Adakah kebenaran dalam suatu sikap nasionalis yang berlebih-lebihan? Sebaliknya mengapa harus salah kalau sekiranya seorang memuja bangsanya? Tentu saja antara memuja bangsa dan nasionalisme tidak sama dan serupa. Perbedaannya adalah bahwa seorang nasionalis bukan hanya pemuja bangsa, tetapi seorang yang menghargai harkat bangsa dan demi itu dia bekerja dan bekerja. Ucapan berikut ini tidak perlu ke luar dari mulut seorang nasionalis: bangsa kita adalah bangsa yang kaya. Bila kita mencari seorang yang akan membantah ucapan ini, mungkin akan sia-sia. Tidak ada yang menyangsikan potensi kekayaan atau kekayaan potensial. Namun hal yang sama juga akan terjadi bila dikatakan: kita adalah bangsa yang miskin. Kita nomor 5 termiskin di dunia. Dua jenis ucapan ini mengandung kebenaran. Ada bukti bahwa kita sungguh-sungguh kaya. Membantahnya sama dengan mengingkari kenyataan. Namun apa hasil dari kenyataan tersebut? Hasilnya adalah sebuah kenyataan lain: kita memang miskin. Lantas menanggapi ucapan bahwa kita bangsa kaya, orang akan mengatakan: memang benar . . . tetapi . . .! Kebenaran seperti itu kita sebut truisme. Dia benar. Sulit dibuktikan kesalahannya. Tetapi dia bisa menyesatkan. Dan akhirnya dia tidak menggairahkan. Dia benar hanya karena tidak salah.
Galileo Galilei bukan saja benar ketika dikatakannya bahwa bumi berputar keliling matahari dan bukan sebaliknya. Tetapi kebenarannya itu membuka dimensi baru bagi sejarah umat manusia. Yang keluar dari mulut Galileo bukanlah truisme.
***
Tersebutlah sebuah kebenaran yang oleh banyak ahli telah dibuktikan. Kemakmuran ekonomi suatu bangsa sangat tergantung dari kemampuan inovasi bangsa tersebut. Karena itu dituntut bahwa ada sektor tertentu dalam masyarakat yang harus kreatif, imajinatif, penuh keberanian untuk menanggung risiko. Dan hanya bangsa semacam itulah yang mampu meningkatkan taraf sosial-ekonominya. Dan semua sikap serta watak seperti itu disebut sikap dan watak entrepreneurial, yaitu sikap dan watak yang mengejar prestasi untuk meningkatkan kemakmuran ekonomi.
Namun tersebutlah juga sebuah cerita bahwa ada seorang pengusaha Tegal yang sangat kreatif. Dia mampu merasakan kebutuhan masyarakat di tempatnya. Dan dia pun menciptakan semprotan padi (hand sprayer). Harganya murah-hanya Rp 2.000 per unit. Buatan luar negeri Rp 32.000 . Dia mampu bersaing di bidang mutu dengan buatan luar negeri lainnya, yang pada umumnya mahal-mahal. Dan dia pun memproduksikan semprotannya dalam jumlah yang besar. Tetapi apa lanjutan ceritanya? Seluruh hasil produksinya tidak dapat dipasarkan, karena konsumen hanya menyukai semprotan buatan asing meskipun mahal. Dan dia tidak dapat menjual produknya ke daerah lain “karena pejabat-pejabat setempat sudah mempunyai ikatan dengan penjual hand sprayer eks luar negeri” (Kompas, 31 Juli 1978).
***
Bila dituruti tanpa pamrih, truisme hampir serupa dengan keyakinan, kepercayaan. Kita percaya dan yakin bahwa seorang wiraswasta haruslah berani, kreatif, dinamis, memahami kebutuhan. Di sini ada seorang yang berani. Ternyata tidak cukup hanya dengan keberanian. Dia tak bermodal namun dia berhasil memperoleh modal. Modal digabung dengan watak wiraswastanya ternyata hanyalah untuk menyaksikan satu hal yaitu: kegagalan. Akhirnya ternyata bahwa jiwa wiraswasta tidak bisa berdiri hanya dalam dirinya sendiri. Dia tersangkut dalam suatu sistem ekonomi secara keseluruhan. Ini berarti percumalah suatu watak wiraswasta, percumalah kreativitas kalau sekiranya kreativitas tersebut tidak mendapatkan perlindungan dalam kebijaksanaan dan juga dikitari oleh suatu etos ekonomi yang pantas.
Dengan demikian kepercayaan bahwa jiwa wiraswasta adalah kreativitas, lama kelamaan bisa menjadi sebuah truisme, yang benar, tetapi . . . ! Semuanya benar, tetapi seorang harus tabah menanti nasib dan nasibnya adalah kegagalan. Kalau kegagalan sudah menjadi kepastian apakah itu masih disebut resiko dalam dunia usaha?