Prisma

Teori | Wacana Sosial-Budaya Persoalan Lingkungan*

Ekologi merupakan salah satu istilah yang makin berkembang dalam dekade terakhir seiiring dengan masalah lingkungan hidup yang turut mengalami gangguan, kerusakan, pencemaran serta tekanan. Di sisi lain, pemakaian istilah ekologisme menunjukkan bahwa “ekologi” sudah merasuki beragam sisi kehidupan manusia. Persoalan lingkungan hidup dengan latar belakang sosial-budaya pun makin menarik setelah merebaknya penggunaan istilah ini. Manusia tampak makin sadar akan keberadaan lingkungan hidup, tetapi diperlukan pula penelaahan lebih seksama agar tidak sekadar “latah” yang tidak jarang justeru mengaburkan persoalan yang seharusnya dipikirkan bersama.

I stilah ekologi makin mengemuka karena lingkungan hidup mengalami berbagai gangguan, kerusakan, pencemaran serta tekanan. Kata ekologi berasal dari dua akar kata Yunani yakni oikos (rumah-tangga) dan logos (pengetahuan). Secara sederhana ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari rumah-tangga alam (nature) atau lingkungan (environment). Sedangkan menurut definisi Odum, ekologi adalah hubungan timbal-balik antara mahluk hidup dan lingkungannya.1

Semakin berkembangnya masalah lingkungan hidup mengakibatkan pula perkembangan penerapan dan penggunaan istilah itu. Tetapi kemudian muncul istilah Environmental Science (Ilmu Lingkungan) yang sering “disamakan” dengan ekologi. Ilmu Lingkungan berkembang setelah muncul

pemahaman bahwa persoalan lingkungan hidup adalah masalah yang pelik, kompleks, dan melibatkan berbagai segi kehidupan manusia, yang hanya dapat dipahami melalui berbagai cabang ilmu, baik sains maupun sosial yang digabungkan ke dalam sebuah ilmu “baru,” yaitu Environmental Science. Sedangkan ekologi merupakan perkembangan dari sebuah cabang ilmu Biologi.2

Pemakaian istilah ekologisme adalah untuk menunjukkan bahwa kata ekologi sudah merasuki berbagai sisi kehidupan manusia, sehingga seolah-olah sudah menjadi sebuah “faham/aliran.” Seperti halnya isme-isme yang lain, ekologisme juga mengalami tantangan, sanggahan, kecaman, dan penolakan. Dengan demikian wacana mengenai persoalan lingkungan hidup menjadi semakin menarik setelah merebaknya penggunaan istilah ini oleh berbagai kalangan, meskipun masih ada ketidaksepakatan.

Tulisan ini mengemukakan berbagai pemikiran tentang lingkungan hidup dari latar belakang sosial-budaya.3 Karena itu dalam pembahasan akan ditemukan beberapa istilah seperti ekososialisme, ekofeminisme, ekopolitik, ekoanarkis, ekopasifis, Partai Hijau (Green Party), ekonomi ekologis, ekotopia, dan filsafat ekologi.

Pemikiran tentang ekologi berkembang secara cepat dalam dekade terakhir.4 Di satu sisi hal ini membanggakan, karena manusia semakin sadar akan keberadaan lingkungan hidupnya, tetapi di sisi lain sering membingungkan masyarakat awam. Karena itu diperlukan penelaahan secara seksama agar masyarakat tidak sekadar “latah” dalam menerapkan kata “ekologi” di setiap kegiatan hidupnya. Selain itu tidak jarang sikap latah tersebut justeru mengaburkan persoalan yang seharusnya dihadapi dan dipikirkan bersama.

Ekososialisme atau Sosial Ekologi

Munculnya pemahaman Sosial Ekologi atau Ekososialisme (SE) didasari oleh keyakinan bahwa segala permasalahan lingkungan hidup berakar pada masalah sosial.5 Secara garis besar masalah-masalah sosial itu bersifat institusional, ideologis, psikologis, dan budaya.

Para pendukung SE mendekati permasalahan lingkungan secara naturalisme dialektis yang merupakan sebuah proses pertumbuhan dan perubahan diri secara berlanjut, yang melihat segala mahluk hidup sebagai mahluk alami. Dengan kata lain naturalisme dialektis memandang lingkungan hidup sebagai satu-kesatuan-utuh (ecological wholeness) dan memiliki tujuan akhir bagi seluruh mahluk (teleologis).6

Disadari pula bahwa masalah lingkungan muncul akibat sifat manusia yang ingin menguasai alam semesta.7 Namun demikian, sebenarnya sifat tersebut bersumber pada kehendak untuk menguasai manusia lainnya dan struktur dunia alamiah seperti tercermin dalam rantai hirarkis mahluk hidup. Gagasan untuk menguasai alam hanya dapat diatasi dengan cara menciptakan suatu masyarakat tanpa kelas dan hirarki, yang mengunggulkan aturan-aturan dan kepatuhan, baik dalam hidup pribadi maupun masyarakat.8


* Penulis berhutang budi kepada Martinus Nanang (Institute of Philippine Culture/IPC, Ateneo de Manila University) dan Agus Tridiatno (Loyola School of Theology/LST, Ateneo de Manila University) yang telah membaca naskah awal dan memberikan kritik serta masukan. Tetapi tanggung jawab atas tulisan ini sepenuhnya ada pada penulis.

1 Lihat, E.P. Odum, Fundamentals of Ecology, Edisi Ketiga (Philadelphia: W.B. Saunders Co., 1973).

2 Lihat, R. Brewer, The Science of Ecology, Edisi Kedua (New York: Saunders College Publishing, Harcourt Brace College Publishers, 1994), hal. 1-12.

3 “Budaya” di sini meliputi sendi-sendi politik, ekonomi, sains, dan filsafat.

4 B. Rahardjo Sidharta, “Ekologisme,” Revolusi Pemikiran terhadap Ekologi, dalam Kompas, 22 Juni 1994, hal. 4.

5 Lihat, M. Bookchin, “What is Social Ecology?” dalam M.E. Zimmerman, J.B. Callicott, G. Sessions, K.J. Warren, J. Clark (eds.), Environmental Philosophy: from Animal rights to Radical Ecology (New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs, 1993), hal. 354-373; J. Clark, “Introduction,” dalam M.E. Zimmerman, J.B. Callicott, G. Sessions, K.J. Warren, J. Clark (eds.), Environmental Philosophy: from Animal rights to Radical Ecology (New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs, 1993), hal. 345-353.

6 Lihat, J. Biehl, “Dialectics in the Ethics of Social Ecology,” dalam M.E. Zimmerman, J.B. Callicott, G. Sessions, K.J. Warren, J. Clark (eds.), Environmental Philosophy: from Animal rights to Radical Ecology (New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs, 1993), hal. 374-389; Clark, loc.cit.

7 Bandingkan dengan Kej. 1:28, diambil dari Alkitab, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, (Jakarta, 1982).

8 Semenjak Carolus Linnaeus, hirarki mahluk hidup yang ada di muka bumi telah disusun sedemikian rupa, yang menempatkan manusia pada puncak “rantai hirarki tersebut. “Kedudukan” di puncak ini sering diter-

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan