Prisma

Kegiatan Ilmiah & Seminar Pembinaan komprehensif industri kecil

Agar dapat memecahkan persoalan industri kecil dan kerajinan secara mendasar, diperlukan suatu model pembinaan yang komprehensif dan terintegrasi. Pola pelaksanaan model tersebut dapat dijalankan melalui kordinasi kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan yang dilakukan berbagai instansi yang bergerak di sektor tersebut, atau dilaksanakan oleh suatu badan khusus yang dibentuk untuk keperluan itu dan didukung oleh berbagai instansi yang ada.

Demikian salah satu kesimpulan lokakarya Bimbingan Industri Kecil dan Kerajinan yang diadakan pada tanggal 20-23 Agustus 1976 yang lalu di Jakarta. Lokakarya ini diselenggarakan atas kerjasama Direktorat Jendral Aneka Industri dan Kerajinan, Departemen Perindustrian, dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).

Selanjutnya, lokakarya itu merumuskan bahwa model pengembangan komprehensif itu akan bergerak pada bidang-bidang pengorganisasian pengrajin, pemasaran, teknologi dan permodalan. Sedangkan materi pembinaan meliputi management, disain, bahan baku, kredit, informasi dan perundang-undangan. Bagi keperluan pemberian materi itu digunakan bentuk-bentuk kegiatan seperti pendidikan dan latihan, feasibility study, bimbingan dan penyuluhan, bantuan konsultasi teknis, management dan lain-lain. Agar pengembangan sektor tersebut dapat mencapai tingkat yang diharapkan, maka dalam pelaksanaannya modal itu dilengkapi dengan instrumen-instrumen pusat pelayanan (service center), pasar kerajinan, lembaga-lembaga keuangan, BUUD/KUD dan sebagainya.

Khusus mengenai pusat pelayanan, menurut konsep itu adalah suatu organisasi yang bertugas antara lain untuk memberikan jasa dalam bidang pendidikan dan latihan, penelitian, pengawasan produksi, introduksi teknologi baru dan lain-lain. Sedangkan pasar kerajinan merupakan wadah mereka yang bergerak di bidang kordinasi pemasaran hasil produksi sektor industri kecil. Badan ini bertujuan meningkatkan volume penjualan, menstabilisir harga produksi, dan mengusahakan barang yang diprodusir sesuai dengan selera pasar.

Sebelum lokakarya, telah diselenggarakan observasi di tujuh sentra pengembangan yakni Cibaduyut, Jepara, Magetan, Palembang, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Aceh. Hasil dari observasi itu antara lain menyimpulkan bahwa kordinasi antar instansi nampaknya masih belum dapat dilakukan sebagaimana diharapkan. Walaupun di daerah sudah terbentuk suatu Team Pembina, yang anggota terdiri dari Pemerintah Daerah, Direktorat Koperasi, BRI, Dinas Perindustrian, Kabupaten dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena partisipasi para anggota sangat terbatas mengingat waktu mereka banyak dicurahkan untuk menangani tugas-tugas rutin, di samping keterbatasan dana. Hal ini sangat mengganggu dalam proses pengembangan industri kecil dan kerajinan di daerah.

Lokakarya diadakan dengan tujuan untuk mempelajari dan menilai kembali keseluruhan kegiatan yang telah dilakukan dalam program bimbingan, pembinaan dan pengembangan, khususnya di tujuh sentra pengembangan tersebut. Pada kesempatan itu telah dibahas delapan kertas kerja, antara lain dari Ir. Toebin mengenai “Pola Pengembangan Industri Kecil dan Kerajinan”, Ir. S. Sudarmadi M.Sc “Pendekatan Sosiologis dalam Pengembangan Industri Kecil dan Kerajinan”, Ir. Tawang Alun “Pusat Pelayanan sebagai Alternatif Usaha Bimbingan Industri Kecil dan Kerajinan”, Drs. Dorodjatun Kuntjoro Jakti MA “Prospek Industri Kecil dan Kerajinan dalam Perkembangan Ekonomi di Indonesia”.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan