Prisma

Tesis | Banyak Pohon Makan Lahan

Perkebunan Kopi dan Degradasi Lahan di Jawa Abad ke-19*

Sepanjang abad ke-19, penggundulan hutan dan degradasi lahan, terutama erosi, merupakan gejala umum di Jawa. Penyebabnya bukanlah pertambahan penduduk tapi karena banyak hutan di dataran tinggi digunakan bagi perkebunan kopi pemerintah kolonial yang buruk pengelolaan lahannya. Akibatnya degradasi tanah besar-besaran. Sementara itu para petani kecil hanya bisa memanfaatkan lahan tersebut setelah perkebunan kopi memrosotkan lahan tersebut. Ini membatasi potensi sistem peladangan-hutan kecil-kecilan dan juga kelestariannya.

Dalam dasawarsa 1880-an ratusan orang dibunuh oleh harimau Jawa. Dengan imbalan 22 gulden dan 30 gulden, beberapa ratus ribu “macan loreng — atau harimau raja” dibunuh setiap tahunnya. Ketika pemerintah Hindia Belanda meminta penduduk memberi bantuan tentang cara membasmi binatang tersebut, banyak yang meragukannya. Hutan terlalu luas dan gunung terlalu terjal. Tetapi setengah abad kemudian, harimau sudah punah dan hutan telah gundul.1

Punahnya harimau dan hutan bukanlah satu-satunya perubahan ekologi Jawa. Pada abad ke-20, banyak daerah yang rusak parah karena degradasi lahan, terutama erosi. Tahun 1952 de Haan memperkirakan kerusakan ini berkisar 30-40% pulau Jawa. Ini mempengaruhi pertanian dataran tinggi maupun rendan- dah. Di dataran tinggi, permukaan tanah hanyut, sumur-sumur kering dan sungai-sungai berhenti mengalir; di dataran rendah, saluran-saluran irigasi tertimbun lumpur, dan besar maupun seringnya banjir meningkat.2

Transformasi ekosistem hutan tropis langsung terjadi ketika berlangsung tekanan pada sumberdayanya dan/atau naiknya permintaan atas produksi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan selain makanan. Secara umum pertanian bisa dipraktekkan dengan tingkat pemerosotan yang relatif rendah. Jika pengelolaan restoratif atau protektif yang memadai ada — biasanya dengan penanaman modal dan tenaga, misalnya petak-petak sawah berjenjang, pemupukan — degradasi bisa dikurangi. Akan tetapi, degradasi lahan, yang oleh Blaikie dan Brookfield3 didefinisikan sebagai penurunan kemampuan untuk memenuhi manfaat tertentu dalam sistem pengganti, mempengaruhi bagian-bagian yang luas di Jawa. Banyak daerah dataran tinggi yang luas telah menjadi marjinal secara ekonomi dan ekologi karena rendahnya investasi atau penggunaan lahan yang jelek caranya. Kini degradasi lahan merupakan salah satu persoalan berat yang dihadapi Indonesia, termasuk Jawa dan berbagai pulau lain. Karenanya menarik untuk mengaji bagaimana dan kapan transformasi dari hutan ke pertanian berlangsung dan mengapa begitu banyak menghasilkan kemerosotan lahan.

Degradasi lahan di Jawa sering dikaitkan dengan pertumbuhan penduduk. Memang sejak awal abad ke-19, faktanya penduduk telah meningkat secara signifikan, dan lahan subur pertanian kecil-kecilan meluas. Kini dataran tinggi ditanami oleh para pemilik lahan kecil dan terjadilah degradasi lahan. Walaupun demikian peningkatan penduduk bukanlah penggerak utama melainkan latar sosio-lingkunganlah yang kuat potensi tekannya. Dalam penelitiannya tentang evolusi hutan di Jawa Tengah, Gastellu-Etchegory dan Sinulingga4 memperlihatkan bahwa tingkat degradasi hutan yang tertinggi tidaklah berkorelasi dengan kepadatan penduduk di sana, tetapi dengan berbagai kondisi pertanian dan pendapatan per capita. UNESCO et al.5 menyatakan bahwa perubahan terbesar dan tercepat yang mempengaruhi sistem hutan muncul dari kekuatan-kekuatan yang mencampuri langsung ekosistem untuk mendapatkan laba. Mengaitkan degradasi lingkungan langsung dengan pertumbuhan penduduk bisa juga merupakan kesalahan historis yang besar. Boleh jadi erosi dipicu oleh berbagai kegiatan masa lalu yang tak akan lagi terjadi.


* Diterjemahkan oleh Nugraha Katjasungkana; untuk suntingan bahasa dalam versi Inggrisnya penulis mengucapkan terima kasih pada Anton dan Jane Imeson. Catatan redaksi: Di sini terjemahan Indonesianya lebih mengacu pada istilah teknis yang banyak digunakan oleh ahli-ahli pertanahan, geologi, atau pertanian ketimbang ahli ilmu sosial. Misalnya land diterjemahkan sebagai ‘lahan’ dan soil diterjemahkan menjadi ‘tanah’. Singkatan untuk arsip sumber yang digunakan sebagai berikut: ANJ (Arsip Nasional Republik Indonesia), Jakarta; ARA (Algemeen Rijkarchief, Den Haag; AV (Algemeen Verslag); BB Binnenlands Bestuur; BOW (Burgerlijke Openbare Werken); Bt. (Besluit); Exh. (Exhibitum); GG (Governor General); KV (Kultuur Verslag); MGS (Missive Gouvernementssecretarie); OEW (Onderwijs, Eredienct en Wetenschappen); RA (Residentie Archief); RAPI (Residentiearchief Pasar Ikan); V (Verbal). Penulis mengucapkan terima kasih pada dukungan dana dari the Netherlands Foundation for the Advancment of Tropical Research.

1 ANJ, Bt. 5/4/1854-3, Bt. 8/8/1862-7.

2 J.P. Thijsse, “Will Java Become a Desert?,” stensilan (Den Haag: Indoconsult, 1974), “Ontbossing en erosie op Java,” Landbouwkundig Tijdschrift, No. 89 (1977), hal. 443-447; J.G.L. Palte, “Upland Farming on Java, Indonesia: A Socio-economic Study of Upland Agriculture and Subsistence under Population Pressure,” tesis Ph.D. Univ. Utrecht (Neth. Geogr. Studies), 1989; Otto Soemarwoto, “The Soil Erosion Problem in Java,” Paper Institute of Ecology, Padjadjaran University (Bandung: 1975); K.F. Wiersum, “Erosie, Plattelandsontwikkeling en Bos op Java,” Landbouwkundig Tijdschrift, No. 92 (1980), hal. 338-345.

3 P. Blaikie dan H. Brookfield, Land Degradation and Society (London: 1987), hal. 1.

4 J.P. Gasteellu-Etchegorry dan A.B. Sinulingga, “Designing a GIS for the Study of Forest Evolution in Central Java,” Tijdschrift Economisch en Sociale Geografie, No. 79 (1988), hal. 93-103.

5 UNESCO, UNEP dan FAO, “Tropical Forest Ecosystem: A State of Knowledge Report,” Nature and Resources, Vol. 14, No. 3 (1978), hal. 2-6.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan