Proses sosialisasi
Meskipun para individu yang menjadi unsur-unsur terkecil dari suatu kelompok kebudayaan atau suatu masyarakat mewujudkan gaya hidupnya sendiri yang berbeda dari individu lain dalam kelompok itu, namun suatu pengamatan yang tidak terlalu memperhatikan perbedaan individu, akan menunjukkan bahwa kelompok atau masyarakat tersebut memiliki sifat-sifat khas yang menjadikannya berbeda dari kelompok lain. Semakin homogen atau semakin kurang pluralistis suatu kelompok, maka ciri-ciri bersama yang terdapat dalam kelompok itu akan semakin banyak dan menonjol. Karena adanya ciri bersama yang merupakan ciri khas dari kelompok itu, maka sering juga dikiaskan bahwa suatu kelompok kebudayaan atau masyarakat memiliki sejenis “kepribadian”, kepribadian mana memiliki daya tahan atau daya hidup yang melebihi daya hidup para individu yang terdapat dalam kelompok/masyarakat itu sendiri.
Ciri-ciri khas yang memberi warna khusus kepada kepribadian kelompok itu, ditandai oleh beberapa nilai inti atau nilai sentral, dan nilai inti itu menjadi fokus dari hal-hal yang dijunjung tinggi dalam kelompok/masyarakat itu. Nilai-nilai atau hal-hal yang dijunjung tinggi itu menjadi langgeng, karena generasi tua memupuk atau mewariskan nilai-nilai yang dianut kepada generasi yang sedang berkembang. Penyampaian nilai-nilai itu terjadi pada setiap generasi, sehingga dengan demikian suatu kebudayaan bertahan terus.
Proses pengasuhan nilai-nilai itu, yang sering dinamakan proses sosialisasi, sebenarnya adalah proses yang dilalui oleh anggota-anggota masyarakat di mana mereka memperoleh kesempatan untuk belajar menjadi anggota yang cara berlakunya dan cara berfikirnya mengikuti norma-norma yang didukung oleh masyarakat/kelompok yang bersangkutan. Melalui proses itu, seseorang menjadi orang Jawa–bila dia dibesarkan untuk mengindahkan norma-norma kelompok Jawa–menjadi orang Menado, menjadi orang Batak dan seterusnya. Para pengasuh memilih nilai-nilai yang didukung oleh kelompoknya, dan nilai-nilai itulah yang ditanamkannya kepada anak didiknya. Pemilihan itu, bukanlah suatu tindakan yang direncanakan dengan teliti tetapi lebih banyak terjadi secara tidak sadar, karena para pengasuh juga telah menerima nilai yang didukungnya dari orang tuanya secara tidak sadar juga. Bila yang diwariskan adalah nilai-nilai yang mengutamakan kehalusan dalam cara berlaku, maka tentulah sifat-sifat yang menunjukkan kekerasan tidak cocok dalam kelompok yang mengutamakan kehalusan itu.