Prisma

Pengantar Redaksi

Telah dua kali ini Prisma mengetengahkan masalah-masalah sejarah dalam edisi bulan Agustus. Kali ini agak istimewa sifatnya. Empat rubrik tetap-dialog, tinjauan buku, kegiatan ilmiah serta kritik dan komentar-terpaksa ditiadakan untuk menampung tulisan yang umumnya panjang-panjang itu. Kalau kali ini kita berbincang tentang orang-orang yang gagasan maupun tindakannya ikut mempengaruhi jalan sejarah negeri ini, samasekali bukan maksud kita untuk menggaris bawahi pandangan, bahwa sejarah adalah “tak lain dari riwayat hidup orang-orang besar”, seperti pernah ditulis Thomas Carlyle di tahun 1841. Sejarah jauh lebih besar dari sekedar riwayat tokoh-tokohnya dan ada begitu banyak faktor yang turut mempengaruhi ragam, corak dan jalannya.

Telah diduga, bahwa pilihan orang-orang yang kita ketengahkan dalam nomor ini akan mengundang pertanyaan. Barangkali malahan kritik atau protes keras. Sebab di sini pahlawan dan pengkhianat hadir bersama-sama. Ada Sukarno, Soedirman, tetapi ada juga Kahar Muzakar dan Amir Sjarifudin. Sumbangan mereka terhadap sejarah juga tidak sama. Ada tokoh yang dikenal luas di seluruh dunia seperti Sukarno, tetapi ada juga tokoh yang kita sendiri hampir-hampir tidak kenal lagi seperti Rahmah El Yunusiyyah.

Kalau saja mereka masih hidup-kita sengaja memilih yang sudah tiada-barangkali mereka akan menolak dihadirkan dalam suatu ruangan seperti ini. Mungkin mereka akan segera terlibat dalam perdebatan sengit. Tentang Tuhan, tentang revolusi, tentang demokrasi, tentang kapitalisme atau sosialisme, tentang pendidikan bangsa atau tentang nasib Republik ini.

Tetapi betapapun berbedanya mereka satu per satu, mereka adalah orang-orang sezaman. Mereka adalah produk dari suatu masa, ketika tatanan lama sedang menuju kebangkrutan, ketika ufuk baru masih samar-samar terlihat dan manusia sedang mencari-cari jalan ke luar dari kemelut. Penjajahan sedang mendekati titik habis, sementara bentuk baru nasionalisme sedang dirintis. Peristiwa-peristiwa besar terjadi secara beruntun: perang dunia, malaise, persaingan pengaruh antara “isme-isme” dunia, munculnya gerakan-gerakan kebangsaan, penjajahan yang mati-matian bertahan dan perlawanan yang terus saja menjadi-jadi. Mereka muncul sebagai tokoh masyarakatnya pada saat yang kelam ini, ketika “waktu” dan “perubahan” sedang seru berpacu.

Begitulah sebagian mereka ini telah menjadi tokoh legendaris, yang potret dirinya sarat dengan nilai-nilai yang dipatrikan orang kepadanya. Sebagian mereka tak tampak lagi sebagai sebuah pribadi manusia yang lumrah, tetapi telah menjadi personifikasi nilai: pahlawan yang agung, pengkhianat, tiran, demokrat sejati, ekstremis, revolusioner, humanis dan sederetan predikat besar lainnya.

Nomor ini berusaha mengungkapkan tabir nilai-nilai itu dan mencoba memahami mereka sebagai manusia: bagaimana mereka hidup, mengembangkan diri, berinteraksi dengan masyarakat dan zamannya, serta memberikan refleksi dan sumbangan kepada jalannya sejarah.

Tidak semua mereka merupakan “jenius” zamannya-orang-orang yang dalam pandangan Hegellian dimunculkan oleh keharusan sejarah untuk pada saat yang tepat menggiring pengikutnya kepada kepastian sejarah yang telah ditentukan. Sebagian mereka memang telah memancarkan semacam kilatan cahaya dalam zaman yang gelap dan bergolak itu-untuk mana mereka dikenang hingga sekarang-sebagian lagi mungkin hanya membawa sepotong lilin. Yang lain mungkin meledakkan mesiu dan membakar. Tetapi satu hal adalah jelas: mereka telah berbuat. Mereka telah melakukan pilihan dan menjawab tantangan zamannya. Barangkali saja riwayat mereka bisa membawa kesan, bahwa betapapun kemelutnya zaman, umat manusia memang berhak akan secercah harapan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan