Segmentasi di pasar tenaga kerja menyebabkan sangat kecil kemungkinan orang desa dapat menikmati upah yang tinggi dan pekerjaan yang relatif tetap di sektor moderen. Kemiskinan di desa serta terbatasnya kesempatan kerja merupakan sebab utama dari migrasi, pengangguran dan tumbuhnya sektor informal di kota-kota besar di Jawa. Chris Manning menyajikan beberapa data tentang struktur upah dan pola ketenagakerjaan di sektor industri, khususnya industri tenun dan rokok serta mencoba menghubungkan struktur upah ini dengan gejala yang lebih luas di pasar tenaga kerja.
Perombakan struktur ekonomi dalam waktu yang relatif singkat di negara-negara kapitalis di dunia ketiga telah membawa akibat yang luas kepada pasar tenaga kerja. Pengangguran, membengkaknya “sektor informal” dan perbedaan upah yang cukup besar antara kota dan desa dapat dihubungkan dengan pesatnya pertumbuhan sektor “moderen”, baik swasta maupun pemerintah. Ketimpangan-ketimpangan dalam pasar tenaga kerja dapat dikaitkan dengan migrasi desa-kota yang melebihi kemampuan penyerapan tenaga kerja di sektor moderen. Masalah-masalah ini jadi menonjol diantaranya disebabkan oleh penanaman modal asing dengan teknologi padat modal. Tapi di berbagai negara, arus migrasi ini juga dihubungkan dengan kemiskinan dan makin menciutnya kesempatan kerja di daerah pedesaan. Di Jawa, masalah ketenagakerjaan di kota-kota berkaitan dengan moderenisasi yang pesat selama sepuluh tahun terakhir dalam industri dan sektor jasa dan pula dengan kemiskinan di pedesaan.
Struktur upah di kota dan perbedaan upah antara desa dan kota, dianggap para ekonom sebagai suatu variabel pokok dalam analisis sebab akibat dari pola urbanisasi, pengangguran di kota dan munculnya sektor informal. Dalam karangan ini kami akan menyajikan beberapa data tentang struktur upah dan pola ketenagakerjaan di sektor industri, khususnya industri tenun dan rokok serta mencoba menghubungkan struktur upah ini dengan gejala yang lebih luas di pasar tenaga kerja. Pada umumnya disimpulkan bahwa peranan struktur upah sebagai sebab utama dari ketimpangan di pasar tenaga kerja telah dibesar-besarkan, terutama dalam teori migrasi yang dikembangkan oleh para ekonom. Segmentasi di pasar tenaga kerja menyebabkan sangat kecilnya kemungkinan orang desa dapat menikmati upah yang tinggi dan pekerjaan yang relatif tetap di sektor moderen. Kemiskinan di desa serta terbatasnya kesempatan kerja kiranya merupakan sebab utama dari migrasi, pengangguran dan tumbuhnya sektor informal di kota-kota besar di Jawa.
Karangan ini dibagi dalam empat bagian pokok. Pertama akan ditinjau masalah tenaga kerja secara umum di Jawa serta beberapa teori tenaga kerja dan migrasi. Kemudian dikemukakan beberapa teori yang berkaitan dengan gagasan “segmentasi” pasar tenaga kerja. Bagian ketiga menyajikan data yang menunjukkan segmentasi di pasar tenaga kerja dari studi kasus kami di sektor tenun dan rokok.1 Di bagian keempat ditarik beberapa kesimpulan umum tentang analisis pasar tenaga kerja dan kebijaksanaan yang menyangkut masalah tenaga kerja di Jawa.
* Tulisan ini didasarkan atas disertasi PhD berjudul Segmentasi Pasar Tenaga Kerja dan Perbedaan Upah di Manufaktur Indonesia, (Canberra: Australian National University, 1979). Pengarang berterima kasih kepada Dr. Masri Singarimbun yang telah memberi komentar yang berguna untuk perbaikan tulisan ini.
1 Data ini diambil dari disertasi penulis, Labour Market Segmentation and Wage Differentials in Indonesian Manufacturing, (Canberra: Australian National University, 1979).