Prisma

Usahatani Kelompok: Pemikiran Lanjutan atas Hasil Suatu Seminar

Agricultural Development Council (ADC) hampir setahun yang lalu (Agustus 1977) mengadakan suatu seminar di Singapore, dengan topik “Pengalaman dan Potensi Usahatani kelompok di Asia”. (Menurut rencana hasilnya akan diterbitkan oleh Universitas Singapore). Di dalam seminar itu, usahatani kelompok (group farming) diartikan agak luas, mencakup sistem pengorganisasian kegiatan usahatani dalam kelompok petani, mulai dari kegiatan mendistribusikan air (irigasi) sampai ke bentuk kerjasama dalam suatu koperasi (primer), dari pemakaian bersama alat-alat mesin pertanian sampai sistem komunal yang terpadu. (Kolkhos di Rusia, Komun di RRC, Kibbutz di Israel).

Di dalam meninjau bersama organisasi “intra” usahatani kelompok itu maupun lingkungan kelembagaan dan kebudayaan yang berpengaruh atasnya, orang terdorong merumuskan suatu tipologi dalam menjawab “mengapa usahatani kelompok”?

Pertama, kegiatan usahatani kelompok didorong oleh hasrat untuk memanfaatkan secara lebih baik sumberdaya yang tersedia. Sejumlah petani bersatu dalam mengelola irigasi, dalam memakai alat dan mesin pertanian bersama dan dalam mendapatkan jasa-jasa pengelola gajian yang baik atau memperoleh tenaga upahan yang terpilih. Petani baru dapat didorong untuk mampu memanfaatkan sebidang tanah yang mereka peroleh (dari pembagian tanah land reform atau di pemukiman desa baru transmigrasi), karena tanpa bersatu masing-masing sulit mengatasi masa lampau yang terbatas pada pengalaman sebagai petani gurem atau buruhtani tak bertanah di desa lama. Tanah saja tanpa modal, alat-alat, kredit dan keterampilan baru, belum berarti bagi mereka.

Kedua, kegiatan usahatani kelompok itu dikembangkan oleh negara sebagai alat pembangunan nasional. Pemerintah tampil sebagai konseptor maupun penggerak. Di satu pihak ada maksud-dengan kekuatan pasaran atau bukan-memperoleh “surplus pertanian” untuk dipakai mendukung pembangunan ekonomi nasional, termasuk membangun industri moderen maupun birokrasi pemerintahan moderen. Di lain pihak ada maksud menyalurkan sumberdaya dari sektor lain untuk membantu desa, mengangkat derajat petani dan golongan lain di desa dari zaman yang tertinggal. Misalnya petani naluri diharapkan menjadi petani komersil, pengelola wiraswasta di dalam ekonomi kapitalis. Atau di dalam ekonomi komunis yang berencana, petani naluri itu didorong menjadi “pekerja sosialis” (misalnya, dalam satu Kolkhos) mendekati derajat pekerja industri yang lebih maju.

Ketiga, di dalam usahatani kelompok sering ideologi memegang peranan; pelaku-pelaku yang terlibat, merasa terikat oleh suatu amanat suci, yang mereka amalkan dalam satuan usahatani kelompok itu. Dalam kenyataan satu tipe dapat berjalinan dengan yang lain.

 Di dalam usaha suatu negara (atau para elite pemimpin) menggerakkan “usahatani kelompok” sebagai alat pembangunan nasional, tak pernah ada yang “bebas ideologi”. Hanya dalam hal ini perlu dibedakan antara ideologi rumusan elite suatu masyarakat (negara) dan ideologi rakyat, khususnya yang hidup di pedesaan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan