I
Semenjak ramalan Jayabaya dikenal dalam sejarah Jawa mulai awal abad XVIII dengan terburu orang menduga bahwa Ratu Adil adalah satu tipe tokoh mesias Jawa, sang penyelamat. Dan kemudian biasanya dugaan itu diteruskan dengan pandangan yang mirip-mirip sikap orientalis yang menyebutkan bahwa mesianisme Jawa terlalu terikat ke dalam cita masa lewat atau masa depan, tergantung dari apa yang mereka namakan masa depan atau lewat itu. Dan seterusnya biasa disebutkan bahwa mesianisme dalam jenis ini adalah tipe mesianisme kerdil, menantikan masa sejahtera (gemah ripah loh jinawi) cukup dengan menanti dan menunggu saja dengan sesekali melakukan ritus yang diperlukan untuk mempercepat kedatangan sang mesias ini.
Tapi mesias ini rupanya tidak kunjung tiba, atau telah berubah wujud menjadi Godot dalam literatur eksistensialis Samuel Becket.
Dalam esei di bawah ini saya mau menguraikan bahwa dalam pandangan hidup Jawa tidak ada mesias. Harapan akan masyarakat surgawi itu tidak dikenal dalam pandangan menyeluruh mereka. Hal itu lebih tampak dalam sistem-sistem kepercayaan mereka yang dikenal dengan kebatinan, ataupun dalam hasil kebudayaan mereka, wayang. Dan sebetulnya, seperti sudah kelewat jelas dilukiskan oleh sejarawan terkemuka Sartono Kartodirdjo dalam analisanya mengenai gerakan-gerakan petani, hal itu juga tercermin dalam gerakan-gerakan tersebut. Dalam kebudayaan dalam arti struktur makna lewat mana orang memberikan wujud pada pengalaman hidupnya, tidak dikenal selingkar nilai mengenai mesias ini.
Dalam ramalan Jayabaya memang disebutkan bahwa pada masa akhir sejarah Jawa akan datang pemerintahan Tanjung Putih yang adil, dermawan dan murah hati. Kemudian pada masa tutup pemerintahannya datang musibah dan datang masa tanpa hukum, keadilan dan kesejahteraan. Para bangsawan hanya sibuk dengan diri dan keluarganya sendiri, sedang rakyat didorong terjun ke lembah bencana. Rakyat kelaparan dan compang-camping, sedang para bangsawan tenggelam dalam kenikmatan. Pada saat itulah sang Erucakra datang. Ini adalah raja adil dan bijaksana, yang bisa memulihkan keadaan makmur untuk rakyat. (Nama Erucakra inilah yang sering dipakai oleh pemimpin huru-hara di daerah pedesaan Jawa, mulai dari jenis pahlawan seperti Pangeran Diponegoro dari Tegalrejo sampai pada tipe pengacau seperti Mbah Suro dari Nginggil baru-baru ini).
