Prisma

Kritik & Komentar

MNC dan susu botol

Gambar susu botol sebagai ilustrasi Prisma nomor 4, 1977, yang membahas bantuan luar negeri sungguhlah tepat. Terlebih dari sekedar ilustrasi, masalah susu botol itu sendiri merupakan suatu contoh kasus cara operasi MNC (Multinational Corporation) dan akibat-akibatnya. Pola konsumsi-ya, bahkan pola konsumsi bayi-bayi sekalipun-ternyata berada dalam kendali MNC yang perkasa dan partner-partner mereka di dalam negeri. Secara pelan tetapi pasti, dimulai dari kota-kota, pola menyusui dengan air susu ibu kini mulai digantikan oleh susu bubuk yang dipromosikan dengan gencar oleh produsen-produsennya. Di Afrika masalah ini sudah mencapai tahap yang mencemaskan karena juga ibu-ibu di pedesaan dan kampung-kampung yang tergolong kurang mampu memaksakan diri untuk memakai susu bubuk karena terpengaruh kampanye promosi yang agresif itu. Hal ini berakibat merajalelanya penyakit infeksi, terutama diare (karena kebersihan botol tidak terjamin), dan malnutrisi (karena susu tersebut diberikan dalam bentuk terlalu encer). Kombinasi infeksi dan malnutrisi merupakan ancaman kesehatan yang gawat, yang tidak sedikit makan korban di antara bayi dan anak-anak. Lahirlah sebuah penyakit baru: “Commerciogenic malnutrition”. Di Indonesia keadaannya belum seburuk itu namun sudah mulai nampak gejala-gejalanya di kota-kota besar. Kinilah saatnya kita mengarahkan perhatian kita secara sungguh-sungguh pada masalah tersebut sebelum terlambat. Pagi-pagi kita harus menyadari bahwa beralihnya pola konsumsi dari susu ibu ke susu botol akan merupakan suatu malapetaka bagi jutaan bayi kita di pedesaan dan kampung-kampung di kota, bagi siapa air susu ibu merupakan sumber protein dan kalori yang terpenting. Kita perlu mengaji kembali langkah-langkah yang telah kita ambil di pelbagai bidang dengan lebih cermat, melihat implikasinya terhadap status gizi anak-anak kita. Pertimbangan-pertimbangan tentang gizi tersebut harus ikut mendasari rumusan kebijaksanaan kita tentang modal asing (dan juga modal dalam negeri) yang bergerak di bidang industri dan pemasaran susu bubuk. Demikian juga kita pemikirkan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru untuk mengatur dan membatasi kegiatan promosi susu bubuk, sebagaimana juga telah dilaksanakan bahkan oleh beberapa negara maju (Inggeris, Skandinavia). Sekaligus perlu dilancarkan kampanye yang intensif dan sistematis tentang manfaat dan kelebihan air susu ibu sebagai makanan bayi. Semuanya itu untuk menjaga agar kebiasaan menyusui yang sehat yang masih dianut sebagian besar ibu-ibu kita, dapat kita pertahankan. Apa yang kini sedang berlaku adalah semacam pertarungan yang amat tidak seimbang dalam memperebutkan suatu pola konsumsi: MNC yang perkasa melawan bayi-bayi kita yang tidak berdaya. Tanpa adanya campur tangan yang mantap dan terarah dari pihak pemerintah, kita tahu siapa akan jadi pemenangnyą. Soalnya kini, apakah akan kita biarkan hal tersebut terjadi hanya demi membela prinsip “kebebasan pasar”?

LUKAS HENDRATA Yayasan Indonesia Sejahtera Jl. Wahid Hasyim 153A Jakarta Pusat.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan