Prisma

Pengantar Redaksi

Kalau kali ini Prisma mengetengahkan edisi tentang peranan cendekiawan, bukanlah maksudnya untuk memperdengarkan lagu-lagu pujaan. Sebaliknya, kita justru ingin mempertanyakan sampai di mana peranan cendekiawan bertumpu pada panggilan kecendekiawanan yang sebenarnya.

Sebagai lapisan terpelajar di antara jutaan orang yang kurang atau tidak berpendidikan, cendekiawan memang memperoleh kehormatan yang khusus. Tetapi juga dalam gambaran tradisionil, cendekiawan menduduki tempat yang amat terhormat. Demikianlah misalnya diceriterakan bahwa pusaka terampuh dalam pewayangan tidak berbentuk senjata, tetapi secarik kertas yang disebut Serat Kalimasada. Raja yang dianggap besar adalah Pandita Ratu, yang tidak saja berkuasa, tetapi juga cendekia. Tersirat di sini semacam anggapan, bahwa pengetahuan dan kebijakan adalah kunci kepada kekuasaan dan pengaruh. Demikianlah cendekiawan adat menjadi literati, pujangga dan bagian dari susunan yang “mapan”.

Tetapi kemapanan bisa juga terbentuk dalam ilmu pengetahuan yang modern sekalipun. Dalam suatu buku yang melawan arus—Against the Stream—Gunnar Myrdal menulis, bahwa ada kecenderungan pada teori ekonomi dan sekumpulan cara pendekatan tertentu untuk menjadi dominan dan menguasai perbincangan keilmuan. Di sekitarnya berhimpun para pendukung yang saling memperteguh dan mengutip satu sama lain serta memperoleh puji-pujian karena tulisan-tulisan itu. Gagasan dan penemuan baru diperkenankan, asal masih berada dalam lingkungan teori umum yang sudah diterima. Maka lahirlah semacam isolasi yang cenderung untuk menyingkirkan “penyeleweng” dan “pemberontak” yang mencoba mempertanyakan kembali teori itu secara radikal. “Saya sadar sekali”, demikian Myrdal, “bahwa seringkali saya tak dianggap sebagai anggota dari profesi ekonomi yang sudah mapan … seperti halnya Galbraith yang menulis begitu tegas dan lancar dalam bahasa Inggeris, kadang-kadang secara kasar diklasifikasikan sebagai jurnalis. Tetapi kami bersikeras untuk menganggap ekonomi bidang studi kami”. Myrdal tidak sendirian. Baru-baru ini majalah American Scholar telah menyelenggarakan suatu simposium ahli-ahli ilmu sosial di antaranya tak kurang dari Daniel Moynihan dan Morris Janowitz yang terkenal itu—untuk menanggapi tulisan Robert Nisbet mengenai pemakzulan pengetahuan dari takhtanya (“Knowledge Dethroned“). Nisbet dikutip sebagai mengatakan bahwa “semangat yang asing, malahan arogansi, sedang melanda berbagai disiplin ilmu pengetahuan”. Ahli-ahli dari disiplin ini telah “memainkan peranan sang pendeta dalam suatu gereja baru yang bernama ilmu pengetahuan”. Dan kepongahan sementara ahli bahwa mereka mampu memecahkan berbagai masalah perekonomian, kemiskinan, perkotaan, kriminalitas dan berbagai ketegangan sosial dengan rumusan “ilmiah” asal ada cukup dukungan, telah tertumbuk pada kegagalan. Akibatnya, banyak kalangan mulai meragukan keampuhan penyelesaian “ilmiah” itu, yang karena mengatas namakan “kebenaran” seolah-olah tak bisa lagi diganggu-gugat.

Maka, orangpun dipaksa untuk kembali bertanya. Dan bukankah kesediaan untuk terus bertanya ini yang merupakan ciri hakiki dari cendekiawan? Socrates menjadi martir tidak saja karena berani menerima kematian demi kebenaran, tetapi juga karena ia mempertahankan haknya untuk terus bertanya, menyelidik, mempersoalkan. “Jikalau kau katakan padaku, Socrates, kali ini kau dibebaskan asal tidak lagi bertanya atau melakukan spekulasi …” demikian katanya dalam apologi di depan pengadilan Athena, “maka ketahuilah bahwa aku tak akan merubah haluan, bahkan sekalipun aku harus mati berkali-kali”. Socrates dihukum karena selalu bertanya, dan karena pertanyaannya mengusik kebenaran serta kepercayaan yang sudah mapan. Namun ia telah menjadi teladan dari kecendekiawanan sejati. Sebab, cendekiawan akan berhenti menjadi cendekiawan, kalau ia berhenti bertanya. Kalau ia tak lagi mencari. Barangkali tak banyak bedanya, apakah itu disebabkan oleh rasa takut, atau karena merasa diri “sudah sampai”.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan