Arianto Sangadji
dilahirkan di Tidore, Maluku. Aktivis dan peneliti ini menaruh perhatian pada sengketa-sengketa terkait modal raksasa di bidang sumber daya alam dan kekerasan bertopeng agama dan suku. Koordinator Walhi Sulawesi Tengah (1992-1994) dan mantan Direktur Yayasan Tanah Merdeka, Palu, ini memperoleh gelar Sarjana Sosiologi dari Jurusan Sosiologi, Universitas Tadulako, Palu, dan gelar Master bidang Social and Political Thought dari University of Birmingham, Inggris, dengan tesis berjudul “Marxism in the Era of Post-Communism in Indonesia.” Menulis banyak buku dan artikel, antara lain, PLTA Lore Lindu: Orang Lindu Menolak Pindah (2000); Masyarakat dan Taman Nasional Lore Lindu (2004); bersama Tania Murray Li dan Alexander Pelletier, “Unfree Labour and Extractive Regimes in Colonial Java and Beyond”, dalam Development and Change (2016); “All About the Poor: An Alternative Explanation of Poso Violence”, dalam David Webster (ed.), Flowers in the Wall: Memory, Truth and Reconsiliation in Timor-Leste, Indonesia and Melanesia (Calgary: University of Calgary Press, 2017). Saat ini, aktivis penggerak perdamaian dan rekonsiliasi di Poso, Sulawesi Tengah, pembentuk Badan Rehabilitasi Konflik Poso, serta mediator kalangan muda Poso untuk bersatu membendung isu konflik agama ini, tercatat sebagai kandidat PhD di Department of Geography, York University, Toronto, Kanada, dengan judul disertasi “State and Capital Accumulation in Indonesia.”