat dari “globalisasi” dan sudah menjadi bagian dari budaya dunia (world culture). Pasar bisa dilihat sebagai sesuatu yang menunjuk tempat (seperti pasar petani atau pasar malam), atau secara abstrak sebagai sistem pasar. Keduanya dapat ditafsirkan sebagai satu sistem budaya yang mempunyai makna. Dengan kata lain, perluasan pasar dan perkembangan perdagangan bebas tidak dapat dilihat hanya sebagai hal ekonomi tetapi juga sebagai persoalan kemasyarakatan dan kebudayaan. Pertumbuhan ekonomi dan perluasan pasar adalah isu terpenting bagi kemajuan bagi negara dan masyarakat dan tidak boleh berada di tangan ahli ekonomi saja. Karena itu kita akan menilai perkembangan ekonomi pasar dari segi teori kemasyarakatan umumnya dan dari segi teori sosiologi kebudayaan dan pascamoderen khususnya.
1 Lihat, Karl Polanyi, The Great Transformation (Frankfurt: Suhrkamp, 1977).
2 Lihat, Jean Baudrillard, Symbolic Exchange and Death (London: Sage, 1993), hal 17.