Pengantar
Sejak 1978 ini pada setiap nomor 3, 6, 9, dan 12 Prisma menghidangkan sebuah laporan khusus, yang topiknya mungkin berbeda atau bisa pula sama dengan topik edisi bersangkutan. Laporan khusus kali ini mengambil tema yang sama dengan topik edisi April, yakni “desa”. Prisma menyajikan laporan mengenai desa Cileban, sebuah desa di Jawa Tengah bagian Selatan. Lima hari lamanya (3 s/d 7 April) Team Prisma berdiam di sana untuk mengumpulkan bahan. Seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor, yang selama 6 bulan menjalankan KKN di desa tersebut, seorang peneliti yang sarjana anthropologi mendampingi Team Prisma. Merah.-
Seorang bayi sembilan bulan menangis dalam gendongan neneknya pada suatu tengah hari. Kedua orangtuanya bekerja di sawah di desa Cileban, bagian selatan Jawa Tengah. Dengan langkah perlahan serta sorot mata kuyu, si nenek berjalan hilir-mudik di halaman sambil membujuk sang cucu dalam bahasa Jawa kromo. Namun si bayi terus menangis. Tangannya menggapai ke luar kain gendongan. Tak ada suatu apapun yang bisa diberikan perempuan tua ini agar cucunya kembali tenang. Akhirnya dia sodorkan payudaranya, dan si kecil mulai mengemot. Buah dada yang kempes itu tak setetespun mengeluarkan air susu, tetapi tangis si bayi berhasil dihentikan. Nenek dan cucunya ini, bagaikan Cileban dan 541 manusia yang hidup di desa itu. Desa sejuk di lereng gunung dengan medan berbukit-bukit ini, terletak 28 kilometer dari B kota kabupatennya. Dengan colt jarak itu dapat ditempuh selama 45 menit lewat jalan yang menanjak, ditambah lagi satu jam berjalan kaki. Kampung yang berketinggian seribu meter di atas muka laut itu berdiri di atas tanah yang menurut analisa Laboratorium Departemen Ilmu-ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor akhir 1976 yang lampau, tergolong kritis. Lapisan tanah pertaniannya sangat dangkal, tekstur tanah liat dan sedikit berpasir. Pada beberapa tempat, profil tanah masih mengalami pelapukan. Di atas tanah inilah terbentang 80 hektar sawah serta 40 hektar tegalan yang digarap kawula Cileban dengan corak pertanian ekstensif. Baru satu kali mereka ikut Bimas jagung untuk 10 hektar tanah pada tahun 1976. Tetapi menurut penduduk di sini, hasil yang diperoleh tidak meningkat. “Ikut Bimas atau tidak, sama saja,” kata lurahnya. Sekarang mereka kembali kepada cara mereka yang lama.








