Prisma

Unjuk Rasa, Gerakan Massa dan Demokratisasi

Potret Pergeseran Politik Orde Baru*

Sejak akhir 1980-an, kebidanan politik Indonesia mengalami sejumlah pergeseran yang signifikan. Negara mulai menunjukkan sikap lebih responsif dan akomodatif. Di tengah masyarakat muncul kekuatan dan tuntutan baru yang lebih kritis dan berani terhadap kebijakan negara. Keberanian berbagai komunitas politik ini dapat diidentifikasi melalui berbagai isu dan aksi protes. Unjuk rasa menjadi pilihan bentuk partisipasi politik yang populer. Sejauh mana unjuk rasa dapat dinilai secara kritis sebagai fenomena kemunculan gerakan massa? Apakah efektivitas politiknya serta sumbangannya bagi program demokratisasi?

Semenjak akhir tahun 1980-an, kehidupan politik di Indonesia mengalami sejumlah pergeseran signifikan. Para pengamat yang optimis menerjemahkan pergeseran ini sebagai terjadinya dinamisasi hubungan negara-masyarakat (state-civil-society). Negara dinilai mulai menunjukkan sikap politik baru yang lebih responsif dan akomodatif terhadap nilai dan kepentingan partisipatoris. Sementara di tengah masyarakat sipil, muncul kekuatan dan tuntutan politik baru yang lebih kritis terhadap kinerja dan kebijakan negara. Dalam terminologi yang klises, masa ini dikenal sebagai “periode awal keterbukaan politik.”

Terlepas dari perdebatan yang belum selesai mengenai substansial atau artifisialnya pergeseran tersebut, kita dapat mencatat bahwa semenjak tahun 1980-an, keberanian politik bertagai komunitas politik di tengah masyarakat tampaknya mengalami peningkatan yang mengesankan. Kenyataan ini dapat diidentifikasi melalui berbagai aksi demonstrasi-protes yang dilakukan buruh, kaum muda, mahasiswa, kalangan LSM serta beberapa komunitas masyarakat desa dan kota yang terpinggirkan oleh pembangunan pada tahun 1980-an dan terutama tahun 1990-an serta melalui isu-isu yang diangkat dalam berbagai aksi itu. Kita juga dapat mengidentifikasi kenyataan itu melalui fenomena Pemilu 1992 yang memperlihatkan munculnya keberanian berbagai komunitas untuk bersuara kritis yang pada gilirannya telah mengubah perimbangan hasil Pemilu secara cukup signifikan.


* Tulisan ini merupakan revisi dari makalah yang disampaikan dalam “Dialog Pragmatisme dan Maraknya Unjuk Rasa,” diadakan oleh IKPD FSUI, di Kampus FSUI Depok, 16 Desember 1993.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan