Prisma

Pengantar Redaksi

Dunia ini dibangun di atas cucuran kerangat kaum pekerja. Demikianlah keringat mereka telah membasahi semua lambang kemegahan peradaban: piramida, menara Pisa, Angkor Wat dan juga Borobudur. Kaum proletar Roma, tawanan perang dan budak-budak belian adalah contoh lain dari tebusan yang harus dibayar demi kejayaan budaya, kebesaran raja dan kenikmatan warganegara istimewa. Kenyataan ini tak juga hilang bahkan setelah manusia membangun peradaban modern. Revolusi industri dibayar dengan upah besi dan modernisasi belahan bumi Selatan agaknya mengikuti tendensi yang hampir sama. Sementara itu kalau terjadi resesi atau kebangkrutan ekonomi, kaum pekerja juga yang harus menebusnya: mereka dilempari ke luar pabrik tak ubahnya seonggok sekrup yang tak lagi berguna. Pendeknya, kaum pekerja telah menjadi lambang dari ironi besar: mereka menciptakan kemakmuran, tetapi tak puas mengenyam; mereka membangun kemegahan peradaban tetapi harus tinggal di sudut yang paling kelam.

Kata orang, semuanya ini terjadi karena perimbangan yang salah: penawaran tenaga kerja melebihi permintaan terhadapnya. Konsekwensinya adalah upah rendah, pengangguran dan kemiskinan. Dan karena ekonomi klasik menganggap permintaan penawaran ini sebagai hukum tunggal, maka tak ada lagi yang bisa diperbuat. Juga masyarakat tradisional tak punya resep lain kecuali menyembunyikan kelebihan penawaran itu dalam pengangguran tersebut. Inilah yang membangkitkan peradaban modern. Revolusi industri dibayar dengan upah besi dan modernisasi belahan bumi Selatan agaknya mengikuti tendensi yang hampir sama. Sementara itu kalau terjadi resesi atau kebangkrutan ekonomi, kaum pekerja juga yang harus menebusnya: mereka dilempari ke luar pabrik tak ubahnya seonggok sekrup yang tak lagi berguna. Pendeknya, kaum pekerja telah menjadi lambang dari ironi besar: mereka menciptakan kemakmuran, tetapi tak puas mengenyam; mereka membangun kemegahan peradaban tetapi harus tinggal di sudut yang paling kelam.

Yang disebut orang dengan bazaar economy atau “sektor informil”. Sektor ini makin lama makin membesar, hingga orang sering mengkawatirkan terjadinya ledakan.

Injeksi sektor modern ternyata tak sanggup memecahkan masalah ketenagakerjaan. Sebab pembangunan selama ini lebih di mengerti sebagai proses mengejar tingkat pertumbuhan, di mana perluasan kesempatan kerja hanya menjadi “produk samping” saja. Kinipun, setelah Dasawarsa Pembangunan Kedua mencanangkan perluasan kesempatan kerja, pemenuhan kebutuhan pokok dan perataan pendapatan sebagai sasarannya, orang masih bertanya-tanya tentang implementasinya. Orang cemas, kalau semua ini hanya merupakan pergantian “pradigma” belaka, suatu “pleidooi” baru untuk kegagalan yang tak bisa dibiarkan terus menganga.

Dengan penyajian nomor ini, Prisma mengajak pembaca menyusuri liku-liku persoalan tenaga manusia dalam kancah pembangunan ini, yang tentu saja tak layak lagi diperlukan sebagai sekrup atau mesin pengejar pertumbuhan. Komitmen kepada kesejahteraan manusia, kepada perluasan kesempatan kerja, kelihatannya perlu didahulukan, baik dalam perencanaan proyek, penentuan alokasi investasi, maupun dalam mengelola peralatan kebijaksanaan makro. Barangkali komitmen demikian bisa mencegah perlunya pemecahan dengan cara radikal. Sebab menurut cara ini, jika mata anda sakit parah, maka satu-satunya penyembuhan adalah dengan membongkarnya sama sekali. Dan bukankah itu tidak diingini?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan