Prisma

Transformasi Kultur

Donald Wilhelm. Alternatif Kreatif untuk Komunisme (pedoman untuk dunia masa depan). London: The Macmillan Press Ltd., dan Basingstoke, 1977, 273 hal.

Tema sentral buku ini ialah bahwa konsep marxisme telah usang serta kehilangan dinamika, dan untuk itu diperlukan suatu ide baru yang segar sebagai pengganti. Wilhelm berpendapat bahwa kelompok intelektual non-komunis tidak pernah mencoba mencari suatu doktrin alternatif dan konstruktif serta berskala luas (hal. xi). Kelompok intelektual tersebut seolah-olah percaya bahwa penguasaan dunia oleh kaum marxist hanya tinggal menunggu waktu saja, demikian Wilhelm. Tambahan lagi hal ini diperburuk oleh riset-riset yang semakin mengandalkan spesialisasi yang sempit.

Dengan keyakinan bahwa untuk menggantikan ide Marx diperlukan suatu transformasi kultur dan ideologi maka Wilhelm menulis buku ini. Ia yakin bahwa alternatif tersebut tidak perlu berbau reaksioner. Golongan tengah dan moderat mampu untuk berbuat sesuatu yang revolutioner, tandasnya (hal.x). Buku ini dibagi atas 2 bagian. Di bagian pertama Wilhelm mencoba membuktikan perlunya suatu transformasi kultur sedangkan di bagian kedua ia membeberkan aspek esensi dari transformasi kultur tadi.

Chapter 1 digunakan Wilhelm untuk menyerang dunia akademis dan teknologi saat ini. Menurutnya, kebanyakan masalah yang kita hadapi dewasa ini banyak disebabkan oleh penguasaan teknologi oleh manusia. Teknologi baru banyak yang bersifat socially distruptive. Teknologi seharusnya hanya merupakan instrumen semata-mata, dan bukan suatu determinan. Ilmu semakin bersifat spesial, dikotak-kotakkan, parasit, dan elitis. Faktor nilai sering mulai diabaikan dan sekularisme merajalela. Kaum intelektual yang seringkali dipersenjatai dengan dana-dana yayasan tertentu memenuhi negara-negara berkembang dan menggunakan rakyat negara-negara tersebut sebagai bulan-bulanan riset mereka yang kurang relevan. Ini merupakan kegalan dunia akademis masa kini.

Nada yang sama pun dilanjutkan oleh Wilhelm di chapter berikutnya. Kehancuran lingkungan, penggunaan sumber alam yang berlebihan, dan semacamnya banyak disebabkan oleh riset yang dilakukan dengan metodologi yang mengabaikan faktor nilai. Dengan tujuan dan nilai tertentu manusia sanggup untuk mengendalikan arah teknologi untuk kesejahteraan manusia, dan fakta ini mengharuskan kita menjadikan kombinasi antara kekuatan ilmu pengetahuan dan tanggungjawab moral sebagai bagian penting dari transformasi kultur yang akan datang.

Di sini rupanya hal-hal yang menyebabkan diabaikannya faktor nilai tersebut luput dari observasi Wilhelm. Ilmu pengetahuan condong untuk menyimpang dari kebenaran dengan mengikuti arah yang oportunistic.1 Jadi, bila kita telusuri maka akan kita dapatkan penyebab diabaikannya faktor nilai tersebut, yaitu konstelasi kekuatan yang ada. Singkatnya Wilhelm menyimpulkan bahwa kita teraliensir. Kepada siapa kita harus berpaling? Marxisme? Tidak, tegas Wilhelm. Marx hanya melihat alienasi semata-mata sebagai fenomena hasil pelembagaan institusional dari tingkahlaku manusia. Rupanya Marx tidak menghiraukan hubungan manusia dengan alam, dan technics yang membantunya untuk mempertahankan hubungan tersebut (hal. 28). Obyektivitas pengarang mulai diragukan di Chapter 4 (mengenai economic turmoil).


1 Gunnar Myrdal, Objektivitas dalam Penelitian Sosial, (New York: Pantheon Books, 1969).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan