Prisma

Vietnam, Cina dan Keamanan Asia Tenggara

Pertentangan antara Cina, Vietnam, Kamboja bukanlah suatu pertentangan yang baru muncul di tahun-tahun terakhir ini. Dia telah berakar dalam pada tradisi, kebudayaan dan sejarahnya. Dan pertentangan tersebut semakin mendapatkan pengesahan baru di dalam ideologi yang dianutnya. Pemahaman dari tafsiran terhadap Marxisme ternyata tidak menyatukan negara-negara tersebut. Jeffrey Race dan William Turley melihat bahwa ketegangan yang berkepanjangan di sana amat berpengaruh terhadap negara-negara Asia Tenggara lainnya. Hampir semuanya meningkatkan kesiagaan militernya. Muangthai mendapat tambahan bantuan senjata dari Amerika. Malaysia meningkatkan angkatan udaranya sebanyak tiga kali lipat. Presiden Marcos semakin melunakkan sikapnya sehubungan dengan perundingan dengan Amerika tentang pangkalan militer. Indonesia menyiagakan 60 batalion dalam waktu satu tahun. Maka terjadilah yang paradoksal. Kekacauan yang timbul setelah Amerika diusir dari Vietnam justru mengundang kehadiran kekuatan kepentingan-kepentingan swasta Amerika di Asia Tenggara.

Pengantar

Setahun yang lalu, Asia Tenggara daratan kembali terbenam dalam kancah pertikaian. Kawasan ini adalah salah satu kawasan yang perlengkapan militernya paling besar di dunia, dan rangkaian peristiwa menunjukkan bahwa keadaannya akan makin parah saja. Sejak bulan Desember 1978, jumlah pasukan Tentara Rakyat Vietnam yang menduduki Kamboja telah berkisar antara 150.000 hingga 220.000, dan dalam beberapa keadaan unsur-unsur pasukan ini tampaknya sudah bersiap-siap untuk melancarkan serangan yang bersifat hukuman terhadap Muangthai. Muangthai telah memesan senjata dari Washington dan sedang memperbesar angkatan bersenjatanya dengan sepertiga. Malaysia, Indonesia, Amerika Serikat dan Cina telah berjanji membantu Muangthai jika ia diserang. Sementara itu Vietnam terancam secara militer oleh Cina. Setelah mengirimkan pasukan yang dikirim Vietnam ke Kamboja, Cina tetap menyiagakan beberapa ratus ribu pasukan di perbatasan utara Vietnam untuk melihat apakah Vietnam telah memahami “pelajaran” yang diberikannya. Laos yang tak punya banyak pilihan kecuali menjadi sekutu Vietnam, juga telah menjadi sasaran permusuhan Cina. Dan akhirnya, seperti yang begitu kerap terjadi manakala angkatan bersenjata menyerbu daerah-daerah pedesaan, ratusan ribu penduduk telah meninggalkan rumah mereka dengan perahu dari Vietnam dan lewat darat dari Laos dan Kamboja, untuk dikurung dalam kamp-kamp pengungsi yang jorok, di perkampungan orang miskin dan masyarakat yang tak menyukai mereka, sambil menunggu orang datang menolongnya.

Di Barat, kenyataan ini umumnya dihadapi dengan tercengang, tak acuh atau, dalam hubungannya dengan Vietnam, mempersalahkan negeri itu sendiri. Meskipun demikian kita lebih baik mempertanyakan mengapa keadaan ini sampai terjadi, dinamika-dinamika apakah yang mendasarinya, bagaimanakah akhirnya nanti, dan respons-respons apakah yang harus diberikan atasnya.

Untuk menghilangkan keraguan yang senantiasa menghantu sehubungan dengan pentingnya konflik-konflik ini, kita cukup melihat bahwa kontradiksi-kontradiksi paling tajam dari keadaan politik dunia dewasa ini telah berlangsung bukan di negara-negara kapitalis seperti diramalkan oleh Marx, melainkan di negara-negara paling berkuasa yang menganut paham Marxisme. Ketiga negara komunis terbesar semuanya terletak di Asia, dan hanya di Asialah kekuatan militer dari masing-masing negara ini, di samping kekuatan militer Amerika Serikat, saling berhadapan di wilayah daratan. Uni Soviet, berhadapan dengan sekian perubahan persepsi mengenai keamanannya akibat Deklarasi Helsinki serta normalisasi hubungan Amerika Serikat dengan Cina, berangsur-angsur telah menetapkan wilayah Asia Pasifik sebagai suatu wilayah prioritas yang hampir dipandangnya sama penting dengan Eropa. Kawasan yang memungkinkan konfrontasi langsung antara negara-negara besar telah bergeser.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan