Prisma

Pengantar Redaksi

Kemakmuran akan mulai, demikian konon diramalkan dalam “jongko Joyoboyo”, kalau tanah Jawa sudah dikalungi besi. Apakah ini berarti jalan kereta api yang—seperti dikatakan oleh Rostow—telah memainkan peranan penting dalam masa “tinggal landas” ekonomi Amerika, Rusia dan juga Jepang? Ataukah ini berarti telah dipenuhinya Jawa dengan pabrik-pabrik dan cerobong asap yang menandai jaman industri? Bagi penganut “ideologi industrialisasi” barangkali memang demikianlah agaknya. Bagi mereka ini, keterbelakangan ekonomi adalah kata lain dari “terlalu sedikitnya industri”. Sebab demikianlah yang telah diajarkan oleh sejarah: negara maju adalah negara yang telah meninggalkan struktur pertanian untuk memasuki jaman industri.

Tetapi pengalaman beberapa negara berkembang selama ini menunjukkan bahwa tak gampang mengoper begitu saja contoh sejarah. Barangkali karena sejarah memang tak pernah berulang. Struktur ekonomi agrari yang berorientasi kepada ekspor bahan mentah, ternyata lebih dahulu menghasilkan kota-kota besar yang dominan, di mana “peradaban maju” mulai berkembang, di mana sektor jasa dan perdagangan tumbuh lebih pesat daripada industri dan manufaktur. Peradaban kota pra-industri telah menjadi sophisticated dalam waktu yang terlalu pagi, dan hanya bisa memulai industrialisasi dengan industri pengganti impor. Sebab melalui “efek pamer” telah ditularkan pola konsumsi masyarakat maju, dari kulkas, TV, mobil luks, sampai dari dan minuman keras. Dan karena mereka inilah yang dalam praktek memiliki cukup daya beli, maka industri pun harus mengikuti pola itu. Bukankah begitu yang dikehendaki oleh logika ekonomi pasar?

Tetapi pertumbuhan demikian bisa menimbulkan kesan, bahwa industri tidak melayani kebutuhan rakyat banyak. Inipun harus dibayar mahal sekali melalui tembok tarif, ketergantungan pada bahan-bahan baku luar negeri, sejumlah salah alokasi sumber-sumber, dan tak terpecahkannya masalah pengangguran. Yang paling menyedihkan adalah makin lebarnya jarak kemakmuran, karena lingkaran kecil industri hanya diabdikan kepada lingkaran kecil masyarakat yang berkelimpahan.

Tentu tidak aneh kalau dalam iklim demikian lalu muncul pemikiran-pemikiran baru yang menghendaki agar industri lebih berorientasi ke luar, memproduksi barang-barang untuk diekspor, daripada hanya melayani pola konsumsi tinggi di dalam negeri. Atau dalam bahasa yang empunya istilah, lebih outward looking daripada inward looking. Kekisruhan ini juga memberi momentum kepada apa yang disebut oleh Gunnar Myrdal dengan traditionalist ideology, yang membela produksi skala kecil, industri-industri sederhana, yang umumnya padat karya itu. Semacam Neo-Ghandiisme pun tumbuh subur, yang lebih bersimpati kepada akar rumput daripada ujung pencakar langit. Dan etos keadilan sosial, jadi lebih santer terdengar, mengatasi lomba mengejar “pertumbuhan” atau “dorongan besar” yang selama ini sering didengung-dengungkan.

Semuanya itu mengundang renungan kembali tentang strategi dan arah industrialisasi. Sebab di sinilah kiranya bentuk transformasi masyarakat kita di kemudian hari akan ditentukan. Maka, edisi kita tentang industri inipun bisa menjadi bahan renungan akhir tahun, semacam pengantar kepada ambang yang baru, yang mudah-mudahan lebih cerah daripada kemaren.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan