Prisma

Tjoe Bou San: Nasionalis Tionghoa Yang Mati Muda

Tjoe Bou San sebelum Perang Dunia II adalah penganjur ide nasionalisme Tionghoa di Indonesia. Lain dibandingkan pemimpin Sin Po, Kwee Hing Tjiat dan Hauw Tek Kong yang mencampak ide nasionalisme Tionghoanya, Tjoe teguh pendiriannya sampai akhir hayatnya. Ini mungkin disebabkan riwayatnya pendek, mungkin juga karena lingkungan hidupnya.

Tjoe Bou San dan Harian Sin Po

Tjoe Bou San yang lahir pada tahun 1891, adalah anak seorang pedagang tekstil di Jakarta.1 Tjoe mempunyai dua orang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan. Tidak banyak keterangan tentang pendidikannya. Mungkin ia pernah masuk sekolah Belanda swasta untuk beberapa tahun, tetapi bisa juga ia sekolah Hokkian dan belajar bahasa Belanda, Inggris dan Melayu sendiri. Yang pasti, ia pandai bahasa Melayu Betawi, dan sementara itu penguasaannya terhadap bahasa Belanda, Inggris dan Tionghoa rupanya agak terbatas.2

Pada usia 18 tahun ia menjadi pemimpin redaksi dari sebuah majalah mingguan yang bernama Hoa Tok Po edisi Melayu. Hoa Tok Po adalah majalah berkala resmi Soe Po Sia, sebuah organisasi totok yang berhaluan nasionalisme Tionghoa. Mungkin karena kurang mahir bahasa Tionghoanya, atau karena peranakan, sehingga ia tidak dijadikan editor dari Hoa Tok Po edisi Tionghoa yang dikuasai oleh totok.3 Tidak diketahui secara jelas beberapa lama ia memimpin Hoa Tok Po yang terbit di Batavia (Jakarta), namun, pada perkembangan selanjutnya ia pindah ke Surabaya dan sejak Februari sampai Juni 1917 ia memimpin suratkabar Tjhoen Tjhioe. Konon ia kembali lagi ke Jakarta setelah meninggalkan harian tersebut, dan tidak lama kemudian ia pun berkunjung ke tanah leluhurnya, dan pada gilirannya bekerja sebagai koresponden harian Sin Po edisi Melayu yang dipimpin oleh Kwee Hing Tjiat.4


1 Menurut Tio Ie Soei, Tjoe dilahirkan pada tahun 1891. Lihat Claudine Salmon, Literature in Malay by the Chinese of Indonesia (Paris, 1982) hlm. 360. Saya kira tahun 1891 lebih tepat karena ketika Tjoe meninggal pada tahun 1925, ia berusia 34 tahun. (Periksa “Toean Tjo Bou San Meninggal”, Sin Po, 3 November 1925).

2 Ang Jan Goan menulis bahwa Tjoe “bisa membatja bahasa Tionghoa”. Periksa Ang Jan Goan, “Almarhoem Tjoe Bou San”, Sin Po Wekelijkse Editie, 26 Desember 1925, halaman 619. Ang tidak menceritakan apakah Tjoe benar-benar fasih dalam bahasa tersebut. Menurut sumber lain, pengetahuan bahasa Tionghoanya (terutama klasik) sangat terbatas. Periksa karangan yang berjudul “Tjoe Bou San”, dimuat dalam Djawa Tengah Review, Semarang, September 1935, disiarkan kembali dalam Sin Po Jubelium Nummer 1910-1935, tanpa angka.

3 Periksa “Tjoe Bou San”, (lihat catatan no. 2)

4 Ibid.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan