Humor memiliki peranan sentral dalam kehidupan manusia, yakni sebagai sarana hiburan dan pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas hidup manusia. Humor tidak selamanya bersifat agresif dan radikal yang memfrustasi sasaran agresinya dan memprovokasi perubahan, serta mengecam sistem sosial masyarakat. Sementara itu, bahasa yang termasuk di dalamnya bunyi, kata, dan strukturnya merupakan refleksi realitas sosial budaya yang khas. Hal ini membawa konsekuensi sukarnya humor diterjemahkan ke dalam bahasa lain, dan dinikmati oleh orang yang memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda.
Searle di dalam buku Speech Acts mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seseorang penutur di dalam berbahasa, yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act), tindakan melakukan sesuatu (illocutionary act), dan tindakan mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act).1 Secara berturut-turut ketiga jenis tindakan itu disebut sebagai the act of saying something, the act of doing something, dan the act of affecting someone. Kalimat Ikan paus adalah binatang menyusui cenderung diucapkan oleh penuturnya untuk menginformasikan sesuatu, yakni termasuk golongan binatang apakah ikan paus itu. Kalimat Maafkan, kemarin saya tidak bisa hadir diucapkan bukan untuk tujuan memberikan informasi karena besar kemungkinan lawan bicara sudah mengetahui ketidakhadiran penutur. Kalimat ini diucapkan untuk melakukan sesuatu tindakan, yakni tindakan memohon maaf. Dilihat dari segi pertuturan (speech act)
kalimat ini sejajar kedudukannya dengan kalimat Ambilkan buku saya, Saya akan melamarmu bulan depan, dan sebagainya yang secara berturut-turut dimaksudkan oleh penuturnya untuk menyuruh dan berjanji. Tindakan memohon maaf, menyuruh, berjanji, dan beberapa jenis tindakan lain memang hanya mungkin dilaksanakan lewat bahasa bukan dengan sarana yang lain. Sementara itu, kalimat Ada anjing gila di samping diutarakan guna menginformasikan sesuatu, dipergunakan juga untuk mempengaruhi lawan bicara/pembaca, yakni memberi peringatan agar berhati-hati.
Dilihat dari fungsinya untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar, wacana2 baik lisan maupun tertulis dibedakan menjadi wacana interaktif, seperti phatic communion (wacana fatis), wacana informatif, seperti wacana ilmiah, wacana persuasif, seperti wacana iklan, pidato kampanye, dan sebagainya.3 Penggolongan ini tidak mengingkari bahwa seringkali sebuah wacana menampakkan beberapa fungsi perlu-kusioner. Wacana ilmiah populer, misalnya, di samping bersifat informatif juga bersifat menghibur untuk menarik dan mempertahankan minat pembaca.
Wacana humor,4 termasuk juga kartun yang menjadi bahan kajian tulisan ini,5 cenderung merupakan wacana hiburan karena penciptaannya ditujukan untuk menghibur pembaca di samping sebagai wahana kritik sosial terhadap segala bentuk ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat karena humor merupakan salah satu sarana yang efektif di saat saluran kritik lainnya tidak dapat menjalankan fungsinya.6
Humor adalah salah satu bentuk permainan. Sebagai homo ludens manusia gemar bermain. Bagi orang dewasa bermain adalah rekreasi, tetapi bagi anak-anak adalah sebagian dari proses belajar.7 Permainan merupakan bagian mutlak dari pribadi anak. Melalui permainan, kreativitas anak dibangunkan dan dirangsang. Melalui permainan, seorang anak dipersiapkan menjadi anggota masyarakat.8
Dengan kenyataan di atas dapat dikatakan bahwa humor memiliki peran sentral dalam kehidupan manusia, yakni sebagai sarana hiburan dan pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas hidup manusia. Hal ini agaknya tidak jauh berbeda dengan pendapat Danandjaja yang mengatakan bahwa di dalam masyarakat, humor, baik yang bersifat erotis dan protes sosial, berfungsi sebagai penglipur lara.9 Hal ini disebabkan humor dapat menyalurkan ketegangan batin yang menyangkut ketimpangan norma masyarakat yang dapat dikendurkan melalui tawa. Lebih jauh dikemukakan bahwa tawa akibat mendengar humor dapat memelihara keseimbangan jiwa dan kesatuan sosial dalam menghadapi keadaan yang tidak tersangka-sangka atau perpecahan masyarakat. Pernyataan ini sejajar dengan pandangan Wilson yang mengatakan bahwa humor tidak selamanya bersifat agresif dan radikal yang memfrustrasikan sasaran agresinya dan memprovokasikan perubahan, serta mengecam sistem sosial masyarakatnya, tetapi dapat pula bersifat konservatif yang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan sistem sosial dan struktur kemasyarakatan yang telah ada.10 Sehubungan dengan ambivalensi sifat humor ini kritik tajam yang diungkapkan oleh kartun (1) yang tampaknya sederhana boleh jadi akan terasa tidak begitu menyerang.
1 Lihat, J.R. Searle, Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language (London: Cambridge University Press, 1969), hal. 23-24.
2 Wacana adalah satuan lingual yang dalam tataran gramatikal menempati tataran yang tertinggi. Dalam perwujudannya satuan lingual dapat berupa karangan yang utuh (novel buku, seri ensiklopedia, dsb., paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap; lihat, Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, Edisi ketiga (Jakarta: PT. Gramedia, 1992), hal. 231.
3 William Brewer dan Edward H. Lichtenstein, “Stories are to Entertain: A Structural Affect Theory of Stories,” Journal of Pragmatics, 6, 1982, hal. 437; Keith Allan, “Another Analysis of The Thirsty Bull Story in Gooniyandi,” Journal of Literary Semantics, 18, 1989, hal. 118.
4 Humor adalah segala bentuk rangsangan, baik verbal atau nonverbal, yang potensial memancing senyum dan tawa penikmatnya. Senyum dan tawa merupakan indikasi yang paling jelas bagi terjadinya penikmatan humor; lihat, Mahadev L. Apte, Humor and Laughter (Ithaca: Cornell University Press, 1985), hal. 14.
5 Kartun adalah visualisasi jenaka bermuatan humor atau satir pada berbagai media masa dengan tokoh-tokoh yang bersifat fiktif. Kartun dibedakan secara tegas dengan karikatur yang tokoh (tokoh)nya merupakan tokoh tiruan dari terkenal atau orang yang lantaran peristiwa tertentu menjadi terkenal dengan ciri khas pemiuhan (distortion) wajah dan tubuh untuk menampilkannya secara humoris; lihat, G.P. Antariksa, A.B. Lapian, dan Agus Dermawan T., Ensiklopedia Nasional Indonesia, Jilid 8 (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1990), hal. 201.
6 Lihat, Toety Heraty Noerhadi, “Kartun dan Karikatur sebagai Wahana Kritik Sosial,” Majalah Ilmu-ilmu Sosial, XVI, No. 2, 1989, hal. 129-155.
7 Allan, loc.cit., hal. 119.
8 Hans Daeng, “Permainan Anak Kota dan Anak Desa,” dalam Basis, XXXI-6, 1982, hal. 212.
9 Lihat, James Danandjaja, “Humor” dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid VI (Jakarta: PT Cipta Adia Pustaka, 1989), hal. 498.
10 Lihat, Christopher P., Wilson, Jokes: Form, Content, Use and Function (London: Academic Press, 1979), hal. 3.