Prisma

Kritik & Komentar

Akibat pembangunan yang tak seimbang

Dalam pembangunan pemerintah menggalakkan industri dengan dalih ingin memajukan bangsa, agar kedudukannya setaraf dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju di dunia. Nota bene, hanya dengan industrialisasi negara akan dapat maju dan industrialisasi ini juga bertujuan agar jangan terlalu tergantung dengan barang-barang impor. Menurut Saudara S. B. Joedono dalam Prisma edisi Februari 1978, kebijaksanaan substitusi impor yang ditempuh, mengakibatkan kelebihan produksi sehingga bingung untuk memperluas pasar. Untuk mengatasi adalah dengan diversifikasi ekspor, dan juga terpikir untuk ekspor barang-barang manufacture. Saya masih ragu, apakah kelebihan tersebut memenuhi kebutuhan dalam negeri? Jika memang dugaan itu benar, berarti kita juga mengalami kesulitan pemasaran dalam negeri, dan ini menurut hemat saya disebabkan karena permintaan efektif dalam arti nyata (bukan dalam arti moneter) lemah. Dan ini merupakan konsekwensi dari pembangunan yang tidak seimbang yang akhirnya akan menjauhi salah satu strategi pembangunan, yaitu “perataan pendapatan”. Jalan ke luar dengan melaksanakan diversifikasi ekspor dan juga terpikir untuk mengekspor barang-barang manufacture, masih perlu dipertanyakan, apakah kita mungkin dapat bersaing di pasar bebas terutama untuk barang-barang manufacture? Justru karena itu, sebaiknya kita memperluas pasar dalam negeri dulu. Mengapa S. B. Joedono skeptis terhadap usaha penekanan konsumsi karena pelaksanaannya sulit. Dan perlu diketahui demonstration effect terjadi pada mereka yang berpenghasilan tinggi. Kalau memang penguasa di negeri kita berjiwa kerakyatan dan memiliki kemauan untuk itu, saya rasa tidak ada kesulitan. Tapi, justru karena tekad politiklah yang tidak ada, maka pelaksanaan dikatakan sulit. Sudah saatnya bagi kita untuk berani mengadakan lompatan jauh ke depan. Janganlah Rusia dan Cina mampu melakukannya, tapi bangsa kita tidak, karena hal-hal kebudayaan yang relatif dijadikan alasan. Saudara S. B. Joedono juga menolak pendapat, kalau mengutamakan pembangunan jalan raya hanya akan memperkuat posisi kota. Ini ada benarnya, dan ada tidak benarnya, karena dengan prasarana angkutan yang baik dan lancar ongkos satuan produksi menjadi murah. Tetapi pada saat ini barang-barang produksi mengikuti hukum keseimbangan atau pasar bebas, hanya tidak demikian halnya dengan barang-barang dari desa, beras misalnya. Menurut hemat saya untuk saat ini pembangunan jalan tersebut hanya akan memperkuat posisi kota. Menurut pengamatan S. B. Joedono yang diperlukan daerah adalah jalan raya. Dan untuk masalah listrik ini akan saya kutip pendapat seorang ahli ekonomi Belanda Prof Boeke, “Bahwa perataan listrik merupakan salah satu daripada perataan pendapatan.”

ACHMAD GAZALI Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan