Pengantar
“Dialog” kali ini menampilkan aneka pendapat tentang kritik sosial di negeri kita. Baik mengenai sarana penyampaian kritik, gaya pengemukaan koreksi, maupun perilaku kita sendiri jika berhadapan dengan kritik itu. Kritik telah ditakdirkan lahir sebagai cermin. Lewat cermin itu kita melihat wajah kita sesungguhnya. Di depan kaca, orang cenderung melihat kejanggalan pada dandanan, serta mematutnya kembali. Maka kritik pun cenderung mengungkapkan kekurangan-kekurangan. Haji Rosihan Anwar dan Jakob Oetama memberikan beberapa pendapat yang sedikit banyaknya mencerminkan dilema yang mereka hadapi sebagai orang-orang pers. Seorang gurubesar IPB, Andi Hakim Nasution, punya segi penglihatan tersendiri buat masalah ini, sementara Taufiq Ismail berbicara lewat penghayatan seorang sastrawan. Sebagai warga dari negara yang demokratis, kita memang berhak untuk berbeda pendapat. Namun, bagaimana kelakuan kita dalam berbeda pendapat, sampai berapa jauh kita mau mendengarkan koreksi, dan adakah kita berlapang-dada kalau “cermin itu melaporkan kekurangan”–rupanya masih perlu kita pertanyakan kembali. Redaksi.
Kritik sosial dan surplus kekuasaan, H. Rosihan Anwar, Ketua Pembina PWI Pusat
Orang yang memegang kekuasaan memang bisa selalu digoda oleh rasa tidak percaya pada diri sendiri. Perasaan demikian akan selalu ada, walaupun kedudukannya terlihat sangat kuat. Ketidak-percayaan pada diri sendiri ini, adalah salah satu sebab, kenapa orang begitu peka terhadap kritik yang ditujukan padanya.
Tetapi untuk negeri kita sekarang, saya tidak percaya bahwa pemerintah tidak yakin pada dirinya. Menurut saya, pemerintah sekarang begitu kuat. Dia sungguh sangat yakin akan dirinya. Entah, kalau pengamatan saya ini salah.
Kultur adalah juga salah satu sebab yang membuat kita sensitif menerima koreksi yang dilancarkan. Cuma jangan kita samaratakan. Dalam kultur Jawa misalnya, ada nilai-nilai yang mengajarkan, bahwa jangan menegur orang di depan umum, apalagi dihina. Jika ada kesalahannya tunjukkanlah dengan baik. Dalam hal ini ada unsur malu. Masyarakat kita di Sulawesi Selatan, juga mengenal hal yang hampir sama. Di daerah itu kita mengenal adanya siri. Sangatlah berpantang, nama kita sampai cemar di mata orang. Demikian juga halnya dengan masyarakat Minangkabau. “Ambo kalau dibuek malu di muko urang rami, ambo indak sanang.” (Saya kalau dibikin malu di depan umum, saya tidak senang).

Menunjang keterbukan, Jakob Oetama, Pemimpin Redaksi Kompas
Kebudayaan kita berkembang dan berubah. Dengan sengaja memang kita mau merubah dan mengembangkan kebudayaan. Itu esensi dari pembangunan. Perubahan ke arah yang kwalitatif lebih baik. Yang lebih menunjang usaha untuk mengembangkan pribadi orang semaksimal mungkin. Kita mengakui bahwa dalam sistem nilai kebudayaan kita ada beberapa hal yang tidak baik, yang perlu kita tinggalkan. Yang disepakati untuk ditinggalkan. Karena itu, persepsi mengenai kritik yang memperhatikan kerangka referensi harus juga diberi arti dinamis. Artinya, sekalipun kritik itu memperhatikan kerangka referensi kebudayaan, tetapi tetap disertai usaha semakin mengembangkan kebudayaan itu sendiri. Justru karena inilah lalu sering timbul konflik-konflik yang lebih banyak, lebih frekwen daripada misalnya negara lain yang sudah lebih maju dalam bidang ini. Intensitas dari perubahan pada kita lebih hebat.
Kedua, karena ini menyangkut kekuasaan, maka memang ada hubungannya dengan sistem politik yang berlaku. Sistem politik itu bisa menunjang, atau bisa menghambat. Dalam kaitannya dengan sistem politik, saya berpendapat persepsinya juga harus tetap dinamis, dalam arti kita harus mengusahakan agar sistem politik yang berlaku dalam praktek, juga semakin menunjang kritik yang terbuka. Kritik yang lugas. Kritik yang lebih jelas. Karena tujuan kita ialah supaya masyarakat itu lebih terbuka. Sebab salah satu aspek dari kehidupan demokrasi.

Jangan terlalu berharap pada sastra, Taufiq Ismail, penyair
Seorang pengarang adalah pengamat masyarakat. Sebagai pengamat dia menyaksikan keadaan masyarakatnya, mencatatnya di dalam ingatan atau tertulis, kemudian menuangkannya ke dalam sastra tulisan. Dengan demikian sukar dihindarkan hadirnya perasaan si pengarang, seperti rasa haru apabila menemukan hal-hal yang mengharukan, rasa gembira apabila menemukan sesuatu yang menyenangkan, kritik ataupun protes terhadap hal-hal yang tidak benar. Tirani dan Benteng misalnya, dua kumpulan sajak saya yang dinilai banyak mengandung kritik sosial, muncul dari pengamatan terhadap situasi pada masa pra–Gestapu dan kebangkitan generasi muda tahun 1966. Ketika masih menjadi mahasiswa saya aktif dalam gerakan-gerakan mahasiswa. Saya merasakan banyak sekali hal-hal yang tidak beres. Saya mencatatnya, kemudian menuliskannya dalam bentuk puisi. Bahwa ada nada protes di situ, itu hanya merupakan letupan saja dari hal-hal yang sudah dierami cukup lama. Contoh lain dapat saya kemukakan sajak “Kembalikan Indonesia Padaku” yang saya tulis tahun 1972. Ketika itu, entah kenapa, saya dirundung pesimisme. Masalah kependudukan di Indonesia sangat menghantui pikiran saya. Saya melihat ruang hidup kita, menjadi sempit, terutama bagi kita yang tinggal di pulau Jawa. Ke manapun kita pergi di pulau ini, kita tidak pernah melihat lagi kaki langit, tanah, padi ataupun bukit lepas. Kita melulu melihat orang, rumah dan pondok.
tidak, kalau begini apa yang terjadi nanti di tahun 2000 seperti yang diramalkan orang itu. Dalam imaji saya, kita itu juga seperti dalam pertandingan pingpong yang terus-menerus. Tidak jelas siapa yang kalah siapa yang menang. Aturan permainanpun tidak jelas. Anehnya, bola itu tidak bulat, melainkan seperti telur angsa. Bagaimana kita main pingpong dengan bola yang tidak bundar? Kemudian, dalam bayangan itu tiba-tiba Indonesia lepas dari jari-jari tangan saya, seolah-olah sebelumnya Indonesia itu sedang saya genggam.
Saya setia dengan imaji yang datang itu. Kemudian saya tulis. Ternyata setelah menjadi milik publik dinilai mengandung kritik. Mahasiswa LPKJ misalnya menjadikan puisi ini sebagai tema pembacaan sajak yang banyak mengandung protes, pada peringatan hari ulang tahun kemerdekaan. Kalau publik menafsirkan sebagai protes, menurut saya itu hal yang wajar. Setelah puisi menjadi milik umum ia menjadi terbuka untuk semua penilaian.

Untuk mengritik, fahami dulu masalahnya, Andi Hakim Nasution, Direktur Sekolah Pasca Sarjana IPB.
Kalau saya dikritik tanpa alasan, saya juga marah. Dan jika ada kritik yang memberikan alternatif, akan saya terima. Kritik, sebetulnya bukan asal kritik. Saya fikir kita perlu mendidik diri kita dalam cara mengritik, dan juga jangan sampai mengritik untuk kepentingan pribadi. Ada orang yang dengan tujuan tertentu, berani berbohong dalam kritik. Kritik yang begini tidak sehat. Tentunya orang akan marah menerima kritik macam itu, apalagi pemerintah. Sebaiknya kita mengritik dengan memberikan jalan ke luar, dan akan lebih baik lagi kalau kita mengoreksi dengan dasar pengetahuan yang benar-benar kuat. Ketika kasus penyelundupan ramai dibicarakan, ada mahasiswa yang datang pada saya dan mengatakan bahwa sebaiknya mahasiswa IPB juga turut bersuara dalam hal itu. Lantas saya katakan kepada mereka, “Apa yang kau ketahui tentang penyelundupan? Bidang kamu pertanian. Sebaiknya apa yang kalian lihat pada waktu menjalani kuliah kerja nyata di desalah yang dilaporkan. Berikan data pada pemerintah–kalau mungkin tidak usah lewat suratkabar–itu akan lebih baik.”
Kebudayaan manusia
Saya tidak tahu, apakah kepekaan kita terhadap kritik–tidak mau dibuat malu–adalah kebudayaan kita. Mungkin ia kultur manusia. Kita bisa melihat bagaimana di Amerika orang menghantam orang lain lewat suratkabar. Tetapi ternyata di balik itu ada pula keterbatasan. Pada suatu ketika saya mengirim surat kepada majalah Time untuk rubrik surat pembacanya. Surat itu bersumber dari olok-olok Menteri Pertanian Amerika Serikat. Guyonnya itu berbau rasialis dan sedikit porno. Ada orang yang mengritik dia, dan menulis apa yang salah dengan orang Amerika–apa yang salah pada orang Amerika. Orang Amerika tidak mau pemimpinnya berkata demikian. Saya kenal penulisnya. Saya tulis, bagaimana kalian mencari pemimpin di antara masyarakat yang kehidupan sehari-harinya memang demikian. Kemudian saya menerima jawaban dari Time bahwa surat saya sudah diterima, tetapi sayang tidak dapat dipublikasikan. Jadi, ternyata kita juga tidak bebas melancarkan kritik di sana, apalagi kalau yang mengritik itu orang asing yang berkulit coklat. Ternyata ada juga keterbatasan dalam mengemukakan pendapat.
