Prisma

Yang “Pop” dan “Tinggi” dalam Humor

Saya tidak ingin memperluas kebingungan dengan mencoba membuat definisi lain lagi tentang kultur pop. Tapi sekali kita berani menggunakan suatu istilah tertentu, tentu kita harus mampu mempertanggungjawabkan maksud kita akan istilah tersebut. Yang saya mau bicarakan adalah istilah “pop.” Kata ini merupakan singkatan santai dari “populer,” makna lain apapun yang selanjutnya orang ingin terapkan terhadapnya. Kata “populer” mengandung unsur populus dari bahasa Latin, atau rakyat banyak. Maka istilah “pop” atau “populer” haruslah melibatkan khalayak yang cukup luas. Dan kebudayaan yang diberi predikat “pop” haruslah kebudayaan yang dianut atau digemari oleh masyarakat luas, untuk dibedakan dari yang disukai sekelompok kecil golongan atas.

Di Barat, seni populer dipertentangkan dengan seni tradisionil. Secara historis, bahkan katanya seni populer justru merupakan reaksi terhadap seni yang digemari kelompok elit, kaum bangsawan. Meskipun begitu, apa yang pada satu saat disebut seni populer, beberapa waktu kemudian bisa saja menjadi “klasik”—yang lantas dipertentangkan kembali dengan suatu seni populer yang baru. Misalnya drama Shakespeare, atau walsa Johann Strauss, yang pada waktu munculnya dianggap konsumsi rakyat, tentu sekarang sulit sekali digolongkan pop.

Tapi, dasar orang, tidak puas kalau tidak njlimet, terhadap seni yang digemari khalayak luas itu masih mau ditaruh pembedaan lebih lanjut. Seni populer masih mau dibagi lagi menjadi seni rakyat atau folk art dan seni pop. Seni rakyat, maksudnya adalah kesenian yang berakar pada rakyat, lahir secara spontan, tumbuh dari bawah dan dari dalam. Sedang seni pop adalah seni yang dibikin dari luar, dan disebarluaskan lewat media massa, dilantarkan lewat teknologi. Musik country di Amerika Serikat, paling tidak dalam bentuk aslinya, adalah musik rakyat, karena menyebar secara alamiah. Rock ‘n’ roll sebaliknya, adalah musik pop, karena diproduksi secara massal dan disebarkan lewat sarana teknologis. Bagaimanapun, keduanya masih memenuhi persyaratan seni populer, yaitu punya khalayak penggemar yang luas.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan