Dia adalah tokoh tiga zaman yang terkenal jatmika, dan teguh terhadap pendirian yang sudah diyakini kebenarannya, serta dengan kesungguhan hati melaksanakan setiap tugas yang dibebankan kepadanya. Dia adalah murid Bung Karno yang tidak pernah mencoba mencari perselisihan dengan gurunya, demikian tulis Subagijo I.N. tentang Wilopo. Tetapi ada tiga persoalan yang membuat hubungannya dengan Soekarno menjadi renggang, yakni peristiwa 17 Oktober, masalah MSA, dan perjalanan Soekarno ke luar negeri setelah UUD 45 dipertaruhkan di depan Dewan Konstituante.