Prisma

Timur Tengah Pasaran Baru yang Potensial

Pendahuluan

Timur Tengah, dikenal sebagai negara-negara yang kaya akan minyak. Semenjak berakhirnya perang Mesir-Israel bulan Oktober 1973 yang menyebabkan kenaikan harga minyak terjadilah surplus petro dollar. Surplus ini masih akan mengalir terus ke sana apa pun yang terjadi dengan kebijaksanaan energi berbagai negara. Bahkan akhir-akhir ini terdapat petunjuk-petunjuk adanya sumber mineral yang lain di negara padang pasir seperti rock phospate, tembaga, biji besi dan sebagainya.

Dengan adanya surplus petro dollar tersebut pembangunan mereka khususnya di bidang infrastruktur dan industri meningkat terus. Peningkatan ini diperkirakan baru akan mencapai titik jenuh pada akhir Pelita III (1990) dan peningkatan pembangunan ini sudah barang tentu diikuti pula oleh meningkatnya arus perdagangan dengan negara-negara tersebut.

Pesatnya peningkatan pembangunan di segala bidang, baik gedung, jalan/jembatan, telekomunikasi dan lain-lain harus diimbangi dengan kemampuan teknologi yang memadai dan penyediaan tenagakerja yang cukup. Teknologi dan tenaga yang ada di dalam negeri sendiri tidak memadai untuk menunjang pembangunan tersebut. Oleh karena itu keduanya dibeli dengan surplus petro dollar mereka.

Semenjak saat itu berdatanganlah kontraktor-kontraktor dari luar negeri seperti Korea, Taiwan, Jepang di Asia dan beberapa negara Eropa Barat untuk memperebutkan borongan di sana. Dengan ramainya pekerjaan-pekerjaan borongan ini maka pasaran tenagakerja dari lapisan bawah (tenaga kasar) sampai tenaga kerja terampil menjadi ramai pula. Terkait dengan itu membubunglah pula perdagangan bahan-bahan bangunan, seperti semen, besi beton, kayu dan lain-lain di samping perdagangan barang-barang mewah dan konsumsi hasil-hasil industri dan teknologi luar negeri. Di samping para kontraktor asing tersebut membawa sendiri tenagakerja dari negaranya masing-masing mereka mengambil juga tenagakerja-tenagakerja dari negara lain yang lebih murah atau membuat sub-sub kontrak dengan negara-negara lain yang mempunyai.

Keadaan di Indonesia

Tanggal 1 April 1979 kita akan memasuki Pelita III. Meskipun sudah banyak yang kita capai dalam dua periode Pelita sebelumnya, namun Pelita III yang akan datang ini merupakan kurun waktu yang sangat penting dalam sejarah perkembangan Orde Baru. Pada akhir Pelita III ekonomi kita hendaknya sudah harus menunjukkan tanda-tanda take off, oleh karenanya peningkatan dan pemerataan pendapatan serta pembangunan harus dicapai dalam Pelita III ini.

Dengan makin meningkatnya jumlah angkatan kerja yang belum dapat diimbangi dengan meningkatnya lapangan kerja mengakibatkan meningkatnya jumlah pengangguran yang akan memperberat tugas dalam Pelita III. Untuk mencapai sasaran dalam program Pelita III yang akan datang, kita perlu lebih banyak devisa, sehingga ekspor harus ditingkatkan. Komposisi ekspor Indonesia saat ini yang 67% didukung oleh minyak bumi sudah barang tentu kurang menguntungkan, sehingga perlu diversifikasi agar dominasi minyak bumi dalam ekspor kita berkurang.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan