Prisma

Gerakan Mesianis dan Aspirasi Petani: Sebuah Pengantar*

Rabu malam, 5 April 1916. Sekelompok “perusuh” mementaskan tari topeng di depan Villa Nova, rumah kediaman Lady Rollinson, pemilik tanah partikulir di Cililitan Besar. Massa berkerumun menyaksikan tarian itu, yang berlangsung dengan tenang sampai jam 11 malam. Sebelumnya, seorang “tuan tanah partikulir” di Tanjung Oost telah dilempari batu ketika sedang mengemudikan mobilnya di dekat sebuah jembatan. Kerusuhan juga telah terjadi ketika para pejabat menyita rumah Taba, seorang petani kecil yang oleh Landraad Jatinegara (Meester Cornelis) dijatuhi hukuman denda f 7.20 karena tak mampu membayar sewa tanah. Rumahnyapun hanya laku f 4.60 ketika dilelang. Massa berkerumun untuk menghalangi pelelangan, tetapi tak bisa berbuat lain kecuali menyumpah dan mengumpat. Deretan kerusuhan ini telah menarik perhatian Wedana Jatinegara. Entong Gendut, yang diduga hadir dalam kerusuhan di rumah Taba dan memimpin demonstrasi tari topeng di Villa Nova itu, dipanggil melalui mantri polisi. Konon, Entong Gendut membenarkan perlawanan petani kecil terhadap polisi kolonial, yang menjual dan membakari rumah mereka, semata-mata demi kepentingan “kaum srani”. Ia mengutuki warga kampung yang telah minum “air srani”, yang nama-namanya telah dimasukkannya dalam daftar catatannya. Sepanjang pembicaraan dengan mantri polisi itu, Entong Gendut mengenggam sebilah keris sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ketika ia berteriak: “Kuhunjamkan kakiku ke bumi maka bumipun menjadi lautan” sepasukan rakyat bersenjata muncul dari semak-semak. Jumlah “perusuh” yang banyak itu tidak memungkinkan polisi untuk menahan Entong Gendut. Lima hari kemudian, Wedana Jatinegara dengan dikawal oleh sepasukan polisi mengepung rumah Entong Gendut. Wedana memintanya keluar. Entong Gendut muncul sesudah menunaikan sembahyang, membawa sebilah tombak yang dibungkus kain putih dan bendera merah dengan bulan sabit putih. Dengan suara lantang ia memproklamirkan diri sebagai “raja” yang tidak tunduk kepada siapapun. Wedana kemudian berunding dengan komandan polisi tentang apa sebaiknya yang harus dilakukan. Sementara itu Entong Gendut berjalan ke halaman sambil berteriak: “Anak-anak.” Panik oleh munculnya pasukan dari semak-semak, polisi melarikan diri dan wedana yang malang itu mencari persembunyian di sebuah rumah kosong. Ia ditangkap kemudian dan dibawa menghadap pimpinan gerakan. Kepadanya, Entong Gendut mengatakan bahwa ia adalah Imam Mahdi yang memelihara tanah Jawa, yang akan memerangi tentara Jepang yang sebentar lagi akan menaklukkan Jawa. Ia merasa kasihan terhadap nasib sesama warga desa yang rumahnya dibakar karena tak mampu membayar hutang. Penangkapan wedana itu amat mengejutkan para pejabat Belanda. Asisten Residen sendiri kemudian memimpin pasukan penyelamat yang disambut oleh sepasukan “perusuh” yang membawa bendera merah dan meneriakkan semboyan:


* Disiapkan oleh Aswab Mahasin dan Daniel Dhakidae.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan