Prisma

Wanita dalam Revolusi

Pengalaman Selama Pendudukan dan Revolusi, 1942-1950*

Selama ini historiografi tentang zaman Pendudukan dan Revolusi Indonesia berangkat dari dan dipenuhi oleh berbagai sumber yang selalu mengedepankan peran penting yang dilakukan pria. Pertanyaan dimana atau siapa aktivis wanita saat itu seringkali dijawab dengan keharusan wanita untuk bekerja dan berperan di tempat yang memang bidangnya. Bila dikaji secara lebih kritis, wanita tidaklah sekadar menjalankan peran-peran “tradisional” itu. Anton E. Lucas, dengan melakukan metode wawancara, mencoba memperluas pemahaman masa-masa kritis itu dengan memasukkan pula pengalaman dan pengertian wanita yang terkait dengan perjuangan revolusioner.

Pada sebuah seri seminar tahunan (1979) yang diselenggarakan bersama Perhimpunan Australia-Indonesia (Australian-Indonesian Association) cabang Victoria dengan Pusat Studi Asia Tenggara (Centre for Southeast Asian Studies) Universitas Monash, sejarawati Christian Dobbin menguraikan tiga karya historis sangat terkenal tentang sejarah sosial-politik Indonesia abad ke-20.1 Ketiga karya tersebut, menurut Dobbin, mengabaikan “wanita”** sebagai bagian dari proses historis — masa awal pergerakan nasional, tahun 1930-an, dan Revolusi Indonesia — yang dibahas penulisnya.2


* Dialihbahasakan dan diberi anotasi oleh Arief W. Djati serta diperiksa ulang penulisnya.

1 Ketiga karya tersebut adalah Robert Van Niel, The Emergence of the Modern Indonesia Elite (The Hague, 1970); John Ingleson, Road to Exile: The Indonesian Nationalist Movement, 1927-1934 (Singapore, 1979); dan Benedict R. O’G Anderson, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 (Ithaca and London: Cornell University Press, 1972).

** Konon pengertian wanita berasal dari Bahasa Jawa, wanito. Kata ini diartikan sebagai “wani ditoto” (berani diatur). Implisit di sini diartikan bahwa kaum bervagina bisa dan harus diatur oleh kaum berpenis (karena hanya terdapat dikotomi jenis kelamin). Belum jelas sejak kapan kata ini tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Mungkin saja sudah ada semenjak jaman rakolonial. Dapat dicatat bahwa kata ini sempat digunakan pertama kali oleh organisasi putri Boedi Oetomo, Wanito Oetomo pada awal abad ke-20. Kata ini jelas dianggap merendahkan posisi kaum bervagina di hadapan kaum berpenis dan karena itu banyak kaum feminis lebih memilih kata perempuan untuk menyebut kaum bervagina. Pilihan kata ini didasarkan anggapan akar kata perempuan adalah “empu,” yang berarti kemandirian. Pertumbuhan dan perkembangan kata ini juga sulit dilacak. Walaupun kaum feminis sudah mendaulat kata perempuan untuk menyebut kaum bervagina, tetapi dalam realitas keseharian, kata wanita masih sangat populer. Saya mengalihbahasakan woman menjadi wanita dengan pertimbangan menghindari anakronisme. Sebab, pada masa revolusi banyak organisasi untuk kaum bervagina menggunakan kata wanita sehingga dapat disimpulkan bahwa kata wanita merupakan sebutan umum untuk kaum bervagina.

2 Christine Dobbin, “The Search for Women in Indonesian History,” dalam, Kartini Centenary: Indonesian Women Then and Now (Monash University, 1990), hal. 66. Saat mengakhiri makalahnya, Dobbin mengakui bahwa karyanya sendiri memang terpengaruh bias serupa dan menyerukan kepada kita “….untuk lain kali berbuat lebih baik.”

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan