Pasti banyak pembaca yang heran, mungkin juga gusar, mengapa jurnal Prisma jadi begitu “tidak ilmiah” dengan menyajikan nomor tentang sex ini? Jawabannya jelas: karena Prisma bukan jurnal pengetahuan sosial yang munafik, terutama terhadap kenyataan-kenyataan yang jelas ada dan hidup dalam masyarakat kita. Sebab, secara terselubung atau hanya samar-samar, persoalan sex selalu menampakkan diri dalam setiap problem keluarga, dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sex muncul jadi persoalan di sekolah, perdebatan di pengadilan, di mesjid dan gereja, bahkan seringkali berperan di balik transaksi bisnis dan percaturan politik. Melalui media komunikasi massa, sex lebih dahsyat lagi dipamerkan untuk konsumsi masyarakat luas. Sebagai gejala kemasyarakatan, masalah sex sebenarnya sulit dipisahkan dari sistem nilai masyarakat atau bahkan kultur suatu bangsa.
Atas dasar itu—dalam kegersangan data, bahan dan risiko cemooh masyarakat—Prisma memberanikan diri menyajikan nomor ini, dengan tema: “Sex dan Masyarakat, Potret Perbenturan Nilai”. Oleh karena dengan kemajuan teknologi komunikasi massa, dengan adanya program keluarga berencana yang dilaksanakan secara massal, dengan pesatnya perubahan zaman, masalah sex agaknya tidak cukup bisa dibahas apalagi dipecahkan dengan berbisik-bisik di balik pintu tertutup atau antara kalangan terbatas saja. Problem sexualitas tidak cukup hanya didekati dari aturan-aturan normatif belaka. Perkembangan masalah sex makin menunjukkan dimensi yang kian kompleks dan meluas. Sebab interdependensi kulturil yang sangat kuat di antara masyarakat dunia dewasa ini—akibat pesatnya komunikasi massa—membawa efek pada mudah dan cepatnya frekwensi pertemuan unsur-unsur luar dengan sikap-budaya masyarakat setempat. Nilai-nilai lama dengan cepatnya terus menerus berbaur dengan unsur dan pandangan baru. Hal ini langsung atau tak langsung membawa perubahan pada moralitas sexuil yang berlaku, dan pada gilirannya merubah nilai-nilai masyarakat umumnya. Kehamilan di luar perkawinan, abortus, soal anak jadah, wabah pornografi, berkembangnya industri sex, sikap kaum muda yang kian longgar, meningkatnya kriminalitas sexuil, efek-efek sampingan keluarga berencana, adalah sebagian dari gejala dan masalah-masalah sosial yang makin menonjol di abad mutakhir ini di dalam konteks nilai-nilai masyarakat—terutama di kota-kota besar—yang semakin kabur.
Bagaimana pemuka masyarakat, para ahli dan pejabat yang kompeten menanggapi gejala sosial tersebut? Jelas mereka tidak bisa berdiam diri, pura-pura tak tahu, sementara masalahnya menggelinding semakin serius. Jelas pula masalahnya tak bisa dipecahkan dengan hanya menuding kesalahan “pengaruh luar”, “kebudayaan Barat”, dan sikap-sikap lain yang serba menghukum, menurut dogma-dogma yang serba kaku. Tidak pula soalnya mampu diselesaikan hanya lewat pendekatan teknis-pragmatis. Suatu pandangan menyeluruh berdasarkan pendalaman masalahnya secara sistematis dan mendasar, agaknya perlu segera dilakukan dengan bimbingan kebijaksanaan pemerintah yang tepat. Di sini perlu keterlibatan dan tanggung jawab para ahli dari berbagai disiplin, agar tidak hanya menjadi penonton bisu menyaksikan proses perubahan masyarakat itu hanya dari atas balkon akademis yang steril, hanya karena kuatir “kotor” atau karena masalah sex dianggap punya konotasi “vulger” dan tidak layak ditangani oleh “orang-orang sopan”.
Dalam hubungan ini Prisma mencoba merintis pembahasan gejala sex dalam masyarakat itu dari beberapa aspek permasalahannya saja, dengan mengundang beberapa orang ahli yang telah menunjukkan minatnya ke sana. Di sini dapat diikuti pembahasan aspek bio-sosial (MAW Brouwer), aspek psiko-sosial (Saparinah Sadli dan Zainul Biran), segi sosio-demografis (Masri Singarimbun), aspek edukatif (Suwarsih Warnaen) dan tinjauan sosio-ekonomis (Daniel Dhakidae), di samping rubrik “dialog” menampilkan pandangan beberapa tokoh masyarakat yang berhubungan dengan masalah sex dan pornografi.
Barangkali akan timbul kontroversi dalam hal ini. Namun itu hanya akan membenarkan dugaan kami bahwa memang ada “perbenturan nilai” di sini.