Prisma

Urbanisasi Berlebih, Involusi Perkotaan dan Radikalisme Politik di Negeri-negeri Berkembang

Kebanyakan teori mengatakan faktor yang menyebabkan begitu besarnya arus urbanisasi adalah bahwa desa sudah tidak menjadi sumber hidup lagi. Dengan kata lain manusia-manusia tersebut ditolak dari desa, dan karena itu tujuan mereka adalah kota. Bagi Nasikun penjelasan tentang proses urbanisasi yang berlebihan tidak dapat dengan begitu saja dicari dalam faktor desa, karena di pihak lain kota sangat menarik dan daya serap tenagakerja di kota ternyata luar biasa besarnya. Karena itu penjelasan yang agak menyeluruh diperoleh pada gabungan faktor penolak dari desa dan faktor penarik oleh kota. Di sini dibahas secara kritis teori-teori urbanisasi di Dunia Ketiga pada umumnya dan Indonesia khususnya.

Perdebatan tentang urbanisasi berlebih

Dua kenyataan yang tak bisa dipungkiri menandai mayoritas negeri-negeri berkembang. Pertama, kota-kota mereka telah membesar secara luar biasa, dan kedua, pertumbuhan kota-kota ini tidaklah disertai dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat guna memberikan kesempatan kerja bagi penduduk yang bertambah dengan cepat di kota-kota tersebut.1 Disebabkan oleh kedua situasi yang saling bertentangan di atas, negeri-negeri berkembang seringkali disebut sedang mengalami urbanisasi berlebih (over urbanization). Dengan demikian urbanisasi berlebih dirumuskan sebagai hubungan yang tidak seimbang antara tingkat urbanisasi dengan tingkat perkembangan ekonomi suatu negeri. Mereka yang mengutarakan tesis urbanisasi berlebih berkata bahwa Asia, misalnya, dewasa ini dilanda urbanisasi berlebih dalam pengertian bahwa “pada tingkat-tingkat urbanisasi yang komparabel, negeri-negeri maju sekarang punya proporsi angkatan kerja yang lebih banyak terlibat dalam berbagai kegiatan usaha non-tani. “2

Dalam merumuskan konsep urbanisasi berlebih, sebagian besar ahli menghubungkan dua indeks satu sama lain: persentase penduduk yang tinggal di daerah-daerah perkotaan, dengan distribusi angkatan kerja keseluruhannya di bidang-bidang pertanian dan non-tani di negeri bersangkutan. Yang pertama adalah indeks ruang (spatial) dan tidak menyangkut bidang pekerjaan, dan yang kedua adalah sebaliknya. Adapun sehubungan dengan bagaimana semestinya tatahubungan normal antara kedua indeks tersebut, dua macam ketentuan telah disarankan: suatu analisa lintas-seksional (cross-sectional) dari sejumlah besar negeri, seperti yang diusulkan oleh Davis dan Golden (1954) yang kasarnya menggunakan data-data tahun 1950, dan suatu analogi historis seperti yang digunakan dalam laporan seminar UNESCO tahun 1957.

Dengan menggunakan persentase kaum pria aktif yang tidak berkecimpung di bidang pertanian serta persentase penduduk kota-kota yang berpenduduk 10.000 ke atas pada sejumlah besar negeri, Davis dan Golden menemukan koefisien korelasi momen produksi ukuran nol dari Pearson sebanyak 0,86 antara tingkat industrialisasi dengan tingkat urbanisasi. Tatkala hubungan antara kedua variabel itu ditampilkan dalam bentuk kurva regresi, sejumlah negeri tertentu ternyata berada jauh di luar garis, dan karena itu dipandang mengalami keadaan urbanisasi berlebih dalam arti kata bahwa pada negeri-negeri tersebut tingkat urbanisasi melebihi apa-apa yang diharapkan menurut tingkat industrialisasi yang mereka capai. Sebaliknya, kriteria urbanisasi berlebih dari UNESCO didasarkan pada pengalaman historis negara-negara maju: AS, Perancis, Jerman dan Kanada. Proporsi yang ada antara urbanisasi dengan industrialisasi pada sekian waktu yang lain-lain di dalam evolusi mereka digunakan sebagai suatu norma. Misalnya, tingkat urbanisasi di Asia tahun 1950, satu dalam duabelas, dihubungkan dengan 30 persen angkatan kerja di dalam berbagai kegiatan usaha non-tani, sedangkan pada tingkat-tingkat urbanisasi yang komparabel negeri-negeri yang disebutkan di atas kasarnya hanya melibatkan 55 persen dari angkatan kerjanya di berbagai bidang kegiatan usaha non-tani. Dengan demikian dinyatakan bahwa Asia secara komparatif dilanda urbanisasi berlebih dalam kaitannya dengan tingkat perkembangan ekonominya.


1 T. McGee, “Proses Urbanisasi di Dunia Ketiga: Eksplorasi untuk Mencari Teori”, (London: G. Bell and Sons, Ltd., 1971).

2 UNESCO, “Urbanisasi di Asia dan Timur Jauh”, Laporan seminar, Bangkok, 8-18 Agustus 1957.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan