Pengantar
Sepanjang umurnya hingga kini, perguruan tinggi di Indonesia tetap jadi sasaran keluhan. Sepanjang umurnya itu, hingga kini, dunia pendidikan tinggi Indonesia diramaikan pula oleh berbagai rupa perguruan tinggi. Di sekitar itu beberapa masalah lain juga sering dipersoalkan. Baik yang namanya drop out, daya tampung universitas, sikap masyarakat melihat perguruan tinggi, dana, maupun mutu sarjana dalam hubungannya dengan kebutuhan masyarakat dan sebagainya. Itulah yang hendak diperbincangkan lewat “Dialog” kali ini.
Beberapa waktu yang lalu orang agak “mencela” kedudukan universitas sebagai menara gading. Namun bagi Direktur LEKNAS-LIPI, Dr. Taufik Abdullah, seyogianya tidak semua para ahli dalam lembaga itu harus ke luar dari menara tersebut untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jika ini yang terjadi, dikhawatirkan akan diperoleh hasil yang “dangkal.” Dia malah melihat, perlu ada orang-orang yang tuli telinganya terhadap soal-soal kemasyarakatan, dan padanyalah dibebankan tugas mencari masalah-masalah yang tersembunyi.
Bagi Prof. Dr. Ir. A. M. Satari, universitas seharusnya membawa kebudayaan ke arah yang lebih baik. Untuk itu, Rektor Institut Pertanian Bogor ini menghendaki agar setiap sarjana memiliki missi sendiri di kala sudah berada di tengah masyarakat. Pada pendapatnya, sarjana tidak sekedar bekerja untuk digaji, tidak menjadi “tukang tingkat tinggi,” tetapi dia harus mampu melihat keadaan di sekitarnya dan dengan sadar harus berbuat untuk itu.
Apakah universitas sudah berbuat banyak untuk membawa kebudayaan ke arah yang lebih baik? Salah satu dharma yang ditunaikan universitas, yakni penelitian, dipandang Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar belum mampu menunjang perkembangan ilmu pengetahuan. Dan gurubesar, bekas Direktur LEKNAS-LIPI serta pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra UI ini juga melihat bahaya disintegrasi nasional di balik perkembangan universitas-universitas daerah.
“Dialog” kita kali ini, merangkum cukup banyak persoalan. Hanya saja ia tak berhasil menampilkan pendapat dan pandangan pihak yang menjadi konsumen produk universitas. Yang berbicara adalah “orang-orang dalam”, yakni mereka yang masih berhubungan dengan kegiatan perguruan tinggi itu sendiri.
Kendatipun begitu, lewat pembicaraan tiga tokoh ini, kita berusaha mendapatkan gambaran tentang keadaan para lulusan perguruan tinggi kita. Red.—
Musuh utama universitas adalah kerutinan, Taufik Abdullah, Direktur LEKNAS-LIPI.
Kalau kita ikuti sejarah perkembangan universitas, pada mulanya ia adalah usaha dari kaum elite, orang pilihan, golongan bangsawan atau mereka yang punya leisure untuk belajar guna memenuhi kehausan akan ilmu pengetahuan. Ketika itu keunggulan akademik sangat dipentingkan. Kemudian barulah universitas dihubungkan dengan kegunaannya bagi masyarakat. Pada masa kolonial universitas diperkenalkan Belanda dalam bentuk sekolah-sekolah tinggi seperti sekolah tinggi hukum dan teknik. Keperluannya terutama menampung orang-orang Belanda yang ada di sini serta sebagian kecil orang Indonesia yang mampu. Dari sudut struktur masyarakat kolonial, dengan kelas-kelas sosial yang terdiri dari Belanda, Timur Asing dan Pribumi bisa dimengerti bahwa universitas ini juga sangat elitis. Sehingga pada waktu revolusi Indonesia pecah hanya beberapa orang Indonesia yang menjadi lulusan universitas atau sekolah tinggi tersebut.
Revolusi telah melahirkan hasrat yang besar sekali terhadap demokratisasi pendidikan. Salah satu jasa revolusi menurut hemat saya adalah dimungkinkan orang banyak mencapai kedudukan atau status sosial yang lebih tinggi, berkat pendidikan yang dipunyai. Karena itu di dalam masyarakat kita muncul anggapan bahwa universitas adalah kunci untuk sukses. Universitas menjadi simbol kebanggaan. Karena setiap orang ingin terlibat dalam proses mobilitas sosial, yang di bawah mau naik ke atas maka titel universitas dianggap sebagai tiket untuk menaikkan status. Terhadap titel tidak hanya ditaruhkan harapan yang bersifat akademis, tetapi juga status dan kemungkinan mobilitas yang vertikal. Universitas tidak hanya menjadi simbol kebanggaan masyarakat, tetapi juga kebanggaan daerah. Daerah merasa bangga kalau sudah memiliki universitas, mencetak sarjana. Akibatnya, berdirilah puluhan universitas di negeri kita. Harus diingat bahwa berdirinya universitas-universitas di daerah sebagian besar adalah inisiatif daerah sendiri.
Jadi masalah yang pada mulanya ideologis, yaitu demokratisasi kemudian menjadi bersifat sosiologis yaitu pemenuhan keinginan masyarakat. Keinginan yang sifatnya sosiologis ini kemudian dipenuhi oleh kekuasaan politik.
Pemahaman terhadap seluruh konteks historis-sosiologis-politis di mana universitas kita berada saya pikir perlu sebelum kita melihat masalah-masalah yang dihadapi universitas di Indonesia.


Sarjana bukan sekedar “tukang tingkat tinggi”; A.M. Satari, Rektor Institut Pertanian Bogor
Memang sering kita mendengar keluhan terhadap universitas. Misalnya mengenai keunggulan akademik. Menurut hemat saya, jika mau mempersoalkan masalah ini, harus kita lihat beberapa faktor, yakni: kesempatan, suasana serta fasilitas yang belum memungkinkan Indonesia menghasilkan sarjana dengan tingkat kehebanan dalam bidang ilmunya. Faktor-faktor ini tidak dapat kita abaikan. Tenggelamnya kebanyakan lulusan universitas yang advanced—yang pasca—di tempat kerjanya, juga merupakan masalah. Ia menjadi orang yang begitu sibuk, dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk diam. Jangan dilupakan, bahwa untuk menghasilkan prestasi yang besar, orang membutuhkan waktu untuk diam, berkonsentrasi buat memikir. Entah di perpustakaan, di laboratorium atau di mana. Dari segi manusianya, saya yakin orang Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain. Saya pernah belajar di luar negeri dan saya berkesimpulan demikian. Manusia kita tidak kalah dengan manusia dunia luar manapun juga. Hanya saja, faktor di luar manusia—kesempatan dan fasilitas—yang harus kita lihat kembali. Dan juga harus cepat kita sadari, bahwa kelemahan-kelemahan yang dikandung universitas kita, harus segera diperbaiki.


Penelitian yang dilakukan, tidak menunjang perkembangan ilmu, Harsja W. Bachtiar, Gurubesar Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Perkembangan sejarah kita yang berlangsung sedemikian rupa adalah salah satu sebab rendahnya keunggulan akademik yang sering jadi keluhan dewasa ini. Di saat baru merdeka dahulu sedikit sekali tenaga ahli kita dalam bidang-bidang ilmu tertentu di perguruan tinggi. Pada masa sebelumnya, Belanda hanya mendirikan sekolah-sekolah tinggi di bidang hukum, kedokteran dan teknik saja. Sastra dan jurusan pertanian baru saja dibuka ketika Perang Dunia II dimulai. Dan pada masa pendudukan Jepang tidak banyak yang dikerjakan dalam dunia perguruan tinggi. Itulah sebabnya pada tahun 1950-an—sesudah Belanda mengundurkan diri—tenaga ahli kita yang memiliki ijazah sarjana amat langka. Akibatnya, ada ahli tertentu—terutama dalam bidang hukum—yang ditugaskan mengajar dalam bidang ilmu sosial yang bukan keahliannya. Mereka yang pertama kali diangkat, dan mereka akhirnya menjadi gurubesar yang pertama. Gurubesar sosiologi, politik dan sebagainya memiliki latarbelakang pendidikan ilmu hukum. Pengetahuan yang mereka berikan kepada mahasiswanya tidak sebagaimana mestinya, karena sesungguhnya pengetahuan yang menjadi tanggungjawabnya itu tidak dikuasai sebagaimana seharusnya. Ada kecenderungan mengajar dengan penafsiran sendiri. Para dosen yang kini jadi pengajar di bidang ilmu sosial adalah murid-murid dari guru yang demikian.
di Filipina dan India jauh lebih tua dari yang kita miliki. Kita lebih muda. Tetapi hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan hal ini: rendahnya keunggulan akademik. Kita sudah cukup lama merdeka, dan waktu untuk mengadakan perbaikan cukup banyak.
