Kenyataan bahwa banyak novel yang bernada sentimental telah menjadi buku terlaris. Sentimental tidak selalu berkonotasi negatif dan sebagian pengarang merasa bahwa melalui pengisahan tokoh-tokoh wanita dalam dunia yang riil, ditindas, baik oleh pria dengan siapa mereka berhubungan maupun oleh aturan-aturan dalam masyarakat yang didominasi kaum pria, dapat membangkitkan kesadaran para pembaca.
DALAM tahun-tahun terakhir ini kata “sentimental” telah memperoleh konotasi yang negatif. Banyak kritikus sastera dan mereka yang memiliki pandangan tinggi dalam kesusasteraan, menganggap sentimental sebagai sesuatu yang irrasional. Novel yang sentimental dianggap tak pantas untuk dipertimbangkan, walau banyak novel yang sentimental merupakan best-seller. Kenyataan ini mungkin mendorong orang untuk mengaji sastera sentimental.
* Artikel ini didasarkan atas BA. Honours: Thesis saya, The Forgotten Feeling: Sentimentality in the Works of the Javanese Writer Yunani, University of Sydney, Australia, October, 1983.