Inilah kisah Tjio Wie Tay. Walau drop out dari Sekolah Dasar dia kemudian meraih sukses sebagai pengusaha. Mulai sebagai seorang pedagang buku loak, semangka, dan rokok eceran, dia kemudian mendirikan PT Gunung Agung. Dia terkenal tanggap terhadap peluang, dan kaya akan gagasan-gagasan kontroversial. Pengusaha yang mengambil nama Masagung ini, selama hidupnya dikenal dekat dengan tokoh-tokoh politik, misalnya Soekarno.
“SEMANGKA . . . semangka!!” suara seorang bocah melengking diantara deru mobil di bilangan Senen, Kramat Bunder, atau Kwitang. Dengan pakaian dekil, lusuh, dan compang-camping si bocah berjalan mondar-mandir di trotoar. Keringat mengucur membasahi kaos oblongnya yang sudah robek di sana sini. Ada goresan di punggung. Ada borok di kepalanya. Ada luka-luka di kaki si bocah sampai ke pangkal celana pendek yang dia pakai: kudis. Dia kudisan. Dengan bertelanjang kaki si bocah menapaki hari-harinya untuk sesuap nasi. Terkadang dia terbirit-birit meloncat ke atas trem listrik yang menuju Salemba. Di atas kendaraan ini ia selalu main kucing-kucingan dengan kondektur trem yang rajin mengusir bocah-bocah penjaja.



