Revolusi kemerdekaan yang berlangsung tidak disusul oleh suatu revolusi sosial. Malah seluruh kebijaksanaan ekonomi yang berlangsung sebenarnya merupakan kelanjutan dari kebijaksanaan ekonomi kolonial dalam alam merdeka. Tidak pernah ada perubahan yang mendasar secara struktural. Dalam keadaan seperti itu bantuan luar negeri berdatangan ke Indonesia. Menurut Adi Sasoono dengan adanya bantuan luar negeri sebenarnya kepentingan asing semakin mendapat keuntungan dari tiap dollar yang ditanamnya dan demi kepentingannya pula Indonesia semakin dibuat tergantung padanya.
Tesis Ketergantungan bertolak dari pemikiran bahwa yang menjadi penyebab ketergantungan dan tetap terbelakangnya banyak negara-negara di dunia ketiga yang begitu kaya dengan sumber-sumber alam adalah proses penghisapan oleh pihak asing. Penghisapan ini dimungkinkan oleh hubungan ekonomi yang tidak adil dengan pihak asing. Tesis ini menolak anggapan bahwa kemajuan ekonomi negeri-negeri miskin akan terjadi sebagai akibat hubungan ekonomi dengan negeri-negeri maju, yang menimbulkan difusi modal, teknologi dan nilai-nilai institusional serta faktor-faktor dinamik lainnya kepada negeri-negeri miskin ini.
Dalam perkembangan selanjutnya tesis ketergantungan ini telah mendapat tanggapan dari beberapa pemikir lainnya, dari luar Amerika Latin. Tanggapan ada yang telah melengkapi tesis ini dengan menumbuhkan analisa mengenai hubungan antar kelas dalam proses ekonomi di dalam negeri. Para penanggap juga mengemukakan bahwa proses penghisapan yang dilakukan pihak asing ini terhadap massa rakyat di negara miskin, telah dimungkinkan berkat bantuan kekuatan di dalam negeri, politik maupun ekonomi, yang bekerjasama dengan pihak asing, langsung maupun tidak langsung. Mereka ini adalah kelas komprador, yang sebagai rekan usaha pihak asing, senantiasa berusaha mematikan aspirasi berdaulat di bidang ekonomi (dan dengan sendirinya, politik) serta membendung perkembangan ekonomi swadaya massa rakyat.
Meskipun kasus yang menjadi bahan telaah pada umumnya negara-negara Amerika Latin, seperti terlihat pula pada tokoh pemikirnya (Paul Baran, Andre Gunder Frank, dan lain-lain,)1 namun dalam dunia pemikiran politik dan ekonomi di Indonesia, kerangka pemikiran tesis ini telah dikenal sejak sekurang-kurangnya lima puluh tahun yang lalu, setidak-tidaknya dasar-dasarnya.
Sikap “percaya pada usaha sendiri” Soekarno dan tiga orang kawannya tahun 1930 diajukan ke depan pengadilan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pengadilan yang menggemparkan ini diakhiri dengan sidang tanggal 22 Desember 1930, dengan keputusan menjatuhkan hukuman penjara 4 tahun kepada Soekarno. Dalam sidang tersebut Soekarno mengucapkan pembelaan yang terkenal di bawah judul “Indonesia Menggugat”. Pidato pembelaan tersebut menjadi dokumen politik bersejarah menentang kolonialisme dan imperialisme. Ia memuat kupasan yang tajam mengenai keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajahan asing, secara politik maupun ekonomi. Dinyatakan antara lain oleh Soekarno 4 (empat) sifat imperialisme moderen yakni: pertama: Indonesia tetap menjadi negeri pengambilan bekal hidup, Kedua: Indonesia menjadi negeri pengambilan bekal-bekal untuk pabrik-pabrik di Eropa, Ketiga: Indonesia menjadi negeri pasar penjualan barang-barang hasil dari macam-macam industri asing, Keempat: Indonesia menjadi lapang usaha bagi modal yang ratusan, ribuan-jutaan rupiah jumlahnya.
1 Lihat antara lain; Frank, Andre Gunder, Kapitalisme dan Keterbelakangan di Amerika Latin, Monthly Review Press, NY, 1967; Amerika Latin: Keterbelakangan atau Revolusi, MRP, NY, 1968; Lumpenbougeoi sie Lumpendevelopment, MRP, NY, 1972. Para penanggap antara lain Sao, Ranjit, Unequal Exchange, Imperialism and Underdevelopment, Oxford University Press, Calcutta, 1978; Oxaal, Ivar, et. al (eds) Melampaui Sosiologi Pembangunan, Routledge & Kegan, Paul, London, 1975