Prisma

Tiga “Perangkap” dalam Ekonomi Indonesia

Dalam tahun 1950-an orang mengharapkan bahwa negara-negara seperti India, Yugoslavia dan Indonesia akan memimpin ‘Dunia Ketiga’ menghindari akibat-akibat buruk dari eksploitasi kapitalisme maupun kekurangan-kekurangan yang mencekam dalam autarki sosialis. Sekarang ini cita-cita itu telah punah dan negara-negara tersebut lebih tergantung pada negara-negara lain daripada sewaktu mereka memperoleh kemerdekaannya. Cheryl Payer, The Debt Trap (1974).

Studi mengenai perspektif perkembangan ekonomi Indonesia yang dilakukan para ahli Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan dibukukan dalam suatu Laporan Proyek, mengemukakan bahwa usaha-usaha pembangunan ditentukan oleh saling-mempengaruhinya 3 kelompok variabel:

  • sumber-sumber daya alam sebagai unsur penyedia bahan-bahan dasar untuk produksi barang-barang dan jasa-jasa;
  • sumber-sumber daya manusiawi atau penduduk sebagai sekaligus unsur pengelola sumber-sumber daya alam dan sebagai unsur konsumen hasil-hasil pengelolaan tersebut;
  • teknologi sebagai unsur yang menjembatani potensi yang terkandung dalam kekayaan alam dan realisasinya menjadi barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan manusia untuk kesejahteraan dan keamanannya.1

Studi tersebut mengakui bahwa laju perkembangan variabel-variabel tersebut dapat dipengaruhi oleh kebijaksanaan pembangunan, walaupun kepekaan variabel-variabel ini berbeda cepat atau lambat reaksinya.

Apa yang hendak dicari dalam studi pendek ini adalah pengaruh berbagai macam perkembangan: moneter, khususnya kurs dollar-rupiah, produksi dan konsumsi energi (minyak bumi) dan hutang-hutang luar negeri Indonesia, yang ketiga-tiganya juga disinggung perspektifnya dalam dokumen LPEM FEUI tersebut.2

Moneter

Mata-uang rupiah didevaluasikan dari Rp 378 menjadi Rp 415 per dollar dalam bulan Agustus 1971 tidak lama setelah nilai tukar dollar terhadap emas ditangguhkan (nilai tukar lama adalah US $35 per Troy Ounce dan nilai tukar baru adalah US $38 per Troy Ounce). Semenjak itu mata-uang rupiah terus dikaitkan pada dollar dan hingga sekarang terus dipertahankan nilai tukar Rp 415 per dollarnya.


1 LPEM FEUI, Perspektif Perekonomian Nasional Indonesia Tahun 1985, Jakarta April 1976.

2 LPEM FEUI, Ibid halaman 144 dan 145.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan