Dominasi dan eklusivisme minoritas
Saya membaca Prisma edisi “Integrasi Nasional di Tengah Persaingan Kesetiaan” (No. 10/Agustus 1976) dengan penuh perhatian. Sehubungan dengan itu saya menyampaikan beberapa catatan.
Saya kira semua orang Indonesia setuju dengan membangun nasion dan memupuk kesetiaan kepada Negara. Yang menjadi persoalan adalah cara, siasat ataupun perencanaannya.
Pada tahun 1972, dimulai tanggal 23 Oktober, harian Indonesia Raya membuka forum simposium yang masalahnya sama dengan topik pembahasan Prisma, dengan judul “Dialog antara Mayoritas dan Minoritas”. Di dalam simposium itu, di samping ada suara-suara yang emosional dan tidak ilmiah, banyak juga ide-ide baik dan dialog ilmiah yang pantas dipertimbangkan. Sayang, Prisma tahun 1976 tidak menyinggung hasil simposium itu. Apakah ini memang menjadi ciri ilmu sosial masa kini, yaitu “tidak menyinggung karya-karya fikiran sarjana-sarjana lain”? Kalau benar, maka sebenarnya ilmu sosial kita kurang ilmiah (scientific). Ataulah kurang bebas? Saya catat juga, bahwa mengutip fikiran-fikiran sarjana lain lebih disukai daripada mengutip fikiran sarjana-sarjana kita sendiri. Sekalipun demikian ada bukti-bukti bahwa simposium 1972 juga dibaca oleh sarjana-sarjana penulis Prisma No. 10/Oktober 1976.
Penggunaan istilah “ekslusivisme” sebagai pengganti “rasialisme” yang pertama kali dilansir Simposium 1972, merupakan bukti bahwa ide-ide tersebut diketahui. Rasialisme tidak ada di Indonesia. Semua ras dan suku hidup rukun bersama. Yang ada adalah persaingan ekonomi, dan dominasi ekonomi oleh suatu minoritas yang menimbulkan rasa tidak senang pada mayoritas (seperti dikemukakan Dr. Mely G. Tan). Kedudukan dominasi ekonomi minoritas itu menyebabkan timbulnya sikap ekslusivisme, untuk menjaga dominasi mereka jangan sampai dimasuki oleh unsur-unsur lain yang memudahkan dominasi ekonomi mereka.
Suatu suara penting lain dari Simposium 1972 adalah dari Bachtiar Djamily: (Indonesia Raya, 2-9-1972, “Masalah Bumiputera dan Non-Pribumi”). Di situ Djamily membandingkan keadaan Malaysia dan Singapura. Di Singapura bumiputera alias anak negeri habis hijrah ke Semenanjung dan Singapura menjadi negara Cina. Di Malaysia anak negeri masih mayoritas tetapi hanya menjadi lapisan bawah. Ekonomi di dominasi Cina. Apakah tidak patas kita juga memikirkan kemungkinan nisib yang sama untuk Indonesia?
Kemudian ada juga karangan dari Ruslan Abdulgani dalam harian Merdeka tentang “The Silent Flood”, yaitu bahwa majunya golongan Cina di seluruh Asia Tenggara atau Nan Yang laksana banjir yang datangnya diam-diam, tetapi tahu-tahu sudah melanda di atas hidung kita.
Menurut gagasan itu Cina di Nan Yang (Asia Tenggara) sudah terlepas dari RRC Komunis. Mereka merupakan bangsa tersendiri, yang di mana-mana dengan diam-diam merebut dominasi ekonomi. Hal ini terlihat di Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Birma dan Indonesia. Barangkali juga di Filipina.