Prisma

Dialog antar Generasi

Sejarah bisa juga dilihat sebagai estafet antar generasi. Ia meliskan bagaimana masing-masing generasi menjawab tantangan zamannya, memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, atau menundanya untuk generasi berikutnya. Dalam proses kesejarahan yang berlanjut itu barangkali akan nampak juga corak-corak khas dari suatu generasi, dan bagaimana hubungan antar generasi itu, ketika corak dan pola mereka mulai agak berlainan. Atau suatu generasi tidak bisa menjadi lain lagi dari generasi sebelumnya dan hanya menjadi epigon saja. Tentu, potret generasi ini tidak bisa merupakan suatu gambar utuh yang tiada kekurangannya. Mungkin malahan lebih mirip sketsa kasar. Tetapi relevansinya dalam suatu telaah sejarah tak bisa diabaikan begitu saja.

Dalam rangka mengungkap masalah inilah Prisma melakukan rangkaian dialog dengan sejarawan dan beberapa orang yang mungkin bisa dianggap sebagai salah seorang eksponen dari suatu generasi. Wawancara dilakukan dengan Brigjen. Drs. Nugroho Notosusanto, Direktur Pusat Sejarah ABRI, yang sebagai sejarawan dan sastrawan memiliki wawasan umum tentang generasi-generasi dalam sejarah nasional kita. Mohammad Natsir, yang sebagai tokoh Masyumi seringkali hadir dalam proses pembuatan keputusan politik pada masa perjuangan kemerdekaan-pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Sjahrir II dan Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan-mungkin bisa mengutarakan penghayatannya sendiri tentang interaksi antar generasi waktu itu. Demikian juga B.M. Diah, yang menjelang kemerdekaan ikut aktif dalam pergerakan pemuda dan menjadi salah seorang tokoh Angkatan Baru. T. Mulya Lubis adalah produk masa kini; dan ini menyebabkan wawasannya tentang generasi bertolak dari suatu pengalaman tersendiri, yang sedikit atau banyak mencerminkan zaman yang melingkungi generasinya.

Dalam suatu ukuran yang sangat kecil, dialog kita kali ini barangkali bisa juga dianggap sebagai dialog antar generasi, yang memang tidak menghasilkan apa-apa, kecuali sketsa-sketsa sederhana. Namun barangkali tiada lukisan besar yang tidak dimulai dengan corat-coret sederhana. Dan apakah akan ada lukisan besar atau tidak, sejarah jugalah yang akan menjawabnya.-Redaksi.

Generasi, sejarah dan pewarisan nilai, Nugroho Notosusanto

Istilah generasi sebenarnya hanya merupakan konstruksi fikiran untuk menjelaskan fenomena kesejarahan. Sudah barang tentu ukuran validitasnya tidak bisa ditetapkan atas dasar patokan yang tegar dan kaku. Kalaupun saya mengatakan generasi itu adalah mereka yang dilahirkan pada masa yang hampir sama, itu tidak berarti bahwa faktor usia bisa dipakai sebagai patokan yang absolut. Demikian juga kalau saya menganggap masa 33 tahun sebagai periode yang lazim untuk pergantian satu generasi ke generasi berikutnya. Semuanya hanya dimaksudkan sebagai ancar-ancar yang bisa kurang atau lebih. Apa yang penting adalah bahwa pada suatu generasi itu umumnya terdapat kesamaan wawasan yang timbul karena rasa kesezamanan, kesamaan dalam memandang sesuatu dan kesamaan dalam tingkah laku. Kesamaan inipun tidak bisa diartikan terlalu mutlak, sebab bagaimanapun antara orang perorang bisa timbul perbedaan-perbedaan. Namun jika suatu generasi dibandingkan dengan generasi yang mendahului atau yang timbul sesudahnya, ciri-ciri khasnya akan segera nampak. Sebab masing-masing generasi membawa kondisi yang khas dari zamannya sendiri. Pengertian generasi itu sebenarnya lebih berlaku untuk kelompok inti yang menjadi panutan masyarakat zamannya, yang dalam suatu situasi sosial dianggap sebagai pimpinan atau paling tidak penggaris pola zamannya (pattern setter). Atas dasar konstruksi pengertian seperti inilah, saya menganggap adanya tiga generasi yang timbul sejak Kebangkitan Nasional kita, yakni generasi 20-an, generasi ’45 dan generasi ’66.

Perbedaan generasi: antara pengamatan dan penghayatan, Moh. Natsir

Bagi orang yang menghayati peristiwanya sendiri, perbedaan outlook antar generasi sesungguhnya tidak begitu terasa. Lain halnya dengan orang yang hanya mengamati. Soal revolusioner atau non-revolusioner, soal radikal atau moderat, saya rasa tak begitu langsung mencerminkan demarkasi antara angkatan muda dan golongan tua. Sebab selalu ada saja golongan tua yang radikal atau golongan muda yang moderat. Saya rasa dalam hal ini tak begitu mudah untuk membuat generalisasi.

Masalah begitu besar, tapi generasi muda tak cukup siap B.M Diah

Pembagian generasi sebagai suatu pemahaman sejarah dapat dilihat dari peranan golongan elite pada zamannya. Dalam pengertian sosiologis dan politis elite adalah the ruling class, suatu golongan yang memegang kekuasaan baik secara formil maupun informil dalam suatu strata sosial. Dengan kedudukannya itu mereka dapat mempengaruhi perkembangan masyarakat, dalam suatu hubungan yang sifatnya timbal balik. Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa elite itu adalah produk dari masyarakatnya. Demikian juga antara elite dengan elite sesudah atau sebelumnya senantiasa ada interkomunikasi, sehingga kreasi ataupun semangat dari suatu generasi dilanjutkan atau dijelmakan ke dalam bentuknya yang baru oleh generasi berikutnya.

Dengan titik tolak ini marilah kita lihat beberapa generasi dan mencoba memahami peranannya dalam sejarah: generasi ’08, generasi ’28, generasi ’45 dan generasi ’66. Kita melihat generasi ’08 telah membangkitkan kesadaran nasional dalam kehidupan Bangsa. Dinamik dari spirit itu bergerak terus dan mendapatkan bentuknya yang lebih nyata dalam Sumpah Pemuda yang dicetuskan generasi ’28. Generasi ’45 memasuki fase baru yang merupakan pelaksanaan cita-cita Sumpah Pemuda: Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa. Cita-cita ini sesungguhnya merupakan atribut bangsa merdeka yang ketika itu masih kosong, masih merupakan ideal. Generasi ’45 ingin menterjemahkan dengan memproklamasikan kemerdekaan agar lahir Indonesia yang merdeka berupa Negara Kesatuan, Negara Demokrasi dan Negara Keadilan Sosial.

Perbedaan antar generasi: cukup mendasar T. Mulya Lubis

Saya tidak sependapat dengan pembagian generasi dalam penulisan sejarah nasional kita. Apa yang ditulis dalam buku-buku sejarah yang pernah dipelajari, tidak sepenuhnya dapat menggambarkan pembagian generasi itu. Saya curiga apakah ada rasa kesadaran sejarah di kalangan generasi muda. Kalaupun ada pembagian generasi 20-an, ’45 atau ’66, saya takut itu hanya dapat ditangkap oleh sekelompok kecil saja. “Generasi muda merasa asing, tidak intens dan miskin dengan penghayatan sejarah”. Buku-buku sejarah yang pernah ditulis tidak mampu menjelaskan dan memperinci ciri-ciri masing-masing generasi. Hal ini tidak lain karena terjadinya alienasi sejarah dalam sistem pendidikan formil kita sejak dulu. Pemahaman kita terhadap sejarah mungkin terbatas hanya pulau Jawa atau Jakarta saja. Bagaimana dengan kota-kota dan desa-desa kecil di daerah pedalaman? Betapapun, kemiskinan penghayatan terhadap sejarah nasional kita sudah merupakan suatu bahaya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan